Perjalanan uji jaringan di propinsi Banten yang kami lakukan masuk di hari ketiga.  Hari terakhir kami berada di Banten ini akan kami habiskan di kawasan Kampung Baduy yang katanya sama sekali tak boleh bersentuhan dengan teknologi.

Setelah melakukan uji jaringan di titik penyeberangan Pulau Umang,  kami langsung bergegas menuju kota Pandeglang untuk bermalam.  Target kami agar esok harinya perjalanan ke Baduy tidak memakan waktu lama dan setidaknya kami tiba di terminal Ciboleger, masih di pagi hari.

Dari Pandeglang menuju terminal Ciboleger kami tempuh selama kurang lebih 2 jam.  Pukul 9.30 wib, kami tiba di terminal Ciboleger.  Ini adalah pintu masuk utama ke kampung suku Baduy.  

Suku ini terbagi dalam suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam.  Keduanya memiliki keunikan tersendiri.  Namun intinya mereka masih menjaga dan melestarikan budaya serta tradisi turun-temurun dari nenek moyangnya.

Dilihat dari jumlah penduduknya, masyarakat baduy luar atau urang penamping memiliki kelompok besar berjumlah ribuan orang yang menempati puluhan kampung di bagian utara Kanekes seperti daerah kaduketuk, cikaju, gajeboh, kadukolot, Cisagu, dan sebagainya.  Sementara di bagian selatan yang terletak di pedalaman hutan ditempati masyarakat Baduy dalam atau urang Dangka yang hanya berpenduduk ratusan jiwa serta tersebar di tiga daerah, yaitu kampong Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana.

Secara penampilan, Suku Baduy Dalam memakai baju dan ikat kepala serba putih. Sedangkan Suku Baduy Luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna biru.

Menuju Baduy Luar

Pertama kali menginjakkan kaki di Ciboleger ini, kami langsung dihadapkan pada beberapa kios atau toko yang menjajakan kerajinan tangan masyarakat Baduy.  Kebetulan di salah satu kios, kami berjumpa dengan salah salah seorang suku baduy.  Adalah Husin yang menggunakan ikat kepala warna putih.  Kami berkesimpulan bahwa Husin adalah salah satu warga suku Baduy dalam.  

Meski berasal dari suku Baduy Dalam, Husin ternyata memiliki keinginan untuk selangkah lebih maju lagi.  Ia rajin belajar mengenal huruf dari masyarakat sekitar dan juga trainer di Broadband Learning Center (BLC) yang dibangun oleh Telkom.  Ia pun tak canggung lagi menggenggam ponsel yang ia pinjam dari salah seorang warga di terminal Ciboleger.

Masyarakat Baduy kini mulai mengenal dunia internet.  Beberapa waktu lalu PT Telekomunikasi  Indonesia Tbk (Telkom) menghadirkan  Broadband Learning Center (BLC) di SDN II Bojong Menteng, Kampung Ciboleger, Desa Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar yang notabene kawasan sekitar kampung Baduy.

Sarat Akan Handmade

Setelah berdialog beberapa saat dengan Husin, kami langsung menuju ke kawasan Baduy luar.  Menurut warga di kawasan Coboleger, untuk menuju Desa Baduy Luar tepatnya desa Gajeboh memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan berjalan kaki.  Desa ini ditandai dengan adanya jembatan yang terbuat dari bambu dan dibangun sama sekali tidak menggunakan paku.  Semua bermaterial alami yang tidak terkait dengan teknologi modern.

Saat mulai memasuki area Baduy Luar, sekitar 200 meter dari pintu masuk - berupa gapura yang menjadi pembatas antara masyarakat luar dengan suku Baduy Luar- kita bisa menjumpai rumah-rumah suku Baduy luar yang hampir 100% menjajakan dagangan kerajinan karya masyarakat Baduy.  Semua kerajinan yang mereka buat merupakan karya tangan, tidak menggunakan mesin.

Pun dalam perjalanan satu jam menuju jembatan Gajeboh, hampir 100% pula rumah-rumah suku Baduy luar yang kami lewati terlihat para wanitanya melakukan pekerjaan menenun kain.  Menggunakan alat tradisional tenun, dalam seminggu mereka mampu menghasikan satu buah kain siap jual.

Sementara para kaum pria nya juga kerap kami jumpai di perjalanan sambil memikul hasil bumi untuk di jual ke kota via Ciboleger.  Tak hanya lelaki dewasa, anak-anak seusia 9 hingga 12 tahun pun sudah begitu lincah memikul 4 tandan pisang sekaligus melalui jalan terjal yang menguras energi.

Aktifitas suku baduy | indonesiakayacom
Aktifitas suku baduy | indonesiakayacom

Telekomunikasi Baduy

Di kawasan Ciboleger dan sekitarnya, komunikasi seluler bisa dirasakan. Adalah Telkomsel yang menggelar layanannya di sini. Tak tanggung-tanggung, jaringan 4G langsung ditancapkan oleh operator merah putih ini di kawasan Kampung Baduy dan sekitar Coboleger. 

Memang untuk coverage di kawasan Baduy, hanya sebatas kampung Baduy luar saja.  Layanannya pun hanya sebatas SMS.  Kalau kita ingin melakukan panggilan suara alias telepon, kita mesti berpindah posisi ke daerah yang lebih tinggi. 

Satu operator lain yang juga sudah memberikan layananya di sini adalah Indosat.  Meskipun operator ini hanya mampu menyuguhkan jaringan 3G yang punya kecepatan akses data di bawah 4 Mbps dan cuma sebatas kawasan terminal Ciboleger saja.  Bila mulai masuk ke kampung Baduy luar, sinyal yang di dapat adalah nol alias blank spot.   Jangankan untuk akses data, bertelepon dan SMS sudah tidak bisa dilakukan via operator Indosat.

Sementara tiga operator lain yakni XL, Tri, dan Smartfren sama sekali tidak terdeteksi sinyalnya.  Jangankan untuk akses data, sekedar ber-SMS pun tidak bisa.  Indikator sinyal ketiga operator benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda “kehidupan”.

4G Telkomsel Sendirian

Bagaimana dengan layanan akses data?  Bila kita berada di kawasan Ciboleger, jangan ditanya untuk akses jaringan 4G nya.  Kekuatan akses data di kawasan ini sungguh super.  Tembus hingga 76,94 Mbps.  Dan akses 4G itu hanya milik Telkomsel.

Pengujian jaringan kali ini kami lakukan pada Kamis, 10 November 2016 mulai pukul 09.30 hingga pukul 14.00 Wib.  Masih menggunakan perangkat ponsel Lenovo Vibe K-5 Plusdan tiga aplikasi uji : SpeedTest, Sensorly, dan nPerf.

Akses data dan koneksi internet dari Telkom dan Telkomsel inilah yang membantu masyarakat Baduy menjadi melek teknologi.    Salah satu contohnya adalah saat masyarakat Baduy yang ingin menjual kerajinan tangannya, tak perlu lagi menunggu lama dan repot-repot menjajakan hasil karyanya kepada pengunjung dan wisatawan yang datang.  Mereka bisa memanfaatkan jejaring sosial untuk menawarkan produk hasil kerajinan tangannya. 

4G Telkomsel Super Joss

Seperti halnya Muhazar, penduduk Baduy Luar yang cukup rajin mengikuti kelas belajar internet di BLC.  Awalnya ia kurang begitu berminat terhadap perangkat komputer.  Setelah sekali, dua kali, dan terus berulang menyambangi BLC, lama-lama ia ketagihan.  Meskipun pada dasarnya masyarakat Baduy seperti Muhazar tidak mengenal huruf dan angka alias buta huruf.  Di BLC inilah mereka dibukakan matanya dan diberi pendidikan dasar termasuk baca tulis. 

Menurut Sahroni, salah seorang pemandu wisata di kampung Baduy Luar, kehadiran internet membuat kehidupan masyarakat di kawasan ini berubah drastis.  Awalnya mereka sama sekali buta akan dunia luar.  Termasuk cara mereka berjualan hasil kerajinan tangan yang mereka buat.

Alhasil, jangankan sekedar menjual kerajinan tangan via internet baik PC atau ponsel, kini masyarakat Baduy pun mulai melek teknologi dan tak bisa lagi disebut sebagai suku yang tertinggal.  

“Kami bisa melihat kehidupan daerah lain dari internet.  Bahkan kami bisa keliling dunia hanya dari meja komputer,” ujar Sahroni bercerita.  Ia pun memaparkan alat komunikasi berupa ponsel yang juga sudah bisa digunakan di daerah ini. Meski hampir semua masyarakat Baduy tidak memiliki ponsel dan hanya sesekali meminjam milik warga di luar Baduy.

Dari sisi bisnis, kawasan Baduy bukanlah pasar yang menjanjikan.  Dipastikan membangun jaringan telekomunikasi di kawasan Baduy sangat tidak mungkin bisa memberikan keuntungan bagi operator penyedia layanan.  Dari sisi bisnis, Baduy sangat tidak seksi untuk dijamah operator seluler.

Namun tidak dengan Telkomsel.  Anak perusahaan Telkom ini selalu berkomitmen dan konsisten untuk terus menebar sinyal hingga ke pelosok negeri dan perbatasan negara. Telkomsel lagi-lagi membuat perubahan yang sangat signifikan dari sebuah kawasan tertinggal lewat sinyal 4G nya.  

(Indotelko.com)

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu