Lupa Sandi?

Situ Cisanti, Danau Eksotis dan Misterius Di antara Perkebunan Teh

Fairuz Rana Ulfah
Fairuz Rana Ulfah
0 Komentar
Situ Cisanti, Danau Eksotis dan Misterius Di antara Perkebunan Teh

Liburan akhir pekan ditambah dengan libur tanggal merah adalah waktu yang tepat untuk sejenak keluar dari lingkungan perkotaan dan mencari udara segar. Beberapa tempat wisata menjadi incara, namun pilihan akhirnya jatuh pada Situ Cisanti. Ini kali kedua saya mengunjungi Situ Cisanti. Dibandingkan dengan situ (danau) lainnya di kawasan Bandung sekitar, nama Situ Cisanti memang masih kalah pamor. Tapi jangan salah, keindahan Situ Cisanti tak kalah dengan situ-situ lainnya. Ketika berkunjung kesini, para pengunjung akan disuguhi dengan pemandangan rimbun pepohonan serta air telaga yang jernih.

Tidak sulit untuk menemukan lokasi Situ Cisanti, kita bisa memanfaatkan teknologi navigasi daring seperti Google Map atau Waze. Ada gerbang yang menandakan bahwa kita telah tiba di Situ. Jangan khawatir jika membawa kenderaan karena ada penitipan motor dan juga helm di dekat gerbang masuk. Harga tiket masuk juga realtif murah, yaitu sekitar 12 ribu ditambah parkir motor lima ribu rupiah. Harga tersebut sudah termasuk biaya untuk ngecamp loh. Fasilitas yang disediakan juga cukup lengkap, mulai dari toilet, mushola, dan juga warung. Setidaknya hal inilah yang juga membuat Dwi, mahasiswa asal Yogyakarta yang sedang berkunjung ke Situ Cisanti, merasa betah.

“Fasilitas yang ada cukup lengkap untuk ukuran tempat wisata yang terletak jauh dari kota, jadi pengunjungnya nyaman,” ujar Dwi.

Suasana Camping di pinggir Situ Cisanti, Sumber: Dokumentasi Pribadi
Suasana Camping di pinggir Situ Cisanti, Sumber: Dokumentasi Pribadi

Selesai membayar karcis, karena hari sudah mulai gelap  kami langsung menyusuri daerah sekeliling situ untuk membangun tenda. Ternyata kami tidak sendiri, sudah ada tenda yang berdiri tepat berhadapan dengan Situ Cisanti. Usai mendirikan tenda kami mulai mengeluarkan pernekalan, dan camping ceria pun di mulai.  Pada malam hari udara sejuk mulai terasa sayangnya karena waktu itu cuaca lagi mendung sehingga bintang di langit malam tidka terlihat.

Baca Juga

Keesokan paginya mengelilingi Situ Cisanti merupakan kegiatan pertama dan wajib dilakukan.  Kawasan yang memiliki luas areal sekitar 10 hektar ini juga terkenal dengan tujuh mata air.  Ketujuh mata air tersebut adalah mata air Pangsiraman, Cikoleberes, Cikawadukan, Cikahuripan, Cisadane, Cihaniwung, dan Cisanti. Dari ketujuh mata air ini lah sumber aliran Sungai Citarum yang mengalir disekitaran daerah Jawa Barat. Mata air ini dijaga oleh juru kunci, jadi jika ada pengunjung yang ingin mengunjungi mata air harus seizing juru kunci. Menurut Ade, warga setempat, air dari Situ Cisanti dipercaya memiliki banyak khasiat.

“Neng, kalau mau bisa mandi di kolam mata air. Banyak yang datang kesini buat mandi di mata air biar keinginannya tercapai. Paling bagus juga malam Jumat,” Ujar Ade.

Bapak yang juga sehari-hari bekerja sebagai petani ini menceritakan perihal mata air yang dipercaya banyak orang punya khasiat tertentu. Ia menambahkan banyak “orang kaya dari kota” yang secara rutin mengunjungi mata air. Selain bisa mandi, air dari mata air juga dapat di bawa pulang.

Perkebunan teh sepanjang perjalanan menuju Situ Cisanti, Sumber: Dok. Pribadi
Perkebunan teh sepanjang perjalanan menuju Situ Cisanti, Sumber: Dok. Pribadi

Situ Cisanti terletak di kaki Gunung Wayang, Pangalengan. Secara administratif, situ ini berada di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selain Gunung Wayang, Situ Cisanti juga dikelilingi oleh gunung lainnya seperti Gunung Rakutak, Gunung Malabar, Bukit Bedil dan Gunung Kendang. Untuk tiba di Situ Cisati, membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Bandung jika tidak macet. Sebenarnya ada dua jalur yang dapat ditempuh, pertama jalur Alun-Alun Ciparay. Dari terminal Ciparay, kita bisa mengambil jalan menuju Kecamatan Pacet menuju arah Kecamatan Kertasari. Tersedia kenederaan umum di jalur Kertasari. Namun sisa perjalanan kita harus menggunakan ojek. Akan lebih mudah jika membawa kenderaan pribadi. Namun yang harus diperharikan meskipun jalur ini relative lebih cepat, tapi sangat menanjak dengan beberapa bagian jalan yang rusak. Pertama kali saya ke Cisanti, saya melewati jalur ini. Berhubung mobil yang kami kenderai saat itu termasuk kategori mobil ukuran kecil, ada satu titik di mana kami harus turun karena tanjankan yang terjal.

jalan ke Situ Cisanti melewati salah satu pabrik gula di Pangalengan, Sumber: Dok. Pribadi
jalan ke Situ Cisanti melewati salah satu pabrik gula di Pangalengan, Sumber: Dok. Pribadi

Jalur alternatif lainnya yang saya sarankan adalah melalui Pangalengan. Meskipun agak memutar, jalur ini menyajikan pendangan yang sangat indah. Jalur ini juga yang saya pilih ketika berkunjung ke Situ Cisanti untuk kedua kalinya. Barisan kebun teh yang dikelilingi pegunungan serta kabut yang mulai turun menemani perjalanan menuju Situ Cisanti. Sepanjang jalan banyak bunga liar berwarna-warni yang tumbuh. Ditambah lagi dengan bangunan-bangunan tua dengan desain khas warisan Belanda. Perkebunan teh yang kami lewati milik beberapa perusahaan, seperti perkebunan dan pabrik teh Malabar,  Pasir Junghun, Taloon, dan Teh Talun Sentosa.



Pilih BanggaBangga80%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAIRUZ RANA ULFAH

Penikmat alam, kopi, sastra. Sedang tertarik dengan isu-isu kelas, gender, lingkungan. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata