Lupa Sandi?

Hikayat Mengabdi dan Mendidik di Sumba Timur dari Rizka, Seorang Pengajar SM3T

Nudia Imarotul Husna
Nudia Imarotul Husna
0 Komentar
Hikayat Mengabdi dan Mendidik di Sumba Timur dari Rizka, Seorang Pengajar SM3T

Pendidikan adalah pilar utama pemerintah Indonesia dalam usaha yang sungguh-sungguh mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu elemen pendidikan tidak lain dan tidak bukan selalu bertaut erat dengan guru, pengajar, atau pendidik. Pada tanggal 25 November mendatang akan diperingati sebagai hari guru nasional. Oleh karenanya, sudah merupakan sebuah keharusan bagi kita rakyat Indonesia untuk mengetahui potret pendidikan bangsa ini dan salah satunya adalah cerita singkat dari salah seorang pengajar di Sumba Timur bernama Rizka yang tergabung dalam kegiatan SM3T atau yang kerap disebut Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal.

Program SM3T ini merupakan salah satu program kemenristek dikti yang mulai digagas tahun 2011 dengan jumlah tenaga pendidik 2500an tersebar ke 4 provinsi 23 kabupaten di Indonesia khususnya di luar Pulau Jawa. Pada dasarnya, program ini bergerak dalam bidang pendidikan yang menyediakan guru-guru berkompeten untuk didistribusikan ke seluruh pelosok Indonesia dengan tujuan memeratakan tenaga pendidik seluruh Indonesia. Rizka Novia, gadis 25 tahun alumnus pendidikan biologi Universitas Negeri Surabaya ini terpilih untuk menjadi salah satu tenaga pendidik di daerah Sumba Timur mengajar selama satu tahun mulai bulan Agustus 2015 sampai Agustus 2016 di SMP N Satap Walatungga, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. “Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi”, itulah prinsip yang terus dipegang Rizka ketika ia menginjak tanah Sumba.

Sekolah tempat Rizka mengabdi di Sumba Timur
Sekolah tempat Rizka mengabdi di Sumba Timur

Di tanah Sumba Timur itulah ia mengabdi dan berbagi ilmu kepada anak-anak didik serta para guru, membagi ilmu yang telah dipelajarinya di bangku kuliah selama 4 tahun. Rizka turut membantu mengajar beberapa mata pelajaran yang sedang dibutuhkan karena keterbatasan jumlah guru di sana,. Hal ini membuatnya untuk belajar berbagai kajian ilmu pengetahuan yang tidak ia geluti di bangku kuliah seperti mata pelajaran sejarah, matematika, Bahasa Inggris, Fisika, dan lain sebagainya. Selain itu, Rizka dan beberapa teman lainnya yang tergabung dalam kegiatan SM3T juga turut membantu kegiatan pemberdayaan masyarakat mengembangkan produk tepat guna yaitu jagung dan meningkatkan nilai ekonominya.

Rizka bersama anak-anak Sumba Timur SMP N Satap Walatungga
Rizka bersama anak-anak Sumba Timur SMP N Satap Walatungga

Hal paling berkesan baginya ketika mengikuti kegiatan mengabdi dan mengajar melalui kegiatan SM3T adalah ketika ia harus mengajar pendidikan karakter kepada peserta didik yang notabene amat sangat sulit diterapkan karena mayoritas mereka yang memiliki kepribadian keras. Namun, Rizka selalu meyakini bahwa kegiatan belajar mengajar bukan hanya semata-mata mengajarkan ilmu pengetahuan yang bersumber pada pengajar. Namun, hal terpenting yang turut diasah adalah penanaman soft skill mereka yang meliputi empati, dan kepercayaan diri sebagai tabungan di hari depan.

Baca Juga
Kegiatan gotong royong antar siswa untuk membangun lapangan lompat jauh
Kegiatan gotong royong antar siswa untuk membangun lapangan lompat jauh

Berinteraksi dengan masyarakat di Sumba Timur membuat Rizka belajar akan apa itu toleransi dan berbagi. Dia mengaku bahwa masyarakat di daerah ia mengajar amat sangat dermawan. Mereka kerap membagi makanan atau hasil bumi dari pertanian mereka kepada para tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Mereka tau apa itu arti hidup berdampingan dan saling gotong royong sehingga mereka tak pernah merasa sendiri.

Toleransi antar umat beragama amat dijunjung di tanah Sumba Timur tempat Rizka berbagi ilmu. “Mengingat tenaga pendidik yang dikirim ke Sumba Timur pada waktu itu mayoritas beragama islam dan menjadi agama minoritas di sana, masyarakat Sumba Timur sangat paham akan nilai toleransi umat beragama dan sangat menghormati antar sesama”, tutur Rizka. Hal itulah yang menjadi salah satu momen paling mengesankan baginya ketika ia mendapatkan kesempatan untuk merasakan hidup di tanah Sumba Timur dengan orang-orang dari latar belakang berbeda.

Mengabdi dan mendidik melalui kegiatan SM3T membuat Rizka mengetahui potret pendidikan negara Indonesia mulai dari skala terkecil, dan mulai dari situlah kontribusi anak negeri amat sangat dibutuhkan. Selepas dari projek SM3T ini, Rizka ingin terus mengabdi dalam dunia pendidikan Indonesia. Mengingat kajian yang ia geluti di kampus sangat bertaut erat dengan profesi seorang guru, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti ia akan tergerak untuk berkecimpung menggeluti profesi tersebut. “Guru adalah sosok yang menginspirasi tanpa henti membangun negeri”, itulah definisi guru menurut Rizka. Dan satu pesan darinya untuk para guru menjelang hari guru 25 November mendatang, “Mengajar dan mendidiklah dengan hati dan nurani”, karena apalah Indonesia tanpamu.


Sumber :

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG NUDIA IMAROTUL HUSNA

Peminum kopi, penikmat buku, pemburu ilmu. Sedang tertarik dengan Sejarah. ... Lihat Profil Lengkap

Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie