Lupa Sandi?

Geel Oorlog, Ketika Orang Tionghoa Melawan Kompeni

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
0 Komentar
Geel Oorlog, Ketika Orang Tionghoa Melawan Kompeni

Sejarah perjuangan bangsa ini dalam memerangi bangsa penjajah memang diwarnai dengan berbagai pertempuran. Tidak hanya dilakukan oleh masyarakat lokal, namun bangsa – bangsa pendatang yang turut menetap di Indonesia sejak beratus – ratus silam pun ikut mengangkat senjata, berjuang melawan tentara penjajah. Salah satu yang perlu kita lihat lebih jauh kisahnya adalah mengenai perjuangan masyarakat etnis Tionghoa di Lasem, Jawa Tengah yang dikenal dengan nama Perang Kuning atau Geel Oorlog.

Geel Oorlog merupakan serangkaian perlawanan rakyat Lasem  terhadap kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Secara khusus, perlawaan ini dilatarbelakangi oleh rusaknya perekonomian karena harga komoditas mulai anjlok dan menyebabkan beberapa pabrik tutup. Selain itu, banyak pekerja yang dipecat. Hal ini pula yang menyebabkan terjadinya geger pecinan pada 1740, dimana banyak warga etnis Tionghoa yang dibantai habis – habisan oleh pasukan Belanda. Akibatnya, banyak imigran Tionghoa yang memutuskan untuk mengungsi ke Lasem.

Di Lasem, etnis Tionghoa diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa. mereka tidak pernah terlibat peperangan, serta memiliki kebencian yang sama pada VOC karena perusahaan dagang tersebut mengeruk apa saja yang ada di negeri ini tanpa meninggalkan sisa apapun. Lasem pada saat itu merupakan daerah yang berada di bawa kekuasaan Kesultanan Mataram, namun sejak 1679 dengan bantuan Amangkurat II, Belanda menyerang Lasem agar dapat memonopoli perdagangan di pesisir utara Pulau Jawa.  Di sini, mereka bergabung dengan pasukan pribumi dan melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda.

(sumber : detik.com)
(sumber : detik.com)

Geel Oorlog dipimpin oleh Oei Ing Kiat atau Raden Tumenggung Widyanignrat yang saat itu merupakan Bupati Lasem, Raden Panji Margono dan Kiai Baidlawai. Ketiga orang tersebut menjadi representasi dari pasukan nusantara yang merupakan gabungan dari kaum Tionghoa, Jawa dan para Santri. Selain itu, tokoh – tokoh yang ikut berjuang adalah Tan Si Ko alias Singseh, Tan Kee Wii dan Souw Phan Ciang alias Khe Panjang.

Baca Juga

Pemberontakan tidak hanya berakhir di Lasem, namun menyebar ke seluruh Jawa Tengah. Pihak Belanda yang merasa didukung oleh orang Jawa tertipu dengan hal tersebut, sebab sebaliknya masyarakat Jawa justru mendukung kaum Tionghoa untuk melawan Belanda dengan berpura – pura melawan kaum Tionghoa. Berlangsung sejak tahun 1741 hingga 1743, gabungan Laskar Tionghoa dan Jawa ini kemudian menyerang pertahanan VOC di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Belanda memenangkan perang ini yang akirnya berujung pada kejatuhan Kesultanan Semarang yang memicu berdirinya Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Monumen PErjuangan Tionghoa - Jawa di Taman Mini Indonesia Indah (sumber : detik.com)
Monumen Perjuangan Tionghoa - Jawa di Taman Mini Indonesia Indah (sumber : detik.com)

Dalam perang ini, Tan Sin Ko dan Tan Kee We gugur dibunuh serdadu VOC. Perjuangan demi perjuangan dilakukan hingga berakhir pada tahun 1743. Walaupun kemenangan berakhir di tangan kaum Belanda yang setelah itu langsung memantapkan kekuasaannya di tanah Jawa melalui perjanjian dengan Pakubuwono II, perang kuning ini menjadi saksi sejarah tersendiri dari perjuangan kaum Tionghoa. Meskipun sebagai kaum pendatang, mereka turut merasakan bagaimana menderitanya kaum yang terjajah oleh bangsa lain. Ikut mengangkat senjata, mereka berjuang melawan kekejaman dan kelaliman dari penguasa pada saat itu.

Ini menjadi bukti bahwa perjuangan untuk mempertahankan bangsa ini dari penjajah tidaklah membeda – bedakan asal, suku, dan agama. Dengan semangat satu rasa, senasib sepenanggungan, etnis Tionghoa dan masyarakat Jawa bangkit dan bersatu padu untuk melawan penindasan VOC. Sebagai bukti untuk mengenang perjuangan tersebut, sebuah monumen untuk menghargai para pejuang tersebut didirikan di Taman Budaya Tionghoa di Taman Mini Indonesia Indah.  


Sumber :detik.com satujam.com akhlis.net

Pilih BanggaBangga82%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang12%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara