Lupa Sandi?

Nyaneut, Tradisi Minum Teh Ala Sunda di Kaki Gunung Cikuray

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
0 Komentar
Nyaneut, Tradisi Minum Teh Ala Sunda di Kaki Gunung Cikuray

Selain Kesultanan Yogyakarta, salah satu daerah di Indonesia yang memiliki tradisi minum teh adalah masyarakat Sunda di kaki Gunung Cikuray, Jawa Barat. Masyarakat Cigedug, Garut menyebut tradisi ini dengan nama “Nyaneut.” Tradisi ini menjadi kebiasaan warga Garut dan sekitarnya untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya udara di kaki gunung Cikuray. Dalam Nyaneut, teh yang digunakan adalah Teh Kejek yang merupakan teh khas dari daerah Cigedug. Daerah Garut memang terkenal sebagai salah satu produsen utama teh berkualitas tinggi di Indonesia.

Nyaneut berawal dari seorang ilmuwan Belanda yang pada abad ke-19 membuka perkebunan teh di daerah dataran tinggi dengan udara yang sejuk. Karel Frederik Holle, demikian nama ilmuwan tersebut membuka perkebunan teh di Cigedug dan Bayongbong pada abad ke-19. Sejak itu, kawasan dataran tinggi di Garut ini menghasilkan teh berkualitas baik.

Tidak heran, teh yang dihasilkan pun adalah teh dengan kualitas terbaik. Nyaneut biasa diawali dengan memasak air di atas anglo (tungku yang terbuat dari tanah liat) dengan menggunakan arang sebagai bahan bakar. Lalu, air yang telah matang akan dipindahkan ke poci tanah liat. Bersama dengan itu, satu sendok makan teh kejek khas Cigedug dimasukkan ke dalam poci lalu didiamkan selama beberapa saat.

Prosesi Nyaneut ala orang Sunda (sumber : Muhammad Gaffar MSV)
Prosesi Nyaneut ala orang Sunda (sumber : Muhammad Gaffar MSV)

Untuk menikmatinya, teh akan dituangkan ke dalam cangkir yang terbuat dari batok kelapa atau cangkir seng khas tempo dulu. Prosesi meminum teh akan diawali dengan memutar gelas teh di telapak tangan sebanyak dua kali, lalu aroma teh dihirup sebanyak tiga kali dan barulah teh bisa diseruput.

Baca Juga

Teh akan dihidangkan dengan talas, kacang tanah, singkong goreng, pisang dan berbagai panganan lokal lainnya yang semuanya dikukus di atas anglo. Yang lebih menarik lagi, makanan tersebut akan disajikan bersama potongan gula merah. Gula merah digunakan sebagai pemanis rasa teh, atau dimakan bersama panganan kukus tersebut.

Seiring berjalannya waktu tradisi ini mulai luntur secara perlahan. Untuk mengantisipasinya, pemerintah daerah kerap mengadakan sebuah perayaan bertajuk Festival Nyaneut, sebuah festival minum teh yang diselenggarakan dengan cara yang cukup meriah. Tahun 2016 lalu menjadi tahun ketiga penyelenggaraan festival ini. Selain untuk melestarikan tradisi minum teh ala orang Sunda, festival ini juga kerap membahas isu – isu lingkungan dan pelestarian alam.

Festival Nyaneut pad aOktober 2016 lalu (sumber : kompas.com)
Festival Nyaneut pad aOktober 2016 lalu (sumber : kompas.com)

 Salah satu yang dibahas dalam festival Nyaneut pada tahun 2016 lalu adalah mengenai alih fungsi lahan hutan yang masif terjadi di Gunung Cikuray. Selain itu, pengubahan lahan perkebunan teh menjadi kebun sayur pun menjadi konsentrasi masyarakat. Sebab, jika dilihat dari sisi konservasi, pohon teh lebih sanggup untuk menahan air dibandingkan dengan tanaman sayur. Pelestarian kebun teh menjadi salah satu fokus utama dari festival tahunan ini.


Sumber : kompas.com,  telusurindonesia.com,  kompas.com 

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas