Lupa Sandi?

Cerita Menarik yang Tersimpan di Atas Lahan Kantor Walikota Jakarta Pusat

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Cerita Menarik yang Tersimpan di Atas Lahan Kantor Walikota Jakarta Pusat

Pernahkah kawan mendengar cerita tentang Kerkhoflaan atau Museum Taman Prasasti? Kalau kita coba cari di mesin pencari internet, informasi yang banyak kita dapat adalah keterkaitan Kantor Walikota Jakarta Pusat dengan nama-nama di atas tadi. Lantas, apa hubungannya kedua nama tempat tersebut?

Kantor Walikota Jakarta Pusat yang berdiri megah di Jalan Tanah Abang 1 Jakarta Pusat itu ternyata berdiri di atas lahan Museum Taman Prasasti alias Tempat Pemakaman Umum Kebon Jahe Kober alias Kerkhof. Konon, Kerkhof ini sudah ada sejak 1795. Bukan cuma fakta itu yang menarik. Hal yang membuat informasi ini menjadi menarik lainnya adalah ternyata Kerkhof merupakan salah satu pemakaman umum tertua yang ada di dunia.

Dulu, Kota Batavia hanya berbentuk kastil. Kemudian ia berkembang menjadi kota yang dibatasi tembok pertahanan. Namun, tembok-tembok tersebut tidak dapat menahan perkembangan kota yang semakin meluas keluar tembok karena semakin banyak pelaut dan pedagang yang singgah di kota ini yang datangnya tidak hanya dari kawasan Nusantara tapi juga benua lain.

Kruiskerk atau Gereja Salib di Batavia karya Johan Nieuhof (1618-1672). Gereja ini dibangun pada 1632, sebagai gereja pertama di luar Kastil Batavia (foto: wikimedia)
Kruiskerk atau Gereja Salib di Batavia karya Johan Nieuhof (1618-1672). Gereja ini dibangun pada 1632, sebagai gereja pertama di luar Kastil Batavia (foto: wikimedia)

Sejak dulu Kota Batavia memang sudah menjad kota yang modern dengan fasilitas rumah sakit, sekolah, gereja, dan fasilitas tempat ibadah. Gereja tertua yang berdiri di Batavia, tercatat berada di dalam Kasteel Batavia, Oude Koepelkerk (1626). Namun pada tahun 1628 terpaksa dibongkar untuk dijadikan tempat meriam-meriam besar. Pada tahun 1736, ada gereja baru yang diberkati, yakni Gereja Kubah (Koepelkerk), lalu diganti de Nieuwe Hollandsche Kerk.

Baca Juga

Pada masa itu, halaman gereja juga berfungsi sebagai makam orang-orang yang telah meninggal, sehingga di halaman luar gereja banyak terdapat makam. Kondisi kota Batavia yang semakin padat menyebabkan atmosfer yang tidak sehat bagi warga kota, sehingga terserang wabah penyakit malaria, diare dan penyakit epidemic lainnya, yang menewaskan banyak korban. Bentrokan dengan pihak lain juga menyebabkan semakin banyak warga kota yang meninggal. Akibatnya, halaman gereja tidak mampu lagi sebagai lahan pemakaman. Pemerintah Kota Batavia memutuskan mencari lahan makam baru di luar kota.

Lalu, tuan tanah dan gubernur jenderal Batavia ke-29, W.V Halventius menghibahkan tanahnya ke Kebon Jahe, Tanah Abang seluas 5,5 hektar ke pemerintah Kota Batavia untuk dijadikan lahan pemakaman baru. Lokasi ini memang jauh dari tembok kota Batavia, namun cukup strategis karena dekat dengan Sungai Krukut. Akhirnya, tanah tersebut digunakan sebagai pemakaman dengan sebukan Kerkhoflaan atau sering disebut dnegan Kebon Jahe Kober (kober=kuburan bersama) dan resmi digunakan pada 28 September 1795.

Menjadi Makam Prestisius

Bila ada warga Batavia yang meninggal dunia, puluhan perahu dan sampan dimanfaatkan untuk membawa usungan jenazah dari pusat kota menuju Kerkhof Laan, menelusuri Kali Krukut yang kala itu masih bisa dilayari. Usungan berhenti di lokasi, kini di Jl. Abdul Muis dan dari tepi kali inilah usungan perahu jenazah berhenti, dan diangkut dengan sebuah kereta jenazah yang sudah siap mengantar ke lokasi pemakaman yang jaraknya sekitar 500 meter.

Pada waktu VOC dibubarkan (1799), kekuatan gedung Koepel Kerk sudah parah. Dengan dana terbatas, bagian-bagian yang rusak hendak diperbaiki, namun Gubernur Jenderal Deandels memerintahkan menjual gereja itu supaya dapat dibongkar (1808). Nisan-nisan besar dari keluarga terkemuka sebagian dijual dan sebagian dipindahkan ke Kerkhoflaan.

Batu-batu nisan diambil dari ruang tengah gereja, terdapat 48 nisan dan 24 nisan lagi dalam gang. Sampai kini beberapa nisan tersebut masih dapat dilihat di halaman, sedangkan nisan lain dimasukkan ke dalam tembok luar dengan tanda HK yang berarti Hollands Kerk. Pada tahun 1829, tanah bekas gereja ini dijual oleh pemerintah dengan syarat tidak boleh menggali tanah selain untuk meletakkan fondasi tembok gedung baru.

Salah satu sudut Museum Taman Prasasti yang sering menjadi tempat hunting foto para pecinta fotografi (foto: Indonesian Tourism)
Salah satu sudut Museum Taman Prasasti yang sering menjadi tempat hunting foto para pecinta fotografi (foto: Indonesian Tourism)

Kebon Jahe Kober berkembang menjadi makam yang prestisius, di mana banyak dimakamkan orang-orang terkenal, baik pejabat penting, pelaku sejarah, hingga selebritis di masanya. Olivia Marianne Rafles (1814), istri Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles, Dr. H.F. Roll (1867-1935), pencetus gagasan dan pendiri Stovia, Dr. J.L.A. Brandes (1857-1905), ahli sejarah purbakala Hindu Jawa di Indonesia, Miss Riboet atau yang sohor dengan julukan MissTjitjih (1900-1965), tokoh panggung sandiwara rakyat legendaris. Selain itu juga dipergunakan untuk memakamkan orang-orang yang dipersamakan dengan Belanda. Hal ini terus berlangsung hingga 1945.

Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan pemakaman ditangani oleh Yayasan Verburg (1945-1947) di bawah Pemerintahan Gemeente Batavia. Namun karena situasi pemerintahan peralihan pada awal kemerdekaan, maka pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Palang Hitam milik keluarga J.M. Panggabean selama 1947-1967.

 


Sumber : nationalgeographic.co.id

Pilih BanggaBangga30%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata