Lupa Sandi?

Kilas Balik Kelahiran Buku di Indonesia dari Masa ke Masa

Nudia Imarotul Husna
Nudia Imarotul Husna
0 Komentar
Kilas Balik Kelahiran Buku di Indonesia dari Masa ke Masa

Sebelum ada internet seperti sekarang ini, di mana manusia dapat mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dengan praktis dan cepat, buku menjadi kendaraan bagi mereka untuk mencari berbagai ilmu pengetahuan dan informasi. Pada masa perkembangannya, buku tak lantas langsung menjelma bentuknya seperti layaknya bentuk buku yang dapat kita nikmati sekarang ini. Buku pernah mengalami masa perkembangannya dari waktu ke waktu.

Dilansir dari beberapa sumber, sebelum lahirnya kertas yang sering kita pakai sekarang ini, buku di Indonesia dibuat dari gulungan daun lontar. Daun lontar yang telah ditulisi itu lalu dijilid untuk membentuk sebuah buku. Seiring dengan berkembangnya zaman, buku mulai mengalami perubahan secara signifikan setelah diciptakannya kertas oleh seseorang berkebangsaan Cina bernama Ts’ai Lun yang hidup di zaman dinasti Han. Pencipta kertas itulah yang akhirnya mengantarkan bangsa Cina mengalami kemajuan dengan menjadi satu-satunya negara pengekspor kertas pertama di dunia pada abad kedua.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Buku yang terbuat dari daun lontar www.ceraproduction.com

Penyampaian buku di Indonesia kepada khalayak ramai pun juga mengalami berbagai proses. Pada zaman penjajahan Belanda, semua penerbitan buku dikuasai penuh oleh pemerintah Belanda. Salah satu bentuk kekuasaan itu adalah munculnya lembaga Komisi Bacaan Rakyat yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 14 September 1908 sebagai masukan untuk Direktur Pendidikan dalam memilih buku yang baik sebagai bacaan untuk anak-anak di sekolah-sekolah dan juga bacaan rakyat pada umumnya. Jenis cerita yang diterbitkan pun mencakup cerita rakyat, cerita wayang, ringkasan hikayat, cerita berisi teladan, dan buku pengetahuan umum.

Pemerintah sangat berhati-hati dalam melakukan peredaran buku agar rakyat tidak terprovokasi oleh berbagai macam informasi yang pada waktu itu dapat mengancam pemerintahan Hindia Belanda. Oleh karena itu, pemerintah menerbitkan buku bacaan rakyat yang sesuai dengan peraturan pemerintah Hindia Belanda sehingga para penulis pun tidak leluasa dalam menuliskan karyanya, banyak sensor yang dilakukan agar negara Hindia Belanda tetap aman.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Balai Poestaka www.hilmarfarid.com

Komisi Bacaan Rakyat tersebut kemudian berubah nama menjadi Balai Poestaka pada tanggal 22 September 1917. Tujuan didirikannya Balai Poestaka awalnya adalah untuk mengembangkan bahasa daerah pertama di Hindia Belanda seperti Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, Bahasa Madura dan masih banyak lagi sehingga kala itu buku-buku yang banyak diterbitkan oleh Balai Poestaka adalah buku-buku berbahasa Jawa, Sunda, Melayu, Madura dan menurut hasil penelusuran George Quinn buku terbitan Balai Poestaka terbanyak adalah buku berbahasa Jawa dengan total 200 buku. Kemudian novel paling terkenal kala itu yang diterbitkan oleh Balai Poestaka adalah novel karangan Marah Roesli, seorang penulis dari Minangkabau, berjudul Siti Noerbaja.

Menginjak masa transisi setelah penjajahan yaitu era orde lama ke orde baru, penerbitan buku masih dikuasai oleh pemerintah dan pada waktu itu pemerintah rezim orde baru memegang kuasa penuh atas buku-buku yang layak terbit di masyarakat. Lembaga sensor juga melaksanakan tugasnya terhadap proses penerbitan buku-buku kala itu sehingga jenis buku yang terkesan kontra terhadap orde baru tidak diperbolehkan untuk beredar. Tercatat beberapa buku karangan para sastrawan Indonesia seperti tetralogi buku karangan Pramoedya Ananta Toer, kumpulan puisi karya Sabar Anantaguna , novel karangan Mochtar Lubis, buku karya Sitor Situmorang, dan puisi karya si penyair W.S Rendra dilarang untuk beredar di masyarakat karena dirasa dapat membahayakan pemerintahan orde baru pada waktu itu.

Setelah runtuhnya pemerintahan rezim orde baru dan beralih ke masa era reformasi, kebebasan dalam berbagai bidang mulai dari ekonomi, sosial, politik, hingga politik perbukuan semakin terbuka. Titik tersebut berawal ketika pemerintah mencabut peraturan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers di masa itu. Oleh karenanya, lahirlah penerbit-penerbit baru dan juga penulis yang menciptakan buku-buku dalam berbagai jenis dan tema seperti buku-buku keagamaan, novel-novel islami, buku-buku motivasi, dan lain-lain. Selain itu, terdapat banyak buku yang kini diangkat ke film layar lebar membanjiri dunia hiburan.

Terlebih lagi di era modern sekarang ini, teknologi yang semakin berkembang dari masa ke masa selalu membawa inovasi dan cara baru bagi manusia untuk menikmati hal-hal tertentu termasuk membaca buku. Harga laptop yang semakin terjangkau kini memunculkan kebiasaan baru masyarakat yaitu membaca buku elektronik. Banyak buku-buku berbentuk pdf atau ebook yang dapat dengan mudah diunduh di internet oleh masyarakat meski saat ini kebiasaan tersebut baru diadopsi oleh mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas.

Sumber : academia.edu kemdikbud

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang10%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi60%
Pilih TerpukauTerpukau30%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG NUDIA IMAROTUL HUSNA

Peminum kopi, penikmat buku, pemburu ilmu. Sedang tertarik dengan Sejarah. ... Lihat Profil Lengkap

Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas