Lupa Sandi?

Tradisi Unik Mengganti Pakaian Jasad Leluhur

Mutia Silviani Aflakhah
Mutia Silviani Aflakhah
0 Komentar
Tradisi Unik Mengganti Pakaian Jasad Leluhur

Indonesia tak hanya menyimpan kekayaan alam yang melimpah, namun juga memiliki kenanekaragaman budaya yang berwujud adat dan tradisi. Beberapa tradisi yang dimiliki pun masih erat dipertahankan hingga saat ini.

Salah satu tradisi unik yang masih bertahan adalah Ma’nene, di mana jasad leluhur dikeluarkan kembali dari tempatnya untuk digantikan pakaiannya dengan yang lebih baru. Hal ini merupakan bentuk penghargaan kepada leluhur mereka yang telah meninggal.

Ritual yang diselenggarakan tiga tahun sekali oleh masyarakat pedalaman Toraja Utara ini memiliki aturan tersendiri dalam pelaksanaannya, yakni dilakukan setelah masa panen. Menurut kepercayaan mereka, apabila tidak dilakukan setelah masa panen, maka sawah dan ladang akan mengalami kerusakan secara tiba-tiba.

Tidak hanya diganti pakaiannya, jasad leluhur juga dirias mengenakan kaca mata hitam (photo credit: Agung Parameswara)
Tidak hanya diganti pakaiannya, jasad leluhur juga dirias mengenakan kaca mata hitam (photo credit: Agung Parameswara)

Kilas Balik Adanya Ma’nene

Baca Juga

Adanya ritual ini berawal dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek yang berkelana ke hutan Pegunungan Balla. Saat itu ia menemukan sebuah jasad manusia dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Merasa iba dengan jenazah yang ditemukan, Pong lantas membawanya dan menggantikan dengan pakaian yang layak, kemudian dikuburkannya di tempat yang aman.

Bak mendapat durian runtuh, setelah kejadian itu, Pong selalu mendapat berkah. Panen dari tanaman pertaniannya datang lebih cepat dari biasanya. Ia pun selalu mendapatkan perburuannya dengan mudah.

Menurut Pong, ia sering bertemu dengan arwah dari jenazah yang ditemukan di hutan. Merasa berterima kasih atas perlakuan Pong padanya, arwah tersebut lantas membantunya sebagai petunjuk jalan saat sedang berburu.

Semenjak adanya peristiwa tersebut, Pong yakin jika jasad orang yang telah meninggal harus dirawat dan tetap dihormati, meskipun kondisinya sudah tidak berbentuk lagi.

Kemudian Pong mewariskan amanahnya pada penduduk Toraja, untuk selalu menghargai jasad orang yang telah meninggal. Amanah tersebut hingga kini tetap terjaga dengan dilaksanakannya ritual Ma’nene.

Prosesi Ma’nene

Ritual ini diawali dengan para anggota keluarga yang bersama-sama mengunjungi lokasi pemakaman leluhur yang dinamakan Patane, sebuah makam keluarga bentuknya seperti rumah kecil.

Sebelum membuka pintu Patane, tetua adat yang disebut Ne’Tomina Lumba, membacakan doa dalam Bahasa Toraja Kuno, memohon izin pada leluhur agar masyarakat mendapatkan berkah tiap musim tanam hingga panen berlimpah.

Sebelum diganti pakaiannya, jasad leluhur dijemur dan dibersihkan terlebih dahulu (acourseindying.com)
Sebelum diganti pakaiannya, jasad leluhur dijemur dan dibersihkan terlebih dahulu (acourseindying.com)

Kemudian jasad diangkat dari peti dan mulai dibersihkan dari ujung kepala hingga kaki, menggunakan kuas atau kain bersih. Selanjutnya, pakaian yang dikenakan oleh jasad tersebut diganti dengan kain atau pakaian baru. Jasad tersebut kemudian diletakkan kembali dalam Patane.

Keunikan lain selama prosesi Ma'nene ini berlangsung adalah adanya sebagian lelaki yang membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu serta tarian yang melambangkan kesedihan. Menurut kepercayaan mereka, hal ini berfungsi untuk menyemangati para keluarga yang ditinggalkan.

Ma’nene dipergunakan sebagai ajang memperkenalkan anggota keluarga yang lebih muda terhadap leluhurnya. Diadakan tiap tiga tahun sekali, Ma’nene juga dipergunakan sebagai ajang kumpul keluarga yang selama ini merantau meninggalkan kampung halamannya.

Ritual Ma’nene diyakini tidak sekedar membersihkan jasad dan menggantikan pakaiannya. Lebih jauh lagi masyarakat Toraja memaknai upacara Ma'nene untuk menyadari pentingnya menjaga hubungan antaranggota keluarga. Terlebih bagi keluarga yang sudah mendahului meninggal dunia, adanya tradisi ini menunjukkan jika hubungan keluarga tak akan terputus meskipun dipisahkan oleh kematian.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MUTIA SILVIANI AFLAKHAH

Art enthusiast | I'd like to tell you good things, with words I write. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata