Lupa Sandi?

Berkat Green Wall Taman Nasional Yang Mulanya Terdegradasi Kini Menjadi Hijau

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Berkat Green Wall Taman Nasional Yang Mulanya Terdegradasi Kini Menjadi Hijau

Penggarapan lahan yang tidak tepat dapat mengakibatkan adanya penurunan kualitas lahan bahkan ekosistem. Hal ini kerap terjadi di daerah pemanfaatan lahan di lereng-lereng bukit. Meskipun lahan yang dikerjakan produktif namun lama kelamaan lahan tersebut tidak akan mampu menahan erosi yang diakibatkan oleh air hujan akibatnya lereng-lereng tersebut menjadi lemah dan rawan longsor. Itu sebabnya saat wilayah tangkapan air Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diperluas pada tahun 2008 dilakukan program adopsi pohon yang bertujuan untuk kembali memperkuat tanah di garis batas taman nasional.

Program adopsi bernama Green Wall yang merupakan kolaborasi antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan Conservation Internasional (CI) Indonesia dan didukung Daikin tersebut melibatkan setidaknya 3.000 donatur yang kebanyakan adalah warga Jepang. Peran donatur dalam program ini adalah mereka mendapati setiap namanya terpampang pada papan di beberapa titik di TNGGP.

Papan nama donatur program restorasi TNGGP (Foto: Bagus DR / GNFI)
Papan nama donatur program restorasi TNGGP (Foto: Bagus DR / GNFI)
Papan Nama donatur program restorasi TNGGP (Foto: Bagus DR / GNFI)
Papan Nama donatur program restorasi TNGGP (Foto: Bagus DR / GNFI)

Sampai saat ini kurang lebih telah tertanam 120 ribu pohon hutan dan juga 13 ribu pohon buah produksi yang berfungsi sebagai sabuk hijau atau green belt di lahan seluas 300 hektar. 

Sejatinya program ini adalah sebuah program restorasi lahan di Resort Nagrak PTN Wilayah II Sukabumi utuk kembali menghijaukan lahan yang dahulu digunakan untuk hutan produksi maupun lahan garapan warga. Restorasi ini diperlukan untuk mengembalikan fungsi kawasan perluasan TNGGP serta melibatkan peran masyarakat sekitar dalam pelestarian ekosistem. 

Baca Juga
Kawasan TNGGP yang terdegradasi di tahun 2008 (Foto: CI Indonesia)
Kawasan TNGGP yang terdegradasi di tahun 2008 (Foto: CI Indonesia)

West Java Program Manager CI Indonesia, Anton Ario mengungkapkan pada GNFI (23/11) bahwa program ini berusaha untuk mengurangi dan mengalihkan ketergantungan masyarakat sekitar pada lahan taman nasional. Oleh sebab itu pihaknya mendorong adanya program-program seperti pemberdayaan masyarakat, pendidikan dan penyadaran konservasi, dan penelitian keanekaragaman hayati. 

"Kami telah melakukan berbagai program untuk mencegah kembalinya masyarakat untuk merambah taman nasional. Beberapa program tersebut adalah pembangunan fasilitas air bersih, pembangunan pikohidro untuk listrik, pengembangan koperasi desa, dan program-program lain," jelas Anton. 

Anton juga mengungkapkan bahwa beberapa perambah hutan bahkan kini telah menjadi Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP) yang memiliki tugas untuk melakukan patroli dan pengawasan terhadap wilayah taman nasional. Selain itu para MMP juga melakukan "penyulaman" di hutan. Penyulaman yang dimaksud adalah upaya untuk mengganti pohon dan tumbuhan yang telah mati dengan tumbuhan yang baru agar jaringan hijau di lahan Green Wall tetap terjaga. 

Salah seorang MMP tersebut adalah Bapak Buhari yang telah bergabung sejak adanya pelarangan mengelola lahan taman nasional dan penghijauan berjalan di tahun 2010. Pak Buhari yang dahulunya adalah petani sayur kini secara rutin mengawasi taman nasional dari para pemburu ataupun perambah hutan. 

Terkait dengan Koperasi Desa, CI juga melakukan pembinaan dan pembimbingan sejak koperasi masyarakat dibentuk. Koperasi yang kemudian diberi nama Koperasi Mina Mukti Dahlia tersebut dibentuk untuk memfasilitasi produksi dan pemasaran produk masyarakat desa termasuk untuk menjadi badan yang akan menerima bantuan bila pemerintah memberikan sumbangan. 

Field Program Officer CI, Dede Rahmatullah juga menjelaskan bahwa dalam program koperasi desa tersebut CI berusaha untuk membimbing koperasi untuk mendapatkan legalitas hingga mendapatkan sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk beberapa produknya. Sehingga koperasi dapat memasarkan produknya dengan baik dan kemudian mendapatkan keuntungan yang bisa dimanfaatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan anggotanya. 

Tampak depan Koperasi Mina Mukti Dahlia, Desa Cihanyawar (Foto: Bagus DR / GNFI)
Tampak depan Koperasi Mina Mukti Dahlia, Desa Cihanyawar (Foto: Bagus DR / GNFI)
Produk Koperasi Mina Mukti Dahlia (Foto: Bagus DR / GNFI)
Produk Koperasi Mina Mukti Dahlia (Foto: Bagus DR / GNFI)

Beberapa produk yang telah dihasilkan oleh Koperasi Mina Mukti Dahlia antara lain adalah serbuk minuman sehat instan yang dikemas praktis dan higienis. Minuman tersebut merupakan campuran dari rempah seperti jahe merah, temulawak dan kunyit. "Ini bagus untuk ibu hamil dan menyusui, agar ASI (air susu ibu) tidak amis " ujar Bendahara sekaligus Pemasaran Koperasi Mina Mukti Dahlia, Ain Nurlaela pada GNFI.  

Program Green Wall tampaknya telah banyak mengubah perilaku warga khususnya masyarakat yang berada di Desa Nagrak, Sukabumi. Berkat program ini, mereka yang dahulunya merambah hutan kini mampu untuk mencari penghasilan lain dari program-program yang dibina oleh CI. Ekosistem taman nasional terjaga, perekonomian dan kualitas hidup masyarakat pun tetap baik. Sebuah "tembok hijau" yang menguntungkan bagi berbagai pihak.

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang60%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau20%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie