Lupa Sandi?

Kelak Indonesia Kaya Akan Pemuda-Pemudi Pengajar di Tahun 2045

Syauqina I A
Syauqina I A
0 Komentar
Kelak Indonesia Kaya Akan Pemuda-Pemudi Pengajar di Tahun 2045

Baru saja kita merayakan Hari Anak Universal, tepatnya tanggal 20 November 2016 kemarin. Selisih beberapa hari ternyata Indonesia merayakan Hari Guru Nasional pada tanggal 25 November 2016. Saling berhubungan, ini menjadi kabar baik untuk Indonesia. Kita sendiri tahu bahwa anak adalah bibit-bibit generasi penerus bangsa negara manapun. Pemeran terpenting yang mampu mencetak generasi penerus yang cerdas adalah guru. Keduanya ini tidak mungkin saling terlepas. Seorang anak membutuhkan guru dan guru pun tidak bisa menjadi seorang pahlawan tanpa ada anak yang dia didik.

Sedikit cerita pendahuluan dari saya untuk para pembaca setia GNFI tersebut adalah sebuah fakta. Sejak bertahun-tahun lamanya pun semua orang sudah memahami hal-hal di atas. Jadi, saya berharap apa yang sudah tersampaikan barusan bukanlah materi berat di artikel pertama yang saya tulis pada website GNFI ini. Sebagai permulaan, saya ingin menuliskan harapan-harapan yang didasari dengan realita-realita yang sudah ada di sekitar kita. Sehingga nantinya apa-apa yang saya tuliskan bukanlah ucapan-ucapan diplomatis atauppun kata-kata idealis.

Hari ini, Indonesia masih memiliki banyak pemuda-pemudi yang memiliki daya guna. Yang sangat disalutkan adalah banyak kota-kota di negara kita yang perlahan memunculkan komunitas atau gerakan-gerakan dalam memberi kontribusi secara non-komersial. Sebagai seseorang yang belum memiliki pekerjaan tetap, saya pun sekarang masih suka bergabung dengan salah satu komunitas untuk berbagi ilmu dan menambah pengalaman saya dalam bidang public speaking. Komunitas lain di Surabaya sih masih banyak, apalagi di luar sana.. Dan yang masih menjadi sorotan bagi saya salah satunya adalah gerakan volunteer atau relawan yang tidak dibayar untuk menjadi seorang pengajar, contohnya Gerakan Indonesia Mengajar. Bahkan saya melihat di beberapa kota ada gerakan mengajar yang memberikan iming-iming mengajar sambil traveling seperti yang dilakukan oleh Gerakan 1000 Guru. Tidak digaji, tetapi justru para pengajar diwajibkan untuk membayar akomodasi, makan, menginap, dan lain-lain. Kita bisa memberikan applause untuk mereka-mereka yang dengan suka cita mau melakukan kegiatan tersebut. Memang suatu kegiatan yang bahkan tanpa bayaran pun akan terasa menyenangkan ketika kita melakukan sesuatu dengan hati yang lapang. Sebab segala sesuatu tidak bisa diukur dengan uang yang masuk ke dalam kantong kita. Perjalanan touring ke daerah-daerah pun menjadi pengalaman yang tak ternilai harganya. Selain menjadikan pikiran lebih fresh juga membuka hati bahwa jauh di pedalaman-pedalaman atau pedesaan-pedesaan sana masih membutuhkan pendidikan yang jauh lebih baik lagi.

Sedikit paparan cerita yang saya tangkap dari pengamatan tersebut bukanlah fiksi yang dibuat-buat untuk melebih-lebihkan kebaikan para pemuda-pemudi di Indonesia. Kegiatan-kegiatan itu sungguh bagus, namun jika tidak didasari dengan keinginan mengajar secara tulus nanti dapat membelotkan niat yang awalnya membagi ilmu, menjadi enak nge-trip bareng sekalian mengajar. Maka, harapan saya ke depan nanti di tahun 2045 Indonesia menjadi negara maju dengan predikat mampu menjadi salah satu negara yang tidak tertinggal pada sektor pendidikan. Saya juga ingin menjadi salah satu bagian penggerak yang dapat membantu pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Semua impian ini dimulai dari diri sendiri, menjadi seorang tentor les privat saya setiap hari berusaha untuk menata hati agar tidak sembarangan mengajarkan ilmu kepada adik didik. Memang kewajiban mendidik ilmu pada mata pelajaran sekolah sepenuhnya adalah tanggung jawab guru. Namun tidak menutup kemungkinan bagi kita para tentor les untuk menjadi pengajar paruh waktu yang berbeda dan tidak biasa-biasa saja. Mengharapkan ada pelurusan pola pikir yang mungkin belum diajarkan di sekolahnya. Dengan demikian, kita semakin sadar bahwa setiap individu memiliki potensi untuk menjadi seorang pengajar, apapun wujudnya tidak harus dengan menjadi guru.

Baca Juga
Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG SYAUQINA I A

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie