Lupa Sandi?

Cerita Keraton Surabaya yang Belum Pernah Kita Ketahui Sebelumnya...

Mutia Silviani Aflakhah
Mutia Silviani Aflakhah
0 Komentar
Cerita Keraton Surabaya yang Belum Pernah Kita Ketahui Sebelumnya...

Jika berbicara mengenai keraton, benak kita langsung terbayang dengan Keraton Yogyakarta atau Keraton Surakarta di Solo. Namun, siapa sangka jika kota metropolitan seperti Surabaya juga pernah mempunyai keraton.

Tidak banyak orang tahu keberadaan Keraton Surabaya. Namanya memang asing terdengar, bahkan dalam literatur juga buku sejarah sekolah mungkin hampir tidak pernah disebutkan sama sekali.

Cerita singkat Keraton Surabaya

Berawal dari pertempuran sengit dengan tentara Mongol yang kemudian dimenangkan oleh Raden Wijaya, semenjak tahun 1293, Hujung Galuh berganti nama menjadi Curabhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya. Sistem pemerintahannya pun menjadi kekeratonan atau kerajaan.

Baca Juga

Tahun berlalu, Surabaya pun menjadi sebuah kawasan yang semakin tangguh. Terletak strategis dekat laut dengan pusat kota yang berada di tepi sungai, membuat daerah yang kala itu dipimpin oleh Pangeran Jayalengkara menjadi incaran kerajaan Mataram.

Pada puncak kejayaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung, Surabaya menjadi satu-satunya daerah yang tidak dapat ditaklukkan, karena pertahanannya yang begitu kuat.

Serangkaian penyerbuan pun dilakukan pada tahun 1620 sampai dengan 1625, namun selalu gagal. Pasalnya, Keraton Surabaya dikelilingi oleh tembok setinggi empat meter sehingga musuh selalu kesulitan untuk menaklukannya.

Selalu gagal melakukan aksi serangan secara langsung, Sultan Agung pun tidak kehabisan taktik. Ia melemahkan Surabaya dengan menyerang sekutu dari ibu kota Jawa Timur tersebut. Sultan Agung kemudian mengirim pasukan untuk menyerang Sukadana, (Kalimantan Selatan), yang selalu memberikan bantuan pasukan ke kota Surabaya. Ia juga mengirim pasukan untuk menyerang Pulau Madura, yang ia anggap sebagai aliansi Surabaya.

Setelah dianggap lemah, pada tahun 1625, penyerbuan besar-besaran ke Surabaya mulai dilakukan. Walaupun Pangeran Pekik, anak dari Pangeran Jayalengkara, telah berhasil memertahankan kota dan memukul mundur pasukan Matram hingga Wirosobo, namun Mataram tetap tidak kehabisan akal.

Pasukan Mataram lantas membendung Kali Mas, anak Kali Brantas yang mengaliri kota dan merupakan sumber utama kehidupan masyarakat Surabaya. Caranya dengan menenggelamkan ratusan pohon kelapa yang ditopang oleh bambu, kemudian setiap pohon kelapa diberinya bangkai binatang.

Akibatnya, Surabaya menjadi kekurangan air bersih dan krisis pangan. Hanya sedikit air yang mengalir, pun sudah tercemar dengan bangkai. Tak sedikit penduduk yang mati kelaparan dan terkena wabah penyakit.

tampak belakang dari sebuah bangunan yang diyakini sebagai gerbang Keraton Surabaya. Bangunan tersebut kini diapit oleh pertokoan. (sumber foto: pesonacagarbudayasurabaya.wordpress.com)
tampak belakang dari sebuah bangunan yang diyakini sebagai gerbang Keraton Surabaya. Bangunan tersebut kini diapit oleh pertokoan. (sumber foto: pesonacagarbudayasurabaya.wordpress.com)

Tidak tega melihat penderitan rakyatnya, Pangeran Jayalengkara pun pergi menemui Tumenggung Mangunoneng, Panglima Mataram, untuk meminta bendungan tersebut dibongkar. Pada peristiwa inilah Pangeran Jayalengkara memutuskan untuk menyerah. Sejak saat itu pula Surabaya menjadi milik Mataram.

Tapak tilas Keraton Surabaya

Setelah Mataram berhasil menguasai, sisa kejayaan Keraton Surabaya semakin tidak tampak saat Belanda mulai masuk. Surabaya jatuh ke tangan penjajah Belanda pada tahun 1755. Pusat pemerintahan yang semula merupakan keraton pun diganti. Keraton Surabaya pun dibabat habis oleh Belanda.

Meskipun tidak ada bukti sejarah yang berbentuk sebuah monumen, berbagai literatur sejarawan Surabaya dan Belanda memperkirakan jika Keraton Surabaya dahulunya meliputi kawasan Kebonrojo sebagai Taman Keraton, Tugu Pahlawan sebagai Alun-alun Utara dan Alun-alun Contong (Baliwerti – Bubutan) yang merupakan bagian dari Alun-alun Selatan.

tampak depan dari sebuah bangunan yang diyakini merupakan gerbang Keraton Surabaya. Secara fisik bangunan ini tampak seperti benteng Keraton Yogyakarta, namun secara material serupa dengan bangunan Belanda. (sumber foto: pesonacagarbudayasurabaya.wordpress.com)
tampak depan dari sebuah bangunan yang diyakini merupakan gerbang Keraton Surabaya. Secara fisik bangunan ini tampak seperti benteng Keraton Yogyakarta, namun secara material serupa dengan bangunan Belanda. (sumber foto: pesonacagarbudayasurabaya.wordpress.com)

Kampung Keraton

Di Surabaya, terdapat sebuah kampung yang terletak di antara Jalan Pahlawan dan Jalan Keramat Gantung. Konon, kawasan ini merupakan tempat berdirinya Keraton Surabaya. Kampung Keraton, begitu lah julukannya.

Di ujung gang Kampung Keraton, terdapat satu-satunya bangunan peninggalan fisik Keraton Surabaya yang masih tersisa, yang diyakini sebagai gerbang Keraton Surabaya. Namun, sebagian orang percaya jika gapura setinggi kurang lebih empat meter tersebut merupakan sebuah tempat pengintaian, juga bagian kecil dari gerbang selatan Keraton Surabaya.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga26%
Pilih SedihSedih15%
Pilih SenangSenang2%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau48%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MUTIA SILVIANI AFLAKHAH

Art enthusiast | I'd like to tell you good things, with words I write. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara