Suara gamelan yang rancak, tabuhan gendang, gong, kenong, dan tiupan terompet terus menjejali telinga penonton pentas jaranan. Nuansa magis makin terasa saat aroma dupa menyeruak di mana-mana.

Sebelum pertunjukan dimulai, para penonton mengelilingi arena atraksi jaranan. Kemudian pada babak pertama, muncul beberapa pria memasuki arena dengan membawa jaran kepang. Seolah seorang ksatria, mereka dengan gagahnya melenggang layaknya seorang kesatria yang siap bertempur di medan laga.

Pada babak berikutnya, tempo suara gamelan dan tabuhan semakin dipercepat dan gangguan mulai datang. Menurut cerita nenek moyang mereka yang berjiwa ksatria harus menang dan mengalahkan para raksasa kemudian para ksatria pulang dengan perwira.

Jaranan Kediri

Jaranan Kediri selalu membawa cerita tentang ksatria Kediri yang berangkat berperang ke medan laga. Pasukan ksatria ini bertempur melawan pasukan Lodoyo dari Blitar namun sebelum itu mereka harus berhadapan melawan raksasa.

Daya tarik dari Jaranan Kediri bukan terletak pada alur ceritanya namun dari nuansa magis dan atraksi akrobatiknya. Image tradisi di masyarakat pada jaranan Kediri sangat kental dengan unsur ghaibnya, berbeda dengan jaranan Tulungagung yang memiliki daya tarik pada sisi artistiknya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Barong dalam pertunjukan Jaranan menggambarkan sosok yang bengis dan berkuasa ©polrestrenggalek.com

Kesenian tradisional jaranan Jawa Timur tidak hanya di Kediri saja, namun di Tulungagung, Banyuwangi yang memiliki daya tarik sendiri di tiap daerahnya. Baik dari alur cerita, gamelan, bentuk topeng, tarian, maupun busananya.

Variasi Jaranan

Keberadaan seni pertunjukan konon sudah ada sejak ratusan tahun silam telah menjadi tontonan wajib dalam syukuran, pesta rakyat, dan lain-lain. Dalam wacana seni Jawa Timur, kesenian jaranan berada sejajar dengan kesenian reog, oklik, wayang, dan seterusnya.

Berbagai kelompok kesenian jaranan biasanya menggelar pertunjukan mereka di halaman, pinggir jalan maupun alam terbuka. Pertunjukan yang berlangsung selama 2-8 jam ini sering dipakai untuk pelengkap acara pernikahan dan khitan. Tak lupa pelengkap pengiring ada gendang, gong, kenong, saron, kempul dan terompet.

Selain sebagai hiburan, seni pertunjukan semacam Jaranan Jowo, Jaranan Sentherewe, Jaranan Pegon dan Jaranan Dor merupakan tradisi warisan para leluhur yang memiliki nilai-nilai pakem tersendiri.

Jaranan Jowo, memiliki karakteristik yang sederhana dari segi gerak, busana dan musikalnya. Biasanya jaranan ini banyak diikuti oleh seniman-seniman yang sudah tua, dan dalam setiap permainan Jaranan Jowo yang memiliki unsur magis, selalu didampingi oleh dhukun. Hal ini berfungsi sebagai pengendali kesurupan karena pada puncaknya para penari jaranan akan mengalami trance dan melakukan atraksi.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Trance alias kerasukan roh halus yang terdapat efek magis dalam proses menari Jaranan © jantixixii.com

Konon cerita mulanya diadakan pertunjukan Jaranan Jowo karena mbahurekso, yakni istilah Jawa yang digunakan untuk mengungkapkan suatu kepercayaan masyarakat akan roh leluhur mereka sebagai pelindung. Selain itu pertunjukan jaranan diadakan juga sebagai bentuk dari ungkapan syukur masyarakat petani atas hasil panennya.

Sedangkan pada Jaranan Sentherewe lebih menggambarkan kiprah beberapa prajurit penunggang kuda. Uniknya karena keinginan meniru hal baru yang umumnya terjadi di luar desa, para penari jaranan menggunakan kostum layaknya wayang orang yang ditambahkan atribut seperti kaca mata hitam, kaos kaki dan sepatu.

Kini jaranan Sentherewe makin diminati oleh masyarakat karena dalam penampilannya dibumbui hiburan modern, yakni berupa lagu-lagu yang dibalut dengan musik dangdut atau campursari.

Lalu bagaimana dengan Jaranan Pegon? Jaranan ini tetap menceritakan tentang pasukan berkuda. Namun yang lebih ditonjolkan yakni dari gerak tarinya yang lebih dinamis. Yang menjadi pembeda dengan Jaranan Sentherewe adalah busana dan aksesoris yang dipakai penari lebih meriah. Selain itu muatan alur cerita dan syiar Islam begitu terasa dalam beberapa adegan para penari.

Sedangkan pada Jaranan Dor lebih mengangkat unsur musik pengiringnya yakni menggunakan jedor yang menjadi pembeda dari musik jaranan lainnya. Selain itu aksi dan penampilan Jaranan Dor yang memiliki unsur humor menjadi penampilan yang selalu mengundang gelak tawa penonton.

Sumber: dirangkum dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu