Lupa Sandi?

Panganan Unik nan Nikmat dari Bojonegoro: Ulat Jati

Ahda Fariha
Ahda Fariha
0 Komentar
Panganan Unik nan Nikmat dari Bojonegoro: Ulat Jati

Pernahkah kawan GNFI melihat ulat pohon jati? Bagi banyak orang, ulat menjadi hewan yang menjijikkan atau hama pengganggu. Lalu, bagaimana jika ulat yang telah berubah menjadi kepompong dan dikonsumsi?

Pasti memikirkannya saja kita sudah bergidik ngeri atau merasa jijik. Namun siapa sangka di daerah Bojonegoro dan sekitarnya, kepompong ulat jati ini dijadikan kuliner lezat yang kaya gizi.

Bojonegoro, merupakan sebuah kota kabupaten yang terletak di daerah pantai utara Jawa, terletatak di Provinsi Jawa Timur dan berbatasan dengan Cepu. Topografi daerah ini merupakan perbukitan kapur dan banyak terdapat hutan jati.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Hutan jati kawasan Bojonegoro pada masa peralihan musim kemarau ke musim hujan ©damarojat.com

Saat musim kemarau banyak ulat yang menggerogoti daun jati. Ulat yang banyak dianggap sebagai hama pengganggu, justru di sisi lain dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Ulat jati yang dikumpulkan dapat dijual dengan harga mencapai Rp 60 ribu per kilogramnya.

Baca Juga

Setelah memasuki masa peralihan ke musim penghujan, ulat akan berubah menjadi kepompong atau biasa disebut enthung oleh masyarakat setempat. Kepompong yang berukuran sekitar 2-4 sentimeter dan bewarna cokelat tua mengkilap akan berjatuhan dari daun-daun jati yang rontok.

Seperti dilansir melalui tempo.com, Kepala Seksi Balai Besar Perbenihan Proteksi dan Tanaman Perkebunan Kementerian Pertanian Muhtarom mengatakan munculnya ribuan ulat bulu di kawasan hutan jati merupakan siklus tahunan saat musim hujan. Ulat itu akan hilang sendiri maksimal setelah tiga pekan. ”Ini siklus tahunan,” ujarnya.

Sebagian orang khususnya masyarakat setempat mengaku mereka mencari kepompong ulat jati untuk menjadi lauk menu sehari-hari karena dapat mengirit pengeluaran mereka. Musim enthung yang hanya terjadi selama 2 bulan yakni pada November-Desember memang selalu dinanti bagi sebagian orang penikmat kuliner unik ini.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Masyarakat setempat mencari enthung yang jatuh ke tanah dan dari daun jati yang rontok ©infoblora.com

Lalu bagaimana cara mengolah enthung menjadi makanan yang sedap? Kawan GNFI pasti penasaran dan ragu untuk mengolahnya. Sebenarnya cara memasak enthung sangatlah mudah, cukup dengan rempah-rempah yang sering dijumpai di dapur, kawan GNFI mampu menyulap kepompong ulat jati ini menjadi makanan lezat yang kaya gizi.

Pertama-tama, enthung harus dicuci hingga bersih kemudian direbus hingga matang. Kawan GNFI akan segera mengetahui tingkat kematangan entung dari yang mulanya berwarna hitam kecoklatan akan berubah menjadi merah kecoklatan. Setelah itu enthung siap diolah menjadi kuliner tumis atau disayur.

Soal rasa enthung paling enak jika dimasak tumis, rasa khas yang gurih dan renyah yang bercampur dengan bumbu rajangan bawang merah, bawang putih, cabe dan garam mampu menggoyang lidah.

Selain tumis, enthung juga bisa diolah menjadi sayur lodeh, sayur asem-asem, balado hingga rempeyek. Bahan yang digunakan sama seperti ketika akan membuat masakan tersebut, namun yang membedakan adalah bahan utamanya yaitu si enthung ini.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Dengan paduan bumbu sederhana seperti bawang putih, bawang merah, garam dan cabe enthung tumis siap disantap ©sulistyo_rabono

Meskipun kecil dan terlihat geli bagi sebagian orang, kepompong ulat jati ini ternyata memiliki kandungan protein yang baik bagi tubuh. Masyarakat setempat juga meyakini jika menyantap enthung dapat menghilangkan nyeri pegal linu dan alergi pada kulit.

Bagi kawan GNFI yang belum pernah mencoba, kuliner enthung ini akan terasa sedikit aneh di lidah dan terlihat jijik, namun setelah mencoba dipastikan bisa membuat ketagihan dan tak akan pernah melupakan rasanya.

Bagaimana kawan GNFI tertarik mencoba?

Sumber : dirangkum dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga43%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau43%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AHDA FARIHA

art - poetry ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie