Lupa Sandi?

Merayakan Panen Sang Primadona

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Merayakan Panen Sang Primadona

Pagi sudah terik hari Minggu itu, 25 Desember 2016. Tapi, di Lapangan Denggung terik matahari tidak membuat masyarakat Sleman urung untuk berkumpul. Ramai sekali, mungkin ada ribuan orang berkerumun di sana. Ada apakah gerangan?

Di tengah lapangan berdiri megah sebuah replika Elang Jawa yang gagah. Ini bukan replika biasa karena kerangka replika ini dibuat dari susunan buah salak sebanyak 1,4 ton. Ya, hari ini masyarakat Kabupaten Sleman, Yogyakarta tengah melakukan syukuran atas hasil panen salak yang memang menjadi ikon Kabupaten Sleman. Panen salak terbesar sepanjang sejarah. Di sini para petani salak yang tergabung dalam Asosiasi Salah Sembada bersama dengan Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) bagi-bagi ribuan salak gratis buat masyarakat.

Perayaan 'Festival Salak Pondoh dan Mbok Jamu Gendong' ini tidak cuma menampilkan hasil panen salak serta makanan dan minuman olahan salak. Lapangan Denggung dikelilingi dengan sejumlah gerai IKM/UKM kerajinan dan jamu. 

Patung Elang Jawa raksasa yang dibuat dari 1,4 ton salak ini sengaja diberdirikan di tengah lapangan untuk menarik perhatian para warga
Patung Elang Jawa raksasa yang dibuat dari 1,4 ton salak ini sengaja diberdirikan di tengah lapangan untuk menarik perhatian para warga

Ocky Tri Putra selaku ketua panitia festival mengganggap sebuah prestasi yang membanggakan karena acara ini dapat terlaksana tanpa bantuan dana dari dinas/instansi terkait. Dana yang terkumpul murni berasal dari Asosiasi Salak Sembada dan iuran panitia (BPPS) beserta bantuan dana dari pihak sponsor. Pesta panen raya salak ini patut diapresiasi karena menjadi satu dari sekian karya anak bangsa yang berlandaskan kemandirian. Melalui acara ini, daerah Sleman menunjukkan jati dirinya sebagai 'Sleman Sembada'.

Baca Juga

"Salak pondoh yang merupakan produk buah asli Kabupaten Sleman, mulai dikembangkan pada kurun waktu 1980an. Salak yang terkenal karena rasa yang manis dan garingnya ini telah menjadi primadona di kalangan konsumen buah di Indonesia khususnya DIY," katanya seperti ditulis ANTARA.

Ocky mengatakan, pada 1999, produksi buah ini mencapai puncaknya dengan produksi yang meningkat 100 persen mencapai 28.666 ton. Kepopuleran salak pondoh dilidah konsumen Indonesia dan mancanegara tak lepas dari ciri khas rasanya yang manis, segar tanpa rasa sepat, meski pada buah yang belum cukup matang sekalipun.

Sebanyak 3,5 ton salak pondoh dibagikan gratis kepada pengunjung di Festival Salak dan Mbah Jamu Gendong (Foto: Suara Merdeka)
Sebanyak 3,5 ton salak pondoh dibagikan gratis kepada pengunjung di Festival Salak dan Mbah Jamu Gendong (Foto: Suara Merdeka)

Buah salak sudah jadi primadona bagi penduduk Sleman, terutama daerah Turi. Sejak menjadi ikon Kabupaten Sleman, warga pun saling unjuk kreativitas dalam mengolah salak menjadi produk yang menarik. Ini dilakukan juga karena tidak sedikit orang yang tidak suka buah salak karena teksturnya yang keras.

 

Kini buah salak dapat dinikmati semudah meminum sari dan sirup. Olahan salak menjadi kripik juga banyak diminati oleh para wisatawan. Biji salak pun turut diolah menjadi kopi yang sedap. Tumbuhnya tanaman salak di daerah Sleman menjadi keberkahan yang patut disyukuri. Pesta panen raya salak inilah wujud rasa syukur para petani salak Sleman. Terutama panen tahun ini yang terbesar. Maka, bolehlah perayaan ini meraih dua Rekor MURI, pertama Rekor MURI untuk replika Elang Jawa terbesar dan kedua, Rekor MURI untuk pembagian salak sebanyak 3,5 ton bagi pengunjung.

 

BPPS berharap pesta raya panen salak semacam ini dapat terselenggara kembali di tahun-tahun berikutnya. Mereka berupaya untuk menjadikan salak sebagai branding salah satu kabupaten di DIY tersebut. Hal ini sejalan dengan visi BPPS, "Dolan Sleman, dadi tuman". Buah salak diharapkan dapat meningkatkan daya tarik pariwisata daerah Sleman. Sudah saatnya buah salak yang banyak dihasilkan di wilayah utara DIY ini tidak hanya menjadi panganan lokal warga sekitar, tetapi menasional bahkan mendunia.


*

Hilyatul Fadliyah/ GNFI

Pilih BanggaBangga22%
Pilih SedihSedih11%
Pilih SenangSenang22%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau33%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara