Lupa Sandi?

Sepak Terjang Rodrigo de Villa Mengawali Film Berwarna Indonesia

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Sepak Terjang Rodrigo de Villa Mengawali Film Berwarna Indonesia

“Menakjubkan. Itulah Rodrigo de Villa film Indonesia pertama yang 100% memakai tatawarna. Tapi bukan karena itu film ini kini terasa menakjubkan. Dikenang kembali, ia mencerminkan sesuatu  yang mungkin ganjil tapi mungkin pula sudah semestinya: suatu zaman yang barangkali tak akan kembali.” Tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggirnya di Majalah Tempo pada tahun 1983.

Memang benar adanya, film Rodrigo de Villa menjadi legenda besar dalam perjalanan perfilman Indonesia karena film inilah yang jadi film berwarna pertama kali produksi Indonesia. Diproduksi pada 1952, Rodrigo de Villa sebenarnya merupakan film hasil kolaborasi antara Indonesia dengan Filipina. Kolaborasi pembuatan film ini dilakukan lantaran pada masa itu film Indonesia sangat terbatas pada teknologi terutama studio dan peralatan. Maka, film-film Indonesia kala itu kualitasnya masih sangat buruk.

Demi memperbaiki kualitas, Perseroan Artis Film Republik Indonesia atau Persari yang dipimpin oleh Djamaludin Malik, memberanikan diri melenggang keluar negeri untuk melakukan kerja sama dalam produksi film. Persari pun berhasil menggandeng studio film Filipina, LVN yang dipimpin oleh Dona Sisang. LVN menjadi studio yang dipilih oleh Djamaludin karena saat itu LVN menjadi laboratorium film dengan perangkat teknologi paling canggih di Asia Tenggara.

Poster film Rodrigo de Villa versi Filipina
Poster film Rodrigo de Villa versi Filipina

Meski hasil kolaborasi, Rodrigo de Villa diproduksi dalam dua versi, Filipina dan Indonesia. Untuk versi Indonesianya digarap oleh Rempo Urip, sementara Gregorio Fernandez menyutradarai versi Filipina sehingga bisa dikatakan film ini juga menjadi film Indonesia.

Rodrigo de Villa menceritakan tentang kerajaan Islam di Spanyol pada abad pertengahan. Dikisahkan kala itu Turki menyerbu Castille dan sang permaisuri istana, Isabella mengkhianati Raja Alfonso bersama seorang ningrat bernama Lozano untuk membantuk Turki. Setelah menyerbu ke dalam dan luar istana, akhirnya Raja Alfonso bersama seorang prajurit Rodrigo de Villa ditawan, sementara itu Isabella dan Lozano berhasil merebut kekuasaan Castille dan menjadi ratu dan raja.

Akhirnya, tibalah saatnya Raja Alfonso dan Rodrigo terbebas dari penjara atas penyelamatan dari Selima, putri dari pemimpin Turki. Setelah itu, bersama dengan saudara Rodrigo mereka melawan Raja Lozano dan prajurit Turki. Pun, dalam film ini juga dikisahkan cerita romansa Rodrigo dengan Jimena, putri dari Raja Lozano.

Meski digarap bersama LVN Filipina, Indonesia yang juga punya versi sendiri ini pun menggunakan aktor yang berbeda dari versi Filipina. Raden Mochtar didapuk menjadi pemeran utama Rodrigo de Villa sementara tokoh Jimena diperankan oleh Netty Herawaty. Raden Mochtar sendiri memang sudah menjadi aktor kawakan Indonesia pada masa pendudukan Hindia Belanda. Prosesnya sendiri film ini digarap di Filipina yang memang punya lebih banyak perangkat produksi film dan tentunya jauh lebih canggih.

Rd Mochtar dan Netty Herawaty dalam film Rodrigo de Villa
Rd Mochtar dan Netty Herawaty dalam film Rodrigo de Villa

Film ini nyatanya menjadi sepak terjang awal bagi dunia perfilman Indonesia yang lebih berwarna. Sukses membuat film Rodrigo de Villa yang penuh warna itu, tahun 1953 Persari dan LVN melanjutkan kerja samanya untuk membuat film kolaborasi lagi berjudul Leilani (Tabu). Film ini dibuat hanya dalam versi Indonesia dan masih disutradarai oleh Rempo Urip.

Pada 31 Oktober 1952, laman kantor berita nasional, Antara, dalam tulisannya memberikan harapan baik bagi dunia perfilman Indonesia.

“Film buatan maskapai film “Persari” ternjata membawa dunia film Indonesia satu langkah madju. Baik dalam opset tjeriteranja jang menaruh pemain2 Indonesia (a.l. Rd. Mohtar, Netty Herawati, Rd. Sukarno, Darussalam, Nana Nadjo, Awaluddin dan Astaman), maupun dalam hal tehnis, hasilnja menundjukkan tjukup daja kesanggupan para pembuat dan pemain film Indonesia untuk berbuat baik diluar kebiasaan “halamannja”.Demikian ditulis oleh Antara.

Dan sepuluh tahun setelah film Leilani (Tabu) rilis, Djamaludin membuat film berwarna lagi dan masih menggandeng studio dari Filipina, Sampaguita Pictures berjudul Holiday in Bali (1962). Sejak saat itu, tepatnya pada 1968 para sineas Indonesia mulai banyak memproduksi film-film berwarna yang semakin tahun semakin baik kualitasnya sampai saat ini.


*

GNFI


Sumber :

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie