Lupa Sandi?

Kopi Luwak Buatan Karya Mahasiswa Universitas Jember, Jadi Juara di Taiwan

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Kopi Luwak Buatan Karya Mahasiswa Universitas Jember, Jadi Juara di Taiwan

Kopi merupakan komoditas yang sangat populer saat ini. Produk olahannya yang berupa minuman digemari diberbagai belahan dunia dan kerap dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban manusia modern yang banyak menghabiskan waktu dengan bekerja. Indonesia yang merupakan negara pengeekspor kopi keempat di dunia mendapatkan banyak keuntungan dari tingginya permintaan tersebut, bahkan Indonesia memiliki sebuah kopi khas yang telah terkenal di dunia karena proses pembuatannya melibatkan hewan luwak. Apalagi jika bukan Kopi Luwak. Dan berkat kopi ini pula tiga mahasiswa asal Universitas Jember berhasil membawa pulang medali emas di Taiwan pada 11 Desember yang lalu.

Di Indonesia, kopi luwak merupakan salah satu jenis kopi yang memiliki nilai tinggi. Bukan hanya karena dalam proses pemilihan bijinya melibatkan hewan Luwak, tetapi juga karena kopi ini dipercaya memiliki tingkat keasaman yang rendah sehingga aman bagi pencernaan. Berbeda dengan kopi jenis lain yang terkadang tidak bersahabat dengan lambung peminum kopi yang sensitif.

Baca Juga

Menariknya, mahal dan rumitnya proses pembuatan Kopi Luwak menarik perhatian tiga mahasiswa dari Universitas Jember. Mereka melihat bahwa rupanya Kopi Luwak memiliki banyak permasalahan serius dalam proses pengolahannya. Permasalahan seperti penolakan pasar akibat adanya pemaksaan Luwak untuk memakan biji kopi misalnya, menjadi isu yang sangat diperhatikan dikalangan pemerhati kesejahteraan binatang.

Lain pula dengan masalah kebersihan dan kehalalan. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, aspek kehalalan Kopi Luwak juga menjadi perdebatan. Sehingga menurut Tri Angga Maulana, M. Ali Firdaus dan Bagas Rizky Aldiano, kopi luwak perlu dibuat dengan cara yang baru yakni dengan teknik artifisial.

Teknik artifisial yang dimaksud adalah dengan meniru proses pengolahan biji kopi yang semula harus melewati lambung Luwak, diubah menjadi dengan cara konvensional namun dengan cermat disesuaikan. Tujuannya adalah agar dapat menyerupai lambung Luwak sehingga kopi yang dihasilkan mampu mendekati cita rasa kopi Luwak asli. Mereka menamakan kopi tersebut dengan nama Kolutan yang merupakan akronim dari Kopi Luwak Buatan.

Sejatinya kreasi yang ditemukan para pemuda tersebut bukanlah hal baru, sebab menurut pengakuan mereka inovasi yang sama juga telah ada sebelumnya. Namun mereka mengklaim bahwa karya mereka memiliki kelebihan dari segi kadar cita rasa dan aromanya yang menyerupai aslinya.

"Yang membedakan kopi luwak artifisial kreasi kami dengan yang lain adalah pada kadar cita rasa dan aromanya. Dari tes cita rasa dan aroma yang dilakukan oleh Pusat Kopi dan Kakao Jember, kopi luwak artifisial kami mendapatkan nilai 85,25. Sementara nilai cita rasa dan aroma kopi luwak yang asli adalah 86, jadi kopi buatan kami sudah mirip dengan kopi luwak asli,” jelas Tri Angga Maulana seperti dikutip dari lama resmi Universitas Jember.

Keberhasilan mereka rupanya terletak pada formula yang berhasil mereka temukan yang rencananya akan dipatenkan. Bagas Rizku Aldianon menjelaskan, "resepnya tergantung pada tiga hal, yakni suhu saat menggoreng, pemberian enzim protease yang tepat, serta pengadukan yang pas. Semuanya kami tiru dari kondisi lambung luwak saat mencerna kopi. Tapi mohon maaf, kami tidak bisa membuka resepnya karena akan kami patenkan dahulu.”

Tim Kolutan saat memenangkan medali emas (Foto: unej.ac.id)
Tim Kolutan saat memenangkan medali emas (Foto: unej.ac.id)

Berkat inovasi ini, ketiganya berhasil membawa pulang medali emas dalam ajang Kaohsiung International Invention and Design Expo di Kaohsiung, Taiwan 9-11 Desember yang lalu. Kemenangan ini pun mendatangkan berbagai apresiasi. Seperti saat pameran di ajang perlombaan misalnya, yang ternyata banyak pengunjung yang tertarik meminum kopi buatan mereka.

“Sebenarnya banyak pengunjung yang tertarik ingin minum kopi buatan kami, sayangnya kami tidak membawa alat untuk memasak kopi,” ujar M. Ali Firdaus.

Juga tidak ketinggalan, apresiasi dari rektor Universitas Jember.

“Kopi luwak artifisial karya Angga, Ali dan Bagas ini memiliki prospek untuk dipasarkan sebagai produk unggulan, oleh karena itu Universitas Jember bersedia memberikan dukungan dana untuk penelitian lanjutan, atau produksi dan pemasaran,” jelas Rektor Universitas Jember Moh. Hasan.

Di masa mendatang, selain akan dipatenkan Kolutan juga akan dikembangkan agar hasilnya lebih sempurna.

“Selain ingin membakukan SOP pembuatan Kolutan, kami ingin menjajaki pembuatan Kolutan dalam skala rumah tangga dan mencari pemasok kopi yang tepat,” pungkas Angga.

Kaohsiung International Invention and Design Expo adalah kegiatan tahunan yang dimotori oleh World Invention Intellectual Property Association (WIIPA). Event ini bertujuan untuk mengangkat hasil-hasil temuan baru ke level internasional, meningkatkan kerjasama antara penemu, membantu paten temuan baru, serta mendorong kaum muda khususnya kalangan mahasiswa untuk aktif melakukan penelitian yang dapat menghasilkan penemuan baru.

Organisasi WIIPA sendiri kini beranggotakan 23 negara di dunia termasuk Indonesia. Tercatat 26 negara ikut ambil bagian dalam ajang Kaohsiung International Invention and Design Expo. Tahun ini Indonesia mengirimkan enam tim yang berasal dari Universitas Jember, Universitas Sumatera Utara, Universitas Mercu Buana Jakarta (2 tim), dan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta (2 tim). Dan di ajang tersebut para anak bangsa berhasil membawa pulang 4 Gold medals, 2 Silver medals, dan 1 Bronze medal.


Sumber : Universitas Jember

Pilih BanggaBangga83%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang10%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata