Asal Mula Warung Tegal yang Kini Kian Mendunia

Asal Mula Warung Tegal yang Kini Kian Mendunia

Aneka ragam masakan Warung Tegal. zomato.com

Ekonomi boleh naik turun silih berganti, namun ada satu bisnis yang eksistensinya tetap utuh dari jaman ke jaman, yaitu warung tegal atau biasa kita sebut warteg.

Warteg merupakan sebuah tempat makan kecil dengan bangunan yang berbentuk bedeng darurat berukuran 3x3 meter dan bagian depan biasanya bercat biru yang berfungsi sebagai tempat berjajarnya aneka ragam masakan rumah mulai dari sayur hingga lauk pauk, seperti tahu tempe, ikan, ayam, oseng-oseng, sambal ,kerupuk dan masih banyak lagi.

Selain itu, warteg juga terkenal dengan menjajakan nasi ponggol, yaitu hidangan makanan nasi putih dengan lauk makanan sambal, tahu, dan tempe yang dibungkus dengan daun pisang. Menu itu merupakan makanan khas Tegal yang sudah turun temurun dan diperkirakan ada sejak setengah abad yang lalu. Karena namanya yang mengandung unsur nama kota yaitu Kota Tegal, warung ini dipercaya bahwa orang tegalah yang pertama kali membudayakan jenis bisnis ini.

Konon katanya, warteg mulai muncul tahun 1960-an saat pengelolaan infrastruktur ibu kota tengah pesat kala itu. Banyak orang Tegal merantau ke ibu kota untuk mencari pekerjaan sebagai kuli bangunan. Di sela-sela waktu, para istri kuli yang sudah terlebih dulu memiliki usaha warung makan di Kota Tegal tersebut memanfaatkan waktu dan kesempatan bisnis yaitu dengan menyediakan layanan kuliner di lokasi proyek. Mereka mampu menjual produk makanan rumah dengan porsi banyak namun murah di sekitar area proyek untuk para kuli. Hal ini lantas menjadi satu stereotip Warteg yang dikenal publik hingga hari ini dan menjadi bisnis yang semakin menjamur di berbagai kota.

Warteg menjadi tempat makan paling bersahabat khususnya bagi para pekerja dan mahasiswa
Warteg menjadi tempat makan paling bersahabat khususnya bagi para pekerja dan mahasiswa

Usaha warung tegal ini biasanya menjadi bisnis kelompok keluarga dengan sistem pengelolaan secara bergantian dan juga turun temurun. Ketika ayah dan ibu memiliki usaha satu warung tegal, hal ini menular kepada anak-anaknya yang juga memiliki usaha warung tegal entah di kota yang sama atau kota yang berbeda. Mereka juga tergabung dalam Perhimpunan Kowarteg (Koperasi Warung Tegal) yang bertujuan untuk menjalin kerjasama dan membantu para anggotanya melalui wadah koperasi tersebut.

Kian hari bisnis ini dipandang sebagai bisnis yang menjanjikan bagi mayoritas orang terutama para pekerja di ibu kota. Dengan gaji yang tidak seberapa untuk memenuhi biaya hidup yang terlampau tinggi, para pekerja biasanya mengambil kesempatan untuk membuka warung makan tegal di kawasan industri dan area kampus di sela-sela pekerjaan mereka sebagai karyawan.

Sasaran pembeli mereka adalah para mahasiswa dan pekerja menengah ke bawah. Meski bukan termasuk bisnis industri besar, namun bisnis warung tegal ini banyak diminati oleh mayoritas orang mengingat warung makan sudah menjadi kebutuhan khususnya untuk para pekerja dan mahasiswa.

Warung Tegal di Amsterdam. facebook.com/warung-tegal/202641256485766
Warung Tegal di Amsterdam. facebook.com/warung-tegal/202641256485766

facebook.com/warung-tegal/202641256485766
facebook.com/warung-tegal/202641256485766

Tak hanya di Indonesia, bisnis warteg ini kian merambah dunia global. Sudah semakin banyak bisnis warteg yang dibuka di beberapa negera tetangga seperti Malaysia, Korea Selatan, bahkan kawasan negara-negara di Eropa.

Di Amsterdam, Belanda misalnya, ada sebuah warung tegal milik Fatma Martak dan Budi Santoso.Keduanya telah membuka bisnis warteg ini dalam kurun waktu yang relatif lama. Bahkan, kini mereka memiliki pelanggan asli orang Belanda yang menyukai masakan asli Indonesia.

Warteg di Amsterdam ini mulai buka pukul 11 pagi hingga 8 malam. Alasan mereka berdua memilih untuk membuka bisnis warteg dibanding restoran di negeri orang adalah karena pertimbangan waktu dan kesempatan. Mereka melihat bisnis ini sangat menjanjikan di negeri orang mengingat banyak orang Indonesia yang bermukim di Belanda. Terkadang warteg ini dapat mengobati rasa rindu penduduk Indonesia di sana dengan menyediakan masakan Indonesia yang relatif murah dan terjangkau.


Sumber : Dirangkum dari beberapa sumber.

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang5%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau6%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mulanya, Hari Ibu Tak Sekadar Ungkapan Kasih Sayang... Sebelummnya

Mulanya, Hari Ibu Tak Sekadar Ungkapan Kasih Sayang...

SELAMAT! Claudia Gadis Cirebon Raih Kemenangan di Final the Voice of Germany Selanjutnya

SELAMAT! Claudia Gadis Cirebon Raih Kemenangan di Final the Voice of Germany

Nudia Imarotul Husna
@nudiaIH

Nudia Imarotul Husna

Postgraduate student at Monash University, Australia. Peminum kopi, penikmat buku, pemburu ilmu, penggerak kata. Sedang tertarik dengan politik dan sejarah.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.