Lupa Sandi?

Etu, Sebuah Tinju Tradisional dari Flores

adli hazmi
adli hazmi
0 Komentar
Etu, Sebuah Tinju Tradisional dari Flores

Siapa yang tak kenal olahraga tinju. Di Indonesia, olahraga yang satu ini boleh dibilang sudah memiliki tempatnya sendiri. Sebagaimana yang kita tahu selama ini, tinju merupakan olahraga dimana dua orang saling bertarung menggunakan pukulan sebagai salah satu syarat pertandingan, kedua petinju wajib menggunakan gloves atau sarung tinju.

Bicara tinju, ada satu budaya menarik dari Nusa Tenggara Timur terkait olahraga yang satu ini. Etu namanya, olahraga dari Flores ini konon bermula dari suku Nagekeo dan sudah menjadi tradisi di Masyarakat Boawae, cara bertandingnya yang mirip dengan tinju.

Ada dua kategori dalam permainan ini, yakni untuk anak-anak, disebut juga etu coo atau mbela loe dan untuk dewasa atau dalam bahasa Flores disebut dengan etu meeze atau mbela mese. Kedua kategori ini akan dimainkan dihari yang berbeda, etu coo akan dimainkan pada hari pertama sedangkan etu meeze akan dimainkan pada hari berikutnya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Petarung Etu saling adu pukulan (Floresbangkit.com)

Baca Juga

Biasanya, pagelaran tradisional ini akan digelar antara bulan Juni-Juli, sebagai serangkaian dari acara adat yang memperingati hari dari menanam hingga panen di kebun dan berlokasi di tengah kampung

Meskipun mirip dengan tinju kovensional, namun ada beberapa aturan dasar yang membedakan etu dengan pertandingan tinju yang biasa kita tonton. Pertama, olahraga ini hanya boleh dimainkan oleh kaum pria. Para wanita bisa mengambil peran sebagai penyemangat dengan menyanyian lagu daerah, peran ini disebut dengan dio.

Kedua, pemain hanya boleh menggunakan satu tangan yang dibalut dengan sarung tinju tradisional. Sarung tinju ini terbuat dari sabut kelapa atau dalam bahasa lokal disebut Keppo atau Wholet. Bagaimana dengan tangan satunya ? berbeda dengan pertandingan pada umumnya, dipertandingan ini tangan yang tak dilindungi sarung tinju hanya boleh digunakan untuk menangkis.

Hal lain yang membedakan Etu dengan pertandingan tinju yang biasa kita tonton adalah pemakaian sarung tinjunya. Bila umumnya sarung tinju disarungkan, di olahraga ini keppo atau wholet hanya dililitkan di tangan pemain. Ketiga, tidak ada batasan waktu yang jelas untuk setiap pertandingan. Pemain akan dinyatakan kalah ketika ia terjatuh atau mengeluarkan darah.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Ketika petarung etu siap menyerang (www.gaedegambarist.blogspot.sg)

Setidaknya ada 3 seka atau wasit dalam pertandingan tinju ala NTT ini. Ketiga seka ini nantinya akan dibantu oleh 2 sike, yakni orang yang bertugas untuk mengendalikan pemain tinju. Jika dalam pertandingan pemain sudah tidak terkontrol, seperti menyerang dengan membabi buta, maka tugas sike lah untuk menarik si pemain dan menjauhkannya dari sang lawan. Sike mampu mengendalikan situasi karena jaraknya yang selal dekat dengan pemain.

Meski di akhir pertandingan para pemain etu pasti mengalami lebam-lebam bahkan berdarah, ada satu aturan lagi yang musti ditaati setiap petarung. Tak boleh dendam terhadap lawan. Alhasil, alih-alih bermusuhan, ketika pertandingan usai, para pemain tinju tradisional ini justru harus saling berpelukan dan melambaikan tangan penonton. Sikap ini merupakan symbol adanya perdamaian dan sportivitas antar pemain.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADLI HAZMI

Coffee addict, travel and sport enthusiast. a person who really likes international politics. Follow my Instagram @adli_hazmi ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara