Lupa Sandi?

Hal-hal Tersembunyi dari Tari Saman yang Wajib Kita Tahu

Fairuz Rana Ulfah
Fairuz Rana Ulfah
0 Komentar
Hal-hal Tersembunyi dari Tari Saman yang Wajib Kita Tahu

Apakah Anda Yakin Pernah Menonton Tari Saman?

Ketika saya melakukan riset sederhana lewat mesin pencari Google dengan mengetik kata kunci Tari Saman yang muncul adalah gambar-gambar penari perempuan yang menggunakan pakaian warna-warni (umumnya merah, hijau, kuning), dengan ikat kepala, dan kain songket Aceh. Begitu juga ketika saya menghadiri acara-acara mulai dari acara kondangan hingga acara yang digelar secara resmi, tak jarang pihak penyelenggara menyuguhkan penampilan yang disebut Tari Saman. Bahkan setiap tahunnya kerap ada perlombaan Tari Saman yang diikuti oleh berbagai kelompok yang berisikan penari-penari perempuan. Tak heran jika gambaran Tari Saman yang bertebaran di internet itu menjadi populer dan diamini sebagai Tari Saman.

Namun apakah benar gambar-gambar tersebut menunjukkan para penari Saman? Ternyata tidak.

Tari Saman yang ditarikan oleh perempuan seperti yang biasa kita saksikan ternyata tidak disebut dengan Tari Saman
Tari Saman yang ditarikan oleh perempuan seperti yang biasa kita saksikan ternyata tidak disebut dengan Tari Saman

Tarian yang dibawakan oleh penari-penari perempuan tersebut dinamakan Tari Ratoh Duek yang berarti duduk berbincang-bincang atau yang disebut Keith Howard sebagai woman chattering. Jika melihat dari unsur katanya, Ratoh yang berasal dari bahasa Arab berarti Rateb yaitu menyampaikan pujian-pujian kepada Allah SWT melalui doa-doa yang dinyanyikan atau diiramakan. Sementara Duek berasal dari bahasa Aceh yang berarti duduk. Tarian ini biasanya ditampilkan pada acara pernikahan, kenduri (syukuran) naik haji, dan perayaan hari besar keagamaan seperi perayaan malam terakhir Bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi.

Jadi, meskipun Tari Saman telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia (Intangible Elements of World Cultural Heritage) pada 24 November 2011, ternyata hingga saat ini masih banyak orang yang belum bisa membedakan antara Tari Saman dengan Tari Ratoh Duek. Perbedaan paling mencolok dari kedua tarian ini sebenarnya terletak pada penarinya.

Tari Saman adalah tarian yang dilakukan oleh laki-laki, sedangkan tari Rapoh Duek dilakukan oleh perempuan
Tari Saman adalah tarian yang dilakukan oleh laki-laki, sedangkan tari Rapoh Duek dilakukan oleh perempuan

Tari Saman hanya terdiri dari penari laki-laki, sementara Tari Ratoh Duek dibawakan oleh penari perempuan. Perbedaan lainnya terletak pada lirik yang dibawakan, Tari Saman berisikan lirik dalam Bahasa Gayo sementara Tari Ratoh Duek diiringi dengan nyayian dalam Bahasa Aceh. Tari Saman juga tidak diiringi oleh musik tradisional apapun, sedangkan Tari ratoh Duek kerap ditemani oleh iringan alat musik Rapai. Perbedaan anatara kedua tarian tersebut dikarenakan Tarian Saman sebenarnya berasal dari daerah Gayo yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah. Suku Gayo ini memiliki kebudayaan, bahasa, adat-istiadat, yang berbeda dengan Suku Aceh.

Tari Saman juga dikenal dengan berbagai nama seperti Saman Gayo di Aceh Tenggara dan Tengah, Saman Lokop di Aceh Timur, dan Saman Aceh Barat di Aceh Barat. Selain tari Saman, suku Gayo juga terkenal dengan seni bertutur yang disebut Didong.

Pelarangan Tari Saman

Jika sekarang Tari Saman menjadi populer bahkan terkenal di kancah internasional dengan nama tari tangan seribu (a thousand hand dance), ternyata sejarah mencatat tarian ini pernah dilarang pada masa penjajahan Belanda. Alasannya Tari Saman dianggap mengandung unsur magis yang bisa menyesatkan.

Namun larangan tersebut tidak mendapat tanggapan dari masayarakat yang terus melakukan pelestarian terhadap tarian ini. Konon Tari Saman di dirikan dan dikembangkan oleh seorang ulama yang berasal dari Suku Gayo bernama Syekh Saman. Untuk mempermudah dakwah, Syeikh Saman mempelajari tarian Melayu Kuno dan menghadirkannya kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam. Selain sebagai media dakwah, tarian ini juga menjunjung aspek-aspek pendidikan, sopan-santun, kekeluargaan, kebersamaan, dan keberanian.


Sumber :

melayuonline.com

wikipedia

kemdikbud

kidnesia

Pilih BanggaBangga61%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli5%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi9%
Pilih TerpukauTerpukau17%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAIRUZ RANA ULFAH

Penikmat alam, kopi, sastra. Sedang tertarik dengan isu-isu kelas, gender, lingkungan. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie