Lupa Sandi?

Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Hasilkan 16 Startup Untuk Diuji Sebelum Masuk Tahap Inkubasi

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Hasilkan 16 Startup Untuk Diuji Sebelum Masuk Tahap Inkubasi
Aplikasi Qline peserta Gerakan Nasional 1000 Startup Digital © Bagus DR / GNFI

Peserta Gerakan Nasional 1000 Startup Digital mulai menemukan timnya masing-masing dan membangun aplikasinya masing-masing. Konsep dan riset-riset telah mereka lakukan dan kini mereka memasuki tahap keempat, Bootcamp yang cukup menentukan. Dimana terdapat 16 perusahaan digital rintisan yang akan masuk dalam fase pengujian juri apakah layak untuk masuk ke tahap Inkubasi atau tidak. 

Dalam fase Bootcamp yang diadakan di ruang Anantakupa gedung Kementerian Komunikasi dan Informasi kemarin (13/11) tampak setiap tim startup mendemonstrasikan dan mempresentasikan aplikasinya masing-masing kepada para hadirin yang berkeliling. Tahap demo atau pameran tersebut merupakan salah satu bagian dari rangkaian tiga hari yang telah berlangsung sejak 11 November yang lalu.

Startup-startup yang tampil kemarin antara lain Fina, sebuah aplikasi financial advisor; Roo, aplikasi monitoring kesehatan untuk anak dibawah usia enam tahun; Qline, aplikasi yang memberikan solusi kemudahan dalam hal mengantri di layanan publik; Xparring, sebuah wadah dengan inovasi gaya baru dalam bertanding olahraga di Indonesia; Kulturistik, sebuah pasar daring yang akan menampilkan pertunjukan seni-budaya yang menghubungkan pelaku pertunjukan seni budaya untuk para turis asing ke Indonesia; Kweet, sebuah layanan transaksi yang mengkonversi struk fisik menjadi digital; OrderQ, platform yang menghubungkan orang dengan kebutuhan jasa dengan penyedia jasa.

Selain itu juga ada Ajarin, aplikasi mobile yang akan membantu orang tua menemukan, mengembangkan dan menyalurkan bakat anak; Lapak Tani, aplikasi movile yang akan memotong rantai distribusi kebutuhan tani dan memberikan kemudahan pengguna untuk berbelanja barang hasil pertanian; Panggilin, sebuah pasar daring jasa sesuai permintaan yang mempertemukan penyedia jasa dengan pengguna; Ruang123, aplikasi yang menawarkan kemudahan pemesanan lokasi acara untuk pernikahan, konser, ataupun seminar; Rilservis, platform yang akan meningkatkan pengalaman pelayanan pada pelanggan; Hom360od yang merupakan pasar daring untuk properti dengan fitur presentasi yang berbeda; Roosak.com, sebuah aplikasi yang akan mengatur proses pemeliharaan aset perusahaan; Mogo Apps, sebuah sistem financial technology yang memberi kemudahan saat berbelanja di warung; Dan yang terakhir Kuker, sebuah aplikasi minta tolong untuk kalangan mahasiswa.

Baca Juga

Pada puncak acara malam, setiap tim startup dituntut untuk bisa mempresentasikan perusahaannya di depan para juri yang telah hadir seperti Jaka Wiradisuria Head of New Product dari Rekan Usaha Mikro Anda (RUMA), kemudian Vishnu Mahmud Direktur Pengembangan Bisnis Ogilvy PR, Indrasto Budisantoso CEO Jojonomic dan Herbert Ang, Presiden Direktur Acer Indonesia. Mereka adalah para ahli dibidangnya masing-masing yang mengomentari dan memberi masukan terhadap startup yang tampil.

Ekspresi peserta saat presentasi menawarkan produknya kepada juri (Foto: Bagus DR / GNFI)
Ekspresi peserta saat presentasi menawarkan produknya kepada juri (Foto: Bagus DR / GNFI)

Indrasto Budisantoso yang juga berperan sebagai mentor dalam fase Bootcamp mengungkapkan bahwa aplikasi yang dibuat oleh peserta masih perlu banyak perbaikan, namun dirinya memotivasi agar tidak putus asa sebab Gerakan 1000 Startup Digital menjadi kesempatan yang bagus untuk mencari ilmu. "Meski nanti tidak lolos (ke fase inkubasi) tetap maju terus, minimal sampai benar-benar gagal," ujar Indrasto.

Sementara itu, Jaka dari Ruma menilai bahwa para peserta harus bisa menemukan sebuah alasan mendasar mengapa mereka membuat aplikasi yang mereka ciptakan. Aspek Why (mengapa) menurutnya penting untuk diperhatikan. "People don't buy what you do, people buy why you do it," ujarnya mengutip kata-kata penulis buku Start With Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action karya Simon Sinek. 

Dari sisi peserta, seperti Iqbal misalnya yang bersama timnya membangun aplikasi bernama Qline mengungkapkan bahwa untuk mencapai fase bootcamp saja dirinya susah payah hingga ketahanan fisiknya menurun. Hal tersebut tidak mengherankan sebab setiap peserta diharuskan untuk mampu membangun aplikasi dalam waktu singkat, bahkan juri menyebutnya sebagai "Projek Sangkurian".

Suasana saat para peserta melakukan pitching di depan juri (Foto: Bagus DR / GNFI)
Suasana saat para peserta melakukan pitching di depan juri (Foto: Bagus DR / GNFI)

Aplikasi Qline yang dibangun oleh Iqbal dan rekannya merupakan aplikasi yang memberikan kemudahan dalam hal mengantri. Seperti saat mengantri ke dokter di rumah sakit atau klinik misalnya. Antrian yang sangat panjang membuat masyarakat cenderung malas untuk berangkat ke rumah satki ataupun klinik padahal untuk mendapatkan penanganan mereka harus ditangani oleh ahli medis. Untuk itulah Qline berusaha mempermudah proses antrian menjadi jelas waktu dan reservasinya dan semua itu terekam dalam ponsel pintar. 

Kemudian juga terdapat peserta lain yang memiliki ide cukup menarik yakni membangun startup yang mampu untuk memberdayakan para budayawan Indonesia. Ryan bersama rekan-rekannya yang membesut startup bernama Kulturistik mengungkapkan bahwa idenya untuk memberdayakan para budayawan berangkat dari sebuah pertunjukan sinden yang tanpa disadari telah mengetuk rasa keprihatinnannya terhadap budaya Indonesia. Alasannya adalah karena saat itu Ryan bertemu dengan seorang sinden perempuan asal Jepang bernama Hiromi Kano yang mengatakan bahwa dirinya mencintai sinden dan tidak menginginkan budaya sinden punah.

"Saat mengetahui kata-kata itu, saya merasa terketuk, orang Jepang sampai segininya dengan budaya Indonesia dan itu menjadi turning point bagi saya untuk mencari-cari tentang budaya Indonesia," jelasnya.

Ryan pun mengungkapkan bahwa dirinya bersama tim telah bekerja sama dengan budayawan gasing asal Salatiga, Endi Aras untuk memulai misi kebudayaan lewat aplikasi. Tidak heran bila kemudian Kulturistik diapresiasi karena dipercaya memiliki dampak yang cukup besar di Indonesia. Meski begitu, dirinya berpesan bahwa untuk memasuki dunia startup diperlukan mental yang benar yakni tidak untuk kepopuleran tetapi untuk bisa menyelesaikan masalah. 

"Saran saya adalah jangan masuk ke startup bila tidak memiliki mental yang kuat. Saya sendiri sudah mengalami jatuh bangun beberapa kali, bangkrut. Jika memiliki niat untuk keren-kerenan mendingan tidak perlu ikut. Tetapi bila memang ada kegelisahan yang ingin diselesaikan, barulah ikut," ungkapnya.

Dalam fase terakhir Gerakan 1000 Startup Digital yani fase inkubasi nantinya akan terdapat beberapa aplikasi terpilih yang akan mendapatkan fasilitas pembinaan dan ruang coworking space yang berguna sebagai lokasi mereka berkantor. Tidak hanya itu saja mereka nantinya juga akan diawasi untuk melakukan finalisasi produk sebelum benar-benar siap untuk dirilis ke pasar. Pun tidak menutup kemungkinan para startup yang masuk ke dalam fase inkubator akan dipertemukan dengan investor-investor potensial. Harapannya lewat investor tersebut, startup yang baru tumbuh akan bisa berkembang dengan pesat.

Mari kita tunggu, startup mana sajakah yang nantinya akan layak dan bisa meramaikan dunia persaingan ekonomi digital di Indonesia.

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang12%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi12%
Pilih TerpukauTerpukau3%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara