Lupa Sandi?

Kisah Djainem, Dukun Jawa di Tanah Belanda

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
0 Komentar
Kisah Djainem, Dukun Jawa di Tanah Belanda

Namanya Djainem Moeridjan, dan ia lahir jauh dari tanah Jawa. Bapak ibunya dipertemukan karena pekerjaan di Suriname. Ia tumbuh sebagai diaspora Jawa, namun tak pernah kehilangan akar budaya leluhurnya yang dipelajari selama berpuluh – puluh tahun. Tidak banyak lagi dukun Jawa yang masih bisa melakukan ritual sebagaimana diwariskan turun temurun. Setelah hampir 30 tahun bermigrasi dari Suriname ke Belanda, ia masih sibuk berpergian dari kota ke kota, ke seluruh penjuru Belanda untuk memenuhi panggilan. Walaupun usianya kini menginjak 83 tahun

Djainem Moeridjan adalah anak keempat dari pasangan Satirin (yang kemudian diganti namanya menjadi Moeridjan) dan Bok Toekijem Pawiredjo. Keduanya diberangkatkan dari Jawa ke Suriname dan menjadi pekerja perkebunan, lalu memutuskan untuk tinggal di Suriname setelah kontrak kerja mereka habis. Perjalanan hidup mereka di Suriname tidaklah mulus, namun berkat pertolongan sesama djadji (teman satu kapal), mereka bisa menjalani hidup di Suriname dengan cukup baik. Hingga akhirnya keluarga ini bertemu dengan Mardi, seorang dukun yang memiliki ilmu yang cukup tinggi. Dalam ingatan Djainem, Mardi berasal dari Magelang (sedangkan Arsip Nasional Belanda menyatakan bahwa Mardi berasal dari Ponorogo).

Moeridjan, Toekijem dan Mardi (agustinuswibowo.com)
Moeridjan, Toekijem dan Mardi (©agustinuswibowo.com)

Ketika berusia 13 tahun, Djainem sering sakit – sakitan dan akhirnya ia berhenti sekolah. Ketika pengobatan medis tak mampu menyembuhkan sakitnya, lewat bantuan Pak Mardi, Djainem akhirnya sembuh.   Djainem pun diserahkan ayahnya untuk membantu di rumah Pak Mardi. Dalam pekerjaannya membantu pak Mardi, ia kerap diceritakan berbagai hal oleh Pak Mardi, yang ternyata itu menarik hatinya. Pak Mardi pun terkesan dengan Djainem yang sangat menaruh perhatian pada cerita – ceritanya.

Pada usia 16 tahun, Djainem menikah. Namun tidak berjalan baik dan akhirnya ia kembali ke rumah orangtuanya. Lepas dari itu, Pak Mardi akhirnya menyatakan keinginannya untuk mengambil Djainem sebagai muridnya. Ibunya tidak setuju, namun lain dengan ayahnya. Dengan dalih bantu – bantu di rumah Pak Mardi, Djainem pun mendalami ilmu perdukunan dari Pak Mardi. Berbagai hal ia pelajari, yang semuanya berakar dari budaya, nilai dan filosofi Jawa, tanah leluhurnya yang belum pernah ia pijak sama sekali.

Semua yang dipelajari oleh Djainem diperoleh secara lisan, diturunkan dari mulut ke mulut. Puasa berdasar tradisi Jawa pun ia lakukan. Hingga akhirnya semua ilmu dari Pak Mardi telah ia pelajari. Djainem memiliki kemampuan 3M, yaitu : Metu (kelahiran), Manten (pernikahan), dan Mati (kematian). Satu yang dipesankan Pak Mardi adalah Djainem harus mengingat tanggal kematiany Pak Mardi dan di mana ia dikubur, serta jika ingin memakai ilmu Pak Mardi maka ia harus berjaga selama 24 jam dan melakukan puasa.

Djainem dan keluarga ketika berkunjung ke Yogyakarta (©agustinuswibowo.com)
Djainem dan keluarga ketika berkunjung ke Yogyakarta (©agustinuswibowo.com)

Pada usia 43 tahun, Djainem akhirnya bisa mempraktekkan ilmu yang dia pelajari dari Pak Mardi. Ia membantu anak kakak perempuannya yang hendak melakukan persalinan. Selepas dari itu, ia kerap menjadi orang yang dipercaya untuk melakukan berbagai ritual dan tradisi Jawa seperti memandikan jenazah, upacara kematian, selametan dan sebagainya.

Tahun 1985 Djainem mengungsi dari Suriname ke Belanda sehubungan dengan gejolak politik yang ada di negara tersebut. Tiga tahun kemudian, untuk pertama kalinya Djainem menginjakkan kaki di tanah jawa, tanah kelahiran ayah ibunya serta leluhur pewaris tradisi yang ia pelajari. Kedatangannya adalah untuk mencari tahu sejarah ayah ibunya. Ketika berada di Prawirotaman, ia teringat akan ibunya yang selalu menangis ketika ditanya tentang tanah air. Djainem pun mengambil secungkil tanah, disimpan di dalam koper lalu ia bawa ke Suriname. Di sana, tanah tersebut ia tabur di atas makam sang ibu. Hal yang sama ia lakukan ketika ia berkunjung ke Ponorogo. Di Terminal Tulungagung, ia mengambil sejumput tanah untuk makam ayahnya.

Saat ini, ia menikmati hari tuanya di Belanda, sembari sesekali menjalankan praktek bila ada yang membutuhkan (©agustinuswibowo.com)
Saat ini, ia menikmati hari tuanya di Belanda, sembari sesekali menjalankan praktek bila ada yang membutuhkan (©agustinuswibowo.com)

Dalam dirinya, Djainem masih menyimpan kitab, tradisi, dan detail filosofi tentang Jawa. Hingga saat ini ia masih kebingungan kepada siapa ia harus mewariskan segala ilmunya ini, dengan harapan agar tradisi dan akar budaya leluhur tidak hilang begitu saja. Empat murid pernah ia ajari, namun semuanya belum ada yang benar – benar mewarisi secara utuh. Hal itu menjadi kekhawatiran tersendiri baginya, bagaimana agar tradisi dan nilai – nilai Budaya Jawa tetap bertahan di tengah terpaan zaman.     


Sumber :www.agustinuswibowo.com

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih15%
Pilih SenangSenang4%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau13%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata