Lupa Sandi?

Kontribusi Seniman Amerika untuk Batik Indonesia

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
0 Komentar
Kontribusi Seniman Amerika untuk Batik Indonesia

Debra Lunn dan Michael Mrowka adalah sepasang suami istri yang dikenal sebagai seniman sekaligus pemilik Studio Lunn Fabrics di Lancaster, Ohio, Amerika Serikat. Pasangan suami istri ini merupakan sosok Indonesianis, dengan rasa cinta yang besar pada negeri ini. kecintaan tersebut mereka wujudkan dengan menjalin kerjasama dalam produksi dan distribusi batik, bahkan turut mendiirikan pabrik batik yang ramah lingkungan serta perpustakaan gratis untuk warga semua umur di Solo.

Pasangan suami istri ini dikenal sebagai master pewarnaan tekstil dan perancang motif. Studio mereka merupakan produsen dan penyalur batik untuk para pengrajin quilt, selimut perca yang sudah menjadi tradisi di Amerika Serikat. Uniknya, selimut perca mereka menggunakan motif batik yang  diproduksi secara langsung di Solo, bekerja sama dengan Pabrik “Batik Pria Tampan.”

Debra Lunn dan Michael Mrowka (sumber : voaindonesia.com)
Debra Lunn dan Michael Mrowka (sumber : voaindonesia.com)

Dengan pabrik tersebut, Debra dan Michael  menentukan desain dan warna serta bagaimana mengaplikasikan pada kain, sementara para pekerja di pabrik Batik Pria Tampan akan mengerjakan pembuatan batik tersebut. Ciri khas pewarnaaan dari batik yang dikerjakan di Solo adalah pewarnaan dengant teknik lipat yang mirip dengan prinsip tie-dye. “Warnanya juga warna – warni yang menyesuaikan dari Amerika, karena kebetulan tidak ada warnanya di sini,” Demikian diungkapkan Andri Seriawan, Direktur Pabrik Pria Tampan.  

Debra dan Michael telah melibatkan diri mereka selama 30 tahun dalam dunia seni quilting dan pewarnaan tekstil. Sempat bekerja sama dengan beberapa perusahaan batik besar di Indonesia, mereka akhirnya memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan Batik Pria Tampan, dikarenakan misi sosial yang ingin mereka lakukan. Tidak hanya berkaitan dengan memproduksi dan mendistribusikan kain batik dari Indonesia ke Amerika, Debra dan Michael juga sangat peduli pada kesejahteraan para pekerja pabrik tersebut.

Baca Juga
Proses pewarnaan dilakukan berdasarkan apa yang sudah dirancang oleh Debra dan Michael. Sedikit berbeda dari batik pada umumnya  (sumber : voaindonesia.com)
Proses pewarnaan dilakukan berdasarkan apa yang sudah dirancang oleh Debra dan Michael. Sedikit berbeda dari batik pada umumnya (sumber : voaindonesia.com)

“Semakin kami tahu tentang indonesia, kami jadi tahu kondisi para pekerja kami dan terkejut,” ungkap Michael. Mereka lalu mengusulkan agar para pekerja diperhatikan akan kondisi dan kesejahteraannya seperti menggunakan kamar mandi dan toilet yang bersih, menyekolahkan anak – anak para pekerja dan memberikan upah minimum atau lebih. “Tapi, tidak satupun mitra kerja kami yang menerima usulan itu,” jelas Michael. Batik Pria Tampan akhirnya menjadi perusahaan yang mereka pilih untuk diajak bekerja sama sebab perusahaan ini memiliki komitmen yang tinggi untuk menyejahterakan karyawannya, dan hal itu sesuai dengan misi yang ingin dilakukan oleh Debra dan Michael.

Bersama dengan Batik Pria Tampan, Debra dan Michael menjalin kerjasama dan mengerjakan berbagai kegiatan sosial demi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan karyawan pabrik batik tersebut. Hasilnya sungguh menakjubkan, sebab banyak karyawan merasa tertolong akan perhatian dan pemenuhan kesejahteraan mereka oleh pihak pabrik. Sebagian dari mereka merasa tercukupi segala kebutuhannya dengan bekerja di pabrik Batik Pria Tampan ini.

Dengan produksi lebih dari 90 ribu meter batik per bulan, sebagian besar batik tersebut diekspor ke Amerika dan Eropa. Selain itu, Debra dan Michael juga turut berkolaborasi untuk membantu pabrik ini menjadi lebih ramah lingkungan serta mendirikan perpustakaan gratis untuk segala umur yang bernama Perpustakaan Ganesa. Perpustakaan ini memiliki beragam aktivitas yang bisa dinikmati oleh segala kalangan serta mendapat pasokan biaya operasional dari keuntungan penjualan batik Pria Tampan.


Sumber :VOA Indonesia

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata