Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Pak Guru Kang Mas Tumenggung, Melestarikan Serta Mengajarkan Macapat

Arif B Setyanto
Arif B Setyanto
0 Komentar
Pak Guru Kang Mas Tumenggung, Melestarikan Serta Mengajarkan Macapat
Sekolah Macapat (fikriadin.wordpress.com)

KMT (Kang Mas Tumenggung) Projosuwasono sudah familiar dengan macapat. Sebab sejak kelas 4 SR (Sekolah Rakyat) sekarang setara dengan Sekolah Dasar, Projosuwasono sudah diajarkan macapat oleh mendiang bapaknya, sehingga dia fasih menembang. Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.

Pak Projo begitulah panggilan sehari harinya. Nama projo merupakan gelar yang diberikan Kraton sebagai abdi dalem yang bekerja di pemerintahan daerah. Dari kecil, dia sering tampil di acara sekolahan. Dia menerangkan dengan macpat manusia dapat menyampaikan doa, nasihat, beserta larangan di kehidupan.

KMT Projosuwasono (geonation.wordpress.com)
KMT Projosuwasono (geonation.wordpress.com)

Usia Projo baru menginjak 20 tahun ketika mulai bergabung dengan pasukan prajurit Kraton Yogyakarta. Berawal dari kunjungan Ratu Belanda yaitu Ratu Yuliana yang berkunjung ke Yogyakarta Pada tahun 1970 bersama pasukaan kerajaan. Melihat hal itu Projo tertarik untuk menjadi prajurit, dia mencoba mendaftar dan kebetulan Kraton sedang mencari prajurit tambahan. Selain itu, kakeknya merupakan abdi dalem Kraton, sehingga muncul keinginan dalam dirinya untuk mengabdi pada Kraton Yogyakarta.

Projo mulai nembang di Kraton sejak 1995. Dia rutin megisi acara setiap Jum’at pagi di Bangsal Sri Manganthi yang diadakan macapatan. Kebanyakan orang yang belajar macapat ada yang bisa membaca tapi tidak bisa nembang (menyanyi), ada yang bisa nembang tapi tidak bisa membaca huruf aksara jawa. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Projo, dia menguasai keduanya. Kala di Kraton, dia merasa paling puas saat berkesempatan nembang macapat di Bangsal kencono. Waktu itu bulan puasa duduk di singgasana dan melantunkan tembang macapat yang dihadiri beberapa abdi dalem serta pejabat keraton.

Baca Juga
Suasana di Sekolah Macapat (geonation.wordpress.com)
Suasana di Sekolah Macapat (geonation.wordpress.com)

Dengan keterampilan yang dimilikinya, saat ini Projo dipercaya untuk menjadi guru macapat di Kraton. Sampai sekarang kelas ini dikenal sebagai sekolah macapat yang berada di Jalan Rotowijayan Yogyakarta. Sekolah ini memiliki tiga kelas yaitu kelas I sampai III serta masuk setiap hari Selasa, kamis dan Minggu. Siswa dari sekolah macapat ini beragam, mulai dari pensiunan pegawai negeri, guru sekolah, anggota ABRI dan pegawai Kraton, anak-anan muda ada juga beberapa orang luar negeri yang mengikuti sekolah macapat.

Para murid di Sekolah Macapat (fikriadin.wordpress.com)
Para murid di Sekolah Macapat (fikriadin.wordpress.com)

Metode pengajaran disini hanya menirukan guru menembang. para murid tidak perlu menulis, mereka hanya perlu menirukan guru menembang. Jika ada murid yang sudah menguasai pelajaran, maka Projo akan mengadakan ujian. Pengujinya terdiri dari para ahli macapat.

Menurut Projo menjadi guru di sekolah macapat adalah sebuah pengabdian guna melestarikan tradisi Jawa. Dia menambahkan bahwa menggeluti budaya akan mendatangkan ketenangan dan kepuasan batin, bukan sisi finansial yang menjadi motivasi dirinya. Sebuah pengabdian sederhana dari Projo, bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mencintai budaya.


Sumber : Berbagai Sumber

Pilih BanggaBangga89%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau11%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIF B SETYANTO

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie