Lupa Sandi?

Mengenal Pahlawan Dua Negara Lintas Benua; Syekh Yusuf Al Maqassari

Abd Hamid Zainal
Abd Hamid Zainal
0 Komentar
Mengenal Pahlawan Dua Negara Lintas Benua; Syekh Yusuf Al Maqassari

10 November adalah Hari Pahlawan yang selalu diperingati setiap tahunnya. Ada begitu banyak nama pahlawan yang sejak kecil sudah kita kenal. Sebut saja bapak proklamator bung Karno dan wakilnya bung Hatta, atau bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara. Ada juga nama pahlawan dari Sulawesi Selatan yang namanya banyak diabadikan sebagai tempat umum seperi kampus, bandara, bahkan nama jalan yaitu Sultan Hasanuddin. Namun selain Sultan Hasanuddin, Sulawesi Selatan ternyata masih memiliki pahlawan nasional sangat berpengaruh yang tidak hanya diakui di Indonesia saja, tetapi juga di Afrika Selatan. Bahkan mungkin beliau adalah satu satunya pahlawan yang diakui didua Negara. Ialah Tuanta Salamaka Syekh Yusuf Al-Maqassari.

Saat ini mungkin tak banyak yang mengenal sosok Syekh Yusuf. Namun beratus-ratus tahun lalu, namanya terdegar hingga bagian selatan Afrika. Beliau lahir di Moncongloe, Gowa 13 Juli 1626 M atau dalam kalender Hijriyah 8 Syawal 1036 H. Yusuf kecil merupakan sosok yang selalu haus akan ilmu dan sejak kecil ia telah mempelajari agama Islam dengan Daeng Ri Tasammang sebagai gurunya. Ia belajar mengaji hingga menamatkan Al-Qur’an di sebuah pondok pesantren yang didirikan ketika Gowa menerima Islam sebagai agama kerajaan. Selain itu, ia juga mempelajari nahwu, sharaf, mantik, dan ilmu fikih serta ilmu syariat lainnya.

Beliau merupakan sosok yang tidak pernah puas dengan ilmu yang dimilikanya. Jika ada pepatah yang mengatakan Tuntutlah Ilmu hingga ke Negeri China, maka mungkin bagi Syekh Yusuf ilmu itu dituntut hingga ke negeri Mekkah. Kehausannya akan ilmu agama membawanya berhijrah dari pondok pesantren di Gowa menuju Aceh hingga ke Timur Tengah (Syria, Yaman, Mekah).

Selama perjalan tersebut, Syekh Yusuf banyak bertemu dengan Syekh-Syekh besar daan mendapatkan tarekat dari guru-gurunya. Setelah itu ia kembali ke Gowa. Namun karena kekecewaan Syekh Yusuf terhadap pemerintah setempat yang saat itu banyak melakukan penyimpangan, ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan Gowa dan berhijrah ke Banten.

Disinilah perjuangan Syekh Yusuf dimulai. Di Banten ia berjuang bersama pasukan kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa melawan penjajah. Selama beberapa tahun Syekh Yusuf memimpin pasukan dan mengobarkan semangat perjuangan terhadap masyarakat Banten untuk terus melawan penjajahan. Karena keberanian dan pengaruh besar dari sosok Syekh Yusuf terhadap perlawanan Banten, menyebabkan company mengasingkan Syekh Yusuf ke Ceylon (Sri Langka).

Di Ceylon, Syekh Yusuf menghabiskan 10 tahun dan banyak menulis buku. Salah satu buku yang paling populer yang ditulis oleh Syekh Yusuf ialah As-Sholah yang membahas tentang keutaman dan rahasia ibadah. Ceylon pada saat itu ialah jalur persinggahan orang Indonesia yang sedang melaksanakan ibadah Haji, sehingga orang-orang yang pergi dan pulang haji akan singgah dan bertemu dengan Syekh Yusuf. Dari sini, spirit perjuangan Syekh Yusuf masih mengalir ke pengikutnya di Indonesia. Karena masih besarnya pengaruh beliau terhadap perlawanan masayarakat pada saat itu sehingga ia kembali diasingkan ketempat yang sangat jauh dari Banten, bahkan Indonesia yaitu Capetown, Afrika Selatan. Meskipun Syekh Yusuf telah diasingkan jauh dari keluarga, namun sosok Syekh Yusuf yang pemberani dan penuh perjuangan masih terus mengalir.

Kedatangan Syekh Yusuf di Capetown justru membuat masyarakat Islam semakin bertambah. Para budak secara diam-diam mendatangi tempat Syekh Yusuf yang sekarang dikenal dengan Macassar Village untuk belajar agama Islam sehinga populasi Islam di Capetown semakin bertambah. Setelah 6 tahun berada di Capetown, akhirnya Tuanta Salamaka Syekh Yusuf Al-Maqassari wafat pada tahun 1699.

Meskipun Syekh Yusuf hanya 6 tahun berada di Capetown namun pengaruhnya masih bisa dirasakan hingga kini. Kebanggan orang-orang Afrika Selatan terhadap beliau ini bisa dilihat dengan diberikannya gelar kepahlawanan oleh Nelson Manela yang saat itu menjadi Presiden Afrika Selatan. Nelson Mandela pun pernah mengatakan bahwa kepemimpinannya tidak lepas dari pengaruh sosok Syekh Yusuf.

Pilih BanggaBangga80%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau8%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ABD HAMID ZAINAL

Selalu ada kabar baik dari Indonesia setiap harinya :) ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas