Dikenal sebagai salah satu suku terbesar di Papua, Suku Asmat menyimpan begitu banyak kearifan dan kekayaan budaya yang terkandung dalam setiap aspek hidup mereka. Suku yang dipercaya sebagai keturunan dewa ini merupakan salah satu yang sangat menarik dan memiliki budaya yang cukup kuat dan mengakar turun temurun hingga saat ini. tidak hanya itu, Asmat merupakan suku yang sangat menghargai alam dan para pendahulu mereka. Penghormatan akan alam tidak hanya direpresentasikan dalam kesenian misalnya ukiran, tari – tarian dan lagu, namun terwujud dalam pakaian adat dan aksesoris tubuh.

Seluruh bahan dan desain pakaian Suku Asmat sangat terinspirasi dari alam. Dengan bahan utama rautan daun sagu, pakaian laki –laki dibuat menyerupai burung dan binatang – binatang lain yang melambangkan kejantanan. Sementara rok dan penutup dada untuk perempuan menggunakan daun sagu, lambang kecantikan burung kasuari.  Sumber daya alam menjadi bahan utama dalam kebutuhan papan Suku Asmat.

Penutup dada untuk perempuan Suku Asmat. Rajutan yang berasal dari alam (sumber : indonesiakaya.com)
Penutup dada untuk perempuan Suku Asmat. Rajutan yang berasal dari alam (sumber : indonesiakaya.com)

Tidak hanya pakaian, aksesoris tubuh pun demikian. Hiasan untuk tubuh seperti hiasan telinga, hidung, kalung, gelang, tas, hingga mahkota di kepala pun terinspirasi dari alam. Bulu burung kasuari, taring babi, batang pohon sagu, kulit kerang, gigi anjing dan bulu burung Cendrawasih menjadi bahan – bahan utama dalam masyarakat Suku Asmat untuk menjadikan aksesoris tubuh. Bukan karena keterbatasan, bukan asal – asalan. Pemilihan benda – benda tersebut untuk aksesoris merupakan sebuah cara bagaimana masyarakat Asmat merepresentasikan kedekatan mereka dengan makhluk hidup lain yang ada di sekitar mereka.

Secara lebih khusus, mahkota yang digunakan di kepala orang – orang Asmat melambangkan penghormatan tertinggi akan alam. Kepala adalah tempat tertinggi dari tubuh manusia, hal ini menjadi sebuah simbol bahwa masyarakat Suku Asmat memberikan penghormatan tertinggi kepada alam sebagai pemberi kehidupan  yang menaungi mereka. Benda – benda alami yang disematkan pada mahkota menjadi simbol akan kekuatan – kekuatan alam yang menjadi pelindung. Selain itu, khusus kepada kaum laki – laki Suku Asmat, penggunaan mahkota melambangkan penghormatan kepada nenek moyang dan leluhur sebagai pengaruh besar dalam kehidupan yang mereka jalani.

Hiasan telinga untuk laki - laki, digunakan ketika berburu (sumber : indonesiakaya.com)
Hiasan telinga untuk laki - laki, digunakan ketika berburu (sumber : indonesiakaya.com)

Selain itu, gambar – gambar yang melengkapi tubuh masyarakat Suku Asmat pun tidak lepas dari nilai filosofi. Penggunaan warna merah berasal dari campuran tanah liat dan air, sedangkan warna putih yang didapat dari tumbukkan kerang melambangkan perjuangan untuk mengarungi kehidupan. Masyarakat Asmat begitu lengkap dalam mengangkat penghargaan dan penghormatan pada alam sebagai bagian terbesar dari kehidupan mereka.

Penghormatan akan alam menjadi jati diri tersendiri dari Suku Asmat. Perpaduan antara filosofi dan nilai – nilai penghormatan kepada alam yang memberikan kehidupan pada manusia merupakan sebuah nilai universal yang sudah sepatutnya kita pelajari dari masyarakat Suku Asmat dengan menempatkan alam pada posisi tertinggi untuk dilindungi, dihargai, dan dilestarikan.


Sumber :indonesiakaya.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu