Lupa Sandi?

Sepercik Rahasia Kelezatan Gudeg Jogja

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Sepercik Rahasia Kelezatan Gudeg Jogja

Pagi baru menjelang. Matahari saja masih berselimut awan, belum ingin menyinari Kota Yogyakarta. Namun, sejak sebelum pukul 6 pagi, para pedagang gudeg itu sudah berjejer rapi di pinggiran kawasan Jalan Wijilan yang kini memang menjadi sentra gudeg di Yogyakarta.

Singgah ke Yogyakarta tentu tidak boleh melewatkan sepiring nasi gudeg hangat yang jadi ikon kota budaya ini sejak bertahun-tahun silam. Di Jalan Wijilan, penjaja gudeg sudah ramai sejak tahun 1942 dan semakin ramai sampai sekarang. Antusiasme wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta membuat beberapa penjual gudeg membuka warungnya selama 24 jam nonstop.

Dari beragam gudeg yang dijajakan, satu yang sulit terlupa dari benak wisatawan adalah gudeg Yu Djum. Gudeg ini digadang-gadang sebagai gudeg legenda di Yogyakarta. Djuhariah atau Yu Djum sendiri memang sejak masih remaja sudah menjajakan gudegnya keliling kawasan Yogyakarta. Ia memulai ketika masih berusia 17 tahun pada tahun 1950 di kawasan Karangasem Mbarek yang juga menjadi tempat tinggalnya dan tempat produksi gudegnya yang legendaris itu.

Awalnya, rumahnya di kawasan Karangasem itu tidak dijadikan sebagai warung. Yu Djum dulu menjajakan gudegnya di kawasan Plengkung dengan berjalan kaki dari rumahnya. Dari situlah kesuksesan gudeg Yu Djum mulai tampak.

Baca Juga
Gudeg Yu Djum sudah terkenal sampai ke seantero nusantara (source image: gudegyudjumpusat.com)
Gudeg Yu Djum sudah terkenal sampai ke seantero nusantara (source image: gudegyudjumpusat.com)

Lantas mengapa gudeg Yu Djum terbilang sungguh istimewa?

Tidak sedikit yang punya kesan bawa gudeg Yu Djum rasanya sangat enak. Gudeg kering Yu Djum punya ciri khas rasa yang gurih dengan lauk-pauk sandingan yang rasanya tak kalah lezat. Satu porsi Gudeg Yu Djum berisi nasi, gudeg plus areh kental, sambal krecek dan lauk. Lauknya bervariasi tergantung keinginan Anda. Ada telur rebus yang sudah dibumbui, tahu, tempe, suwiran daging ayam, ampela ati, potongan bagian tubuh ayam seperti kepala, dada, paha atas, dan sebagainya.

Menurut salah seorang putri dari Yu Djum, Elina, rahasia dari rasa gurih gudeg Yu Djum adalah gudeg dimasak dengan menggunakan api dari kayu bakar. Selain itu, gori (nangka muda) yang digunakan berasal dari daerah Prembun. Karena berdasarkan dari pengalaman, gori Prembun sangat pas untuk membuat gudeg. Gori tersebut tidak akan mudah lumat meski dimasak dalam waktu yang lama, berbeda dengan gori dari daerah lain.

Mengintip dapur besar gudeg Yu Djum (source image: gudegyudjumpusat.com)
Mengintip dapur besar gudeg Yu Djum (source image: gudegyudjumpusat.com)

"Nangka mudanya diambil dari langganan, sudah biasa setiap hari. Ayamnya pakai ayam kampung dan betina, kalau jantan nggak enak,” ujar Elina. Sementara itu, telur yang menjadi salah satu lauk sandingan gudeg menggunakan telur bebek.

Tak hanya untuk makan di tempat, lantaran banyak wisatawan yang ingin membawa gudeg sebagai oleh-oleh, gudeg Yu Djum juga menyediakan gudeg dalam kemasan besek dan kemasan kendil.

Kini, Yu Djum memiliki tujuh gerai yang tersebar di Yogyakarta. Gerai Yu Djum di Jalan Wijilan dan Jalan Kaliurang adalah yang paling ramai pengunjung. Meski Yu Djum telah tutup usia, namun gerai gudegnya dipastikan akan terus eksis karena anak-cucu Yu Djum sendiri sudah melanjutkan usaha gudeg ini yang juga menggunakan nama Yu Djum.

Bukan Makanan Kerajaan

Sejarah gudeg di Yogyakarta dimulai bersamaan dengan dibangunnya kerajaan Mataram Islam di alas Mentaok yang ada di daerah Kotagede pada sekitar tahun 1500-an.

"Saat pembangunan kerajaan Mataram di alas Mentaok, banyak pohon yang ditebang, dan di antaranya adalah pohon nangka, kelapa, dan tangkil atau melinjo," jelas Murdijati Gardjito, seorang profesor yang menjabat sebagai peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM.

Karena banyaknya buah nangka muda (gori), kelapa, dan daun tangkil (melinjo), akhrinya mendorong para pekerja untuk membuat makanan dari bahan-bahan tersebut. Untuk memenuhi makan para pekerja yang jumlahnya begitu besar, nangka muda yang dimasak jumlahnya juga sangat banyak.

Bahkan untuk mengaduknya atau dalam bahasa Jawa disebut hangudek harus menggunakan alat menyerupai dayung perahu. Dari proses mengaduk (hangudeg) ini makananan yang diciptakan dari nangka muda ini disebut gudeg.

Sepiring nasi gudeg Jogja yang selalu bikin rindu (source image: gudegyudjumpusat.com)
Sepiring nasi gudeg Jogja yang selalu bikin rindu (source image: gudegyudjumpusat.com)

Selain itu, gudeg juga tercatat dalam karya sastra Jawa Serat Centhini. Diceritakan di dalamnya, pada tahun 1600-an Raden Mas Cebolang tengah singgah di pedepokan Pengeran Tembayat yang saat ini berada di wilayah Klaten.

Di sana Pengeran Tembayat menjamu tamunya yang bernama Ki Anom dengan beragam makanan dan salah satunya adalah gudeg.

Gudeg sejatinya bukanlah makanan yang berasal dari lingkungan kerajaan, melainkan dari masyarakat. Meskipun demikian, untuk menjadi makanan tradisional yang setenar saat ini, perlu proses yang panjang.

Murdijati Gardjito mengungkapkan karena gudeg perlu waktu memasak yang lama, pada awal abad 19 di Yogyakarta sendiri belum begitu banyak orang berjualan gudeg.

"Saking istimewanya, karena proses memasaknya yang lama dan pada waktu itu belum banyak yang berjualan, gudeg sering dijadikan makanan nadzar, atau wujud rasa sukur. Seperti jika anak sedang sakit, akan diajak makan gudeg jika nanti telah sembuh," cerita Murdijati Gardjito.

Kemudian pada tahun 1940-an bersamaan dengan ide Presiden Soekarno membangun universitas di Yogyakarta (UGM), gudeg mulai berkembang dan banyak dikenal masyarakat. Dari sinilah gudeg kering juga mulai hadir.



Sumber : kompas.com | nationalgeographic.co.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi40%
Pilih TerpukauTerpukau60%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata