Lupa Sandi?

Band Ini Populerkan Musik Tradisional Indonesia Dengan Cara Nyeleneh

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Band Ini Populerkan Musik Tradisional Indonesia Dengan Cara Nyeleneh
V1mast menggunakan Saron © Bagus DR / GNFI

Sore itu, suara alat musik saron terdengar beriringan dengan drum diikuti dengan lirik yang cukup unik namun dekat dengan kehidupan anak-anak muda. Saron hanyalah salah satu alat musik tradisional yang digunakan oleh band yang digawangi oleh Viza Mahasa dan Vais Randi bernama V1MAST. Saat itu, band yang mengusung aliran world music tersebut sedang tampil di acara Apresiasi Karya Tiada Henti #untukindonesia Kamis (15/12).

V1MAST memang berbeda. Selain jarang ditemui di Indonesia, band dengan konsep mengharmonikan instrumen tradisional dengan modern juga terbilang sulit, sebab sebagian besar alat musik tradisional hanya memiliki nada-nada minor yang kerap digunakan sebagai instrumen meditasi ketimbang untuk hiburan dengan adrenalin tinggi.

Tidak heran bila kemudian dalam beberapa penampilan internasional, band yang terbentuk sejak 3 September 2015 tersebut memenangkan penghargaan dan berulang kali diminta untuk menampilkan karyanya dihadapan masyarakat dunia bahkan para pemimpin dunia. Seperti pada saat memenangkan Dukafest 2016 sebagai Special Award For Best Ensemble Performance di Bosnia.

Baca Juga

Viza mengungkapkan bahwa penggunaan alat musik tradisional merupakan upayanya untuk menjaga kelestarian budaya asli Indonesia. Sebab menurutnya, alat musik tradisional saat ini dianggap sebagai instrumen yang ketinggalan jaman oleh anak-anak muda. Itu sebabnya, lewat V1MAST dirinya bersama Vaiz berusaha untuk kembali mengangkat kekayaan budaya bangsa tersebut.

V1mast saat diwawancarai GNFI usai Apresiasi Karya Tiada Henti #untukindonesia (Foto: Bagus DR / GNFI)
V1mast saat diwawancarai GNFI usai Apresiasi Karya Tiada Henti #untukindonesia (Foto: Bagus DR / GNFI)

Instrumen yang digunakan V1MAST pun tidak hanya instrumen musik tradisional dari Jawa seperti Saron dan Kenong dari gamelan, tetapi juga terdapat alat musik lain dari Kalimantan seperti Sapeh. Alat musik lain yang telah menjadi warisan budaya dunia seperti Angklung pun tidak ketinggalan menjadi salah satu instrumen yang mereka gunakan.

"Kami ingin dikenal sebagai band yang bisa mewakili identitas Indonesia. Caranya adalah dengan mempopulerkan world music di Indonesia", ujar Viza pada GNFI usai menampilkan beberapa lagu di Graha Merah Putih Telkom Indonesia.

Pria kelahiran Jakarta tersebut juga menambahkan bahwa saat ini belum ada world music di Indonesia sehingga V1MAST ingin tampil sebagai yang pertama di negeri ini.

Penampilan V1mast saat menggunakan alat musik Sapeh dari Kalimantan (Foto: Bagus DR / GNFI)
Penampilan V1mast saat menggunakan alat musik Sapeh dari Kalimantan (Foto: Bagus DR / GNFI)

World music sendiri merupakan sebuah kategori musik yang menampilkan gaya-gaya bermusik yang berbeda dari musik kontemporer. Pada umumnya, penampilan musik ini menggunakan pendekatan-pendekatan etnik berdasarkan latas belakang masing-masing musisinya, termasuk di dalamnya adalah musik folk yang belum lama ini sedang naik daun di Indonesia.

Vais pun menambahkan, awal berdirinya V1MAST sesungguhnya terinspirasi dari kesadaran tentang kebudayaan Indonesia utamanya musik tradisional. Dirinya merasa perlu untuk membuat musik tradisional menjadi populer dan tidak dianggap kuno.

"Kan banyak anak muda yang bilang ketika mendengarkan musik tradisional membuat mereka mengantuk, kita tidak ingin itu terjadi" jelas pria asal Solo tersebut.

Rupanya, cara yang dipilih oleh V1MAST untuk mempopulerkan musik tradisional dikalangan anak muda adalah dengan memasukkan lirik-lirik yang sedikit nyleneh namun mampu menarik perhatian seperti yang tersaji dalam lagu Jogja Love Story.

Viza pun menambahkan bahwa sayangnya saat ini masyarakat Indonesia lebih gemar terhadap karya musik luar negeri. Padahal Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, namun lebih banyak diapresiasi oleh masyarakat internasional. "Kita sudah tur 15 negara di dunia, dan kami lebih dikenal di luar negeri," ungkapnya.

Ketika disinggung tentang anak muda di Indonesia. Vais pun berpesan bahwa anak muda jangan terlalu memikirkan uang ketika berkarya. Dirinya menekankan bahwa karya adalah hal yang utama.

"Jangan takut dibilang kuno ketika mempopulerkan world music, karena musik tradisional seperti gamelan bisa dibuat modern," pesan Vais.

V1MAST yang berencana akan meluncurkan album pertama mereka di Winter Festival di Eropa pun berharap bahwa mereka bisa menjadi pioner world music di Indonesia. Mereka pun merasa berterima kasih karena Tuhan telah memberikan jalan bagi world music untuk muncul di Indonesia. Selain itu, media pun turut menjadi penentu kepopuleran jenis musik baru tersebut.

"Mempopulerkan world music di Indonesia membutuhkan dua bantuan, yakni bantuan Allah dan bantuan media. Oleh karena itu kami sangat berterima kasih pada Good News From Indonesia dan kami berharap world music benar-benar mampu eksis di Indonesia," tutup Vais.

Hingga saat ini beberapa single karya V1MAST telah tersedia di iTunes dan dapat dinikmati secara luas di seluruh dunia.

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih11%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau56%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie