Sweet disposition... Never too soon...

Begitulah kira-kira potongan lirik lagu milik sebuah band yang berasal dari negeri kanguru The Temper Trap. Namun siapa sangka, pria dengan suara merdu yang melantunkan lagu tersebut berasal dari Indonesia.

Adalah Dougy Mandagi, pria berdarah Manado ini sukses menjadi vokalis dari sebuah band yang menembus pasar indie internasional.

Kiprahnya sudah tidak diragukan lagi. Berkat warna suaranya yang unik, Dougy berhasil membawa The Temper Trap meraih popularitasnya sebagai band dengan aliran alternative rock pada masyarakat dunia.

Suara merdu dari pria yang keluarganya sangat kental dengan tradisi gereja ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga masyarakat Indonesia. Lagu yang berjudul Sweet Disposition dari band yang berasal dari Australia ini pernah menghiasi layar televisi tanah air lewat iklan sebuah mobil ternama.

Pada tahun 2009, lagu tersebut juga menjadi salah satu soundtrack dari film drama romantis Hollywood berjudul (500) Days of Summer yang dibintangi oleh Zooey Deschanel dan Joseph Gordon-Levitt.

Berkat usaha Dougy dan teman-temanya menciptakan lagu yang harmonis dan emosional, beberpa prestasi berhasil diraih. Mereka meraih penghargaan Song of the Year “Sweet Disposition”, Best Group, Most Popular Australian Single “Sweet Disposition” pada tahun 2010 oleh ARIA Music Awards, sejenis penghargaan kelas Grammy di Australia.

Dua tahun berikutnya, penghargaan Best Group, Best Rock Album “Temper Trap” oleh ARIA Music Awards kembali diterima, dan juga Best Band oleh EG Music Awards. Hal ini merupakan bukti jika karya seorang pemuda Indonesia dapat bersaing di kancah internasional.

Perjalanan Dougy dan The Temper Trap

Meski kini tengah naik daun, ternyata pria kelahiran 20 Januari 1980 ini tidak menempuh perjalanan hidup yang mudah. Masa kecilnya selalu hidup berpindah-pindah, meskipun menetap lama di Indonesia dan memutuskan untuk pindah ke Melbourne.

Lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang seni dan penyuka musik, darah seni pun mengalir dalam dirinya, dipengaruhi oleh ayahnya yang gemar dengan musik country. Namun, pria yang masih ada garis keturunan dari pahlawan nasional Arie Lasut ini harus kehilangan ayahnya karena kecelakaan pesawat saat usianya masih enam tahun.

Merasa tak tega, Dougy kecil pun dibawa oleh kakeknya pindah ke Hawai. Hidup tidak berjalan dengan mulus, kendala bahasa sempat dialami olehnya. Namun saat Dougy mulai bisa menyesuaikan, ia dipulangkan ke Bali untuk menemani ibunya.

Benturan budaya kembali dialami pria berkumis ini, ia menjadi asing dengan bahasa induknya sendiri. Akibatnya, Dougy yang tidak bisa menyesuaikan pergaulan pun sering menjadi bulan-buanan di sekolahnya. Kemudian ia dikirim ke Sulawesi untuk tinggal bersama pamannya. Di sinilah pria yang bernama asli Abby Ray Chrisna Mandagi ini mulai mengenal musik.

Tidak hanya menyukai musik namun juga hobi menggambar, hal ini membuat Dougy remaja ingin masuk ke jurusan seni. Pria berkulit sawo matang ini lantas pindah ke Melbourne, Australia, bersama ibunya. Seakan keberuntungan belum berpihak padanya, Dougy tidak lolos memasuki jurusan kuliah yang diinginkan. Sebagai pelarian, ia pun mulai menekuni dunia musik.

Tak kunjung lulus dari kuliah, pria yang lahir di Bandung ini pun sempat menjadi penjaga toko, pengamen dan seniman potret jalanan. Hingga pada tahun 2005, ia bersama kawan-kawannya membuat sebuah band yang kini dikenal masyarakat, The Temper Trap. Penampilan perdana band ini terjadi pada St Jerome's Laneway Festival pada bulan Maret 2006 di Melbourne.

Dougy Mandagi bersama band yang dimotorinya, The Tamper Trap, terbentuk tahun 2005.
Dougy Mandagi bersama band yang dimotorinya, The Temper Trap, terbentuk tahun 2005.

Berawal dari bekerja di tempat yang sama di salah satu toko retail di Melbourne, Dougy dan Toby memiliki keinginan untuk membentuk sebuah band. Karena merasa masih kekurangan angota, Dougy mengajak Jonathan, seorang teman yang pernah berguru gitar pada pria yang sering dikira berasal dari Filipina tersebut. Beberapa watu setelah mereka terbentuk, Toby kemudian mengajak teman lamanya, Lorenzo, untuk bergabung. Empat orang ini lah yang kemudian memperkenalkan diri mereka sebagai The Temper Trap.

Pada tahun 2008, grup ini kemudian menandatangani kontrak untuk membuat album pertama mereka di bawah naungan perusahaan rekaman indie. Peluncuran album perdana yang sukses membuat Dougy dkk berani melebarkan sayap di pasar musik Eropa. Selanjutnya, pada tahun yang sama mereka memutuskan untuk hijrah ke London. Ekspektasi mereka pun terpenuhi, pasar musik Eropa merespon dengan baik.

Hingga kini Dougy bersama band yang dimotorinya ini menetap di London, dan sering mendapatkan tawaran manggung keliling dunia. Pada bulan Agustus 2016 kemarin pun dengan bahagia Dougy kembali ke Indonesia untuk tampil dalam acara We The Fest 2016.

Walaupun kini sudah dikenal dunia, namun siapa sangka, Dougy yang telah mendunia dengan suara emasnya menyimpan mimpi yang sederhana, yakni kembali ke Bali menikmati masa tua bersama keluarganya dengan membangun sebuah rumah yang memiliki panorama sawah di bawahnya.

Penasaran ingin mendengar suara emas Dougy Mandagi dalam lagu Sweet Disposition yang menoreh banyak penghargaan? Mari kita simak video berikut ini!

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu