Lupa Sandi?

Ini Keunikan yang Hanya Dimiliki Masyarakat Jawa Timur

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Ini Keunikan yang Hanya Dimiliki Masyarakat Jawa Timur

Jawa Timur menjadi provinsi yang paling luas dibandingkan 6 provinsi lainnya di Pulau Jawa. Dengan bentangan wilayah seluas  47.922 km², terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota, mayoritas penduduk di Jawa Timur merupakan suku Jawa dan sama-sama berbahasa Jawa dan beberapa menggunakan bahasa Madura. Dalam tulisan Ignatius Kristanto dan Yohan Wahyu yang dimuat KOMPAS, menilik nama "Jawa" yang melekat pada "Jawa Timur" sekilas menumbuhkan kesan bahwa sifat budaya masyarakatnya pasti monokultur. Tapi, ternyata tidak. Jawa Timur kalau ditelisik lebih dalam sebenarnya sangatlah plural.

Budayawan Universitas Jember, Ayu Sutarto (2004) mengatakan, wilayah Jatim ini terbagi ke dalam sepuluh tlatah atau kawasan kebudayaan. Tlatah kebudayaan besar ada empat, yakni Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedangkan tlatah yang kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep). Tlatah ini yang kemudian membedakan karakteristik masyarakat di Jawa Timur berdasarkan wilayahnya.

Mengapa wilayah Jawa Timur terbagi ke dalam tlatah tersebut?

Konon tlatah ini bukanlah untuk membeda-bedakan masyarakat Jawa Timur melainkan untuk menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Timur merupakan masyarakat yang unik dan kaya akan budaya dan kearifan lokal. Pun perbedaan ini tidak membuat Jawa Timur saling memisahkan diri, tetap menyatu sebagai satu kawasan provinsi.

Baca Juga
Peta pembagian wilayah kebudayaan Jawa Timur (Foto: Malangcorner)
Peta pembagian wilayah kebudayaan Jawa Timur (Foto: Malangcorner)

Menurut Koentjaraningrat, terdapat tujuh unsur kebudayaan yang akhirnya membuat Jawa Timur terbagi ke dalam sepuluh tlatah tersebut. Tujuh unsur itu di antaranya: sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem teknologi, peralatan, bahasa, dan kesenian.

Lantas apa saja perbedaan tlatah kebudayaan tersebut?

Wilayah Kebudayaan Jawa Matraman

Wilayah Mataraman merupakan wilayah yang masih dekat dengan kultur Kerajaan Mataram yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta, salah satu daerahnya adalah Ponorogo
Wilayah Mataraman merupakan wilayah yang masih dekat dengan kultur Kerajaan Mataram yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta, salah satu daerahnya adalah Ponorogo

Wilayah ini mencangkup daerah-daerah di bagian barat Jawa Timur, yakni Kabupaten Ngawi, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Bojonegoro.

Diberinama Matraman lantaran wilayah ini masih mendapat pengaruh yang kuat dari budaya Kerajaan Mataram. Bila melihat dari adat istiadatnya, masyarakat di wilayah Matraman memang mirip dengan masyarakat di daerah Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta. Hal yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa Jawa yang masih terkesan halus meski tidak sehalus masyarakat di Yogyakarta dan Surakarta.

Wilayah Kebudayaan Arek

Masyarakat di wilayah Arek terkenal dengan karakternya yang pemberani dan penuh semangat
Masyarakat di wilayah Arek terkenal dengan karakternya yang pemberani dan penuh semangat

 

Di sebelah timur Matraman adalah tlatah arek yang menjadi wilayah kebudayaan yang cukup dikenal dengan ciri khas Jawa Timurnya. Masyarakat Arek dikenal punya semangat juang yang tinggi, terbuka, dan mudah beradaptasi. Dan satu yang menjadi ciri khas masyarakat Arek adalah bondo nekat.

Surabaya dan Malang menjadi pusat kebudayaan Arek. Kedua kota besar ini menjadi pusat kebudayaan Arek karena kondisi sosial masyarakatnya yang begitu komplek dan heterogen, bisa dikatakan menjadi pusat bidang pendidikan, ekonomi, dan parawisata di Jawa Timur. Setelah industrialisasi masuk, wilayah ini menjadi menarik bagi pendatang. Menjadikannya salah satu melting pot atau kuali peleburan kebudayaan di Jatim. Pendatang dari berbagai kelompok etnis ada di sini untuk mencari ”gula” ekonomi yang tumbuh pesat. Meski luas wilayahnya hanya 17 persen dari keseluruhan luas Jatim, separuh (49 persen) aktivitas ekonomi Jatim ada di kawasan ini.

Wilayah kebudayaan Madura Pulau

Masyarakat Madura Pulau terkenal dengan karakternya yang suka berkelana
Masyarakat Madura Pulau terkenal dengan karakternya yang suka berkelana

 

Komunitas Madura Pulau menjadi komunitas pleburan tlatah terbesar ke tiga yang wilayahnya mencangkup Pulau Madura. Karakteristik kultur masyarakat Madura pun berbeda dengan masyarakat di tlatah Matraman. Menurut Kuntowijoyo dalam buku Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940, keunikan Madura adalah bentukan ekologis tegal yang khas, yang berbeda dari ekologis sawah di Jawa. Pola permukiman terpencar, tidak memiliki solidaritas desa, sehingga membentuk ciri hubungan sosial yang berpusat pada individual, dengan keluarga inti sebagai unit dasarnya.

Meski begitu, masyarakat Madura Pulau punya jiwa penjelajahan yang kuat seperti masyarakat Bugis dan Minangkabau. Lantaran tanah mereka tidak cukup subur untuk bercocok tanam, akhirnya masyarakat Madura Pulau bermigrasi ke Pulau Jawa, Jawa Timur di bagian timur untuk mengejar rejeki. Wilayah ini merupakan tanah tumpah darah - kedua orang Madura Pulau. Lalu, di Pulau Jawa-lah masyarakat Madura bermukim dan hidup bersandingan dengan masyarakat Jawa.

Wilayah kebudayaan Pandalungan

Wilayah Pandalungan menjadi pertemuan dua kultur, Madura dan Jawa. Salah satu daerahnya adalah Jember
Wilayah Pandalungan menjadi pertemuan dua kultur, Madura dan Jawa. Salah satu daerahnya adalah Jember

 

Warga Madura dan Jawa yang hidup saling bersandingan membuat wilayah ini disebut dengan wilayah Pandalungan. Menurut Prawiroatmodjo (1985), kata pandalungan berasal dari bentuk dasar bahasa Jawa dhalung yang berarti ’periuk besar’. Wadah bertemunya budaya sawah dengan budaya tegal. Budaya Jawa dengan budaya Madura, membentuk budaya baru, Pandalungan. Hasilnya, masyarakat berciri agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif, dan memiliki solidaritas yang tinggi, tetapi masih menempatkan pemimpin agama Islam sebagai tokoh sentral. Daerahnya meliputi Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Jember.

Ada hal yang unik dari kebahasaan masyarakat Pandalungan. Bila kita berbincang dengan seseorang dari Pandalungan kita mungkin akan mengira ia adalah orang Madura, mendengar dari bahasa tuturnya. Namun, sebenarnya mereka bukan orang Madura dan bahasa mereka lebih condong ke bahasa Jawa. Namun akulturasi budaya Madura dan Jawa yang begitu kental membuat dialek masyarakat Pandalungan menjadi terdengar seperti dialek Madura.

Pembagian wilayah kebudayaan ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memang dinamis dengan perbedaan-perbedaan karakter wilayah dan masyarakatnya. Keunikan ini menjadi kearifan lokal khas Jawa Timur yang menunjukkan kekayaan budaya Indonesia.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga65%
Pilih SedihSedih6%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi21%
Pilih TerpukauTerpukau3%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara