Lupa Sandi?

Sejatinya Begini Cara Indonesia Merayakan Ulang Tahun

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Sejatinya Begini Cara Indonesia Merayakan Ulang Tahun
Keterangan Gambar Utama © Pemilik Gambar

Momen ulang tahun menjadi momen yang membahagiakan bagi sebagian besar orang karena hari tersebut menjadi penanda bertambahnya usia sekaligus berbahagia lantaran di usia tersebut ia masih diberikan kesempatan hidup. Maka, tidak sedikit orang yang merayakan ulang tahunnya bersama sanak saudara dan kerabat terdekat, berbagi kebahagiaan.

Biasanya, kita merayakan ulang tahun dengan menggunakan kue yang dihias dengan cantik, meletakkan lilin yang menyala di atasnya, kemudian meniupnya. Kebiasaan ini sudah dilakukan sejak abad ke-18 oleh masyarakat Yunani kuno. Namun, kita mungkin harus mengingat kembali bahwa sesungguhnya Indonesia juga punya tradisi seru untuk merayakan ulang tahun.

Tumpengan.

Siapa tak kenal tumpeng? Gunungan nasi kuning yang dikelilingi dengan beragam lauk-pauk ini hampir tak pernah absen di perayaan ulang tahun maupun syukuran terutama di daerah Jawa. Memang, tumpeng tidak selalu menjadi simbol untuk merayakan ulang tahun, tapi lebih dari itu, yakni menjadi hidangan wajib pada perayaan-perayaan penting.

Baca Juga
Ciri khas Indonesia untuk merayakan segala sesuatu: tumpeng (foto: Indonesia Chili)
Ciri khas Indonesia untuk merayakan segala sesuatu: tumpeng (foto: Indonesia Chili)

Menilik dari sejarahnya, sajian tumpeng dibuat untuk memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para nenek moyang. Filosofi ini juga berkaitan erat dengan kondisi geografis Indonesia yang dipenuhi jajaran gunung berapi.

Tradisi ini dulu sering dilakukan oleh umat Hindu di nusantara. Seiring dengan masuknya ajaran Islam ke Indonesia, tradisi tumpeng pun tetap dilakukan namun falsafahnya disesuaikan dengan ajaran Islam. Menurut tradisi Islam di Jawa, tumpeng ini dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Pada tradisi kenduri selametan oleh masyarakat Islam di Jawa, sebelum tumpeng disajikan, terlebih dahulu digelar pengajian dan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Sarat filosofi

Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun. Mengapa masyarakat Indonesia khususnya di Pulau Jawa, Bali, dan Madura menggunakan tumpeng sebagai simbol rasa syukur?

Menurut tradisi Islam di Jawa, "tumpeng" merupakan akronim dari bahasa Jawa, yakni yen metu kudu sing mempeng (kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh).

Biasanya, lauk-pauk yang mengiringi gunungan nasi tumpeng jumlahnya ada tujuh. Hal ini pun bukan tanpa alasan. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut dengan pitu, maksudnya adalah pitulungan (pertolongan).

Setiap komponen tumpeng pun punya makna tersendiri (foto: tumpeng.com)
Setiap komponen tumpeng pun punya makna tersendiri (foto: tumpeng.com)

Setiap komponen pada nasi tumpeng memiliki filosofi tertentu. Mulai dari nasinya yang melambangkan sesuatu yang kita makan seharusnya berasal dari sumber yang bersih dan halal. Bentuknya yang kerucut diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera.

Sementara itu, dari segi lauk-pauknya, ayam yang menjadi lauk wajib pada sajian tumpeng biasanya menggunakan ayam jantan yang dimasak utuh. Pemilihan ayam jantan in memiliki makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago: sombong, congkak, dan tidak setia. Selain itu ada ikan teri yang diartikan sebagai contoh kebersamaan dan kerukunan.

Nasi tumpeng juga sering dilengkapi dengan telur rebus utuh. Hal ini melambangkan jika semua tindakan harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan.

Telur juga menjadi perlambang jika manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Yang membedakan nantinya hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Pelengkap lainnya yang tidak boleh tertinggal adalah sayur urab. Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap dan lain-lain. Seperti halnya pelengkap lainnya, sayur-sayuran ini juga mengandung simbol-simbol penting.

Ragam tumpeng

Setiap perayaan biasanya tumpeng yang disajikan pun berbeda-beda. Di antaranya:

  • Tumpeng Robyong - Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam, terasi, bawang merah dan cabai.
  • Tumpeng Nujuh Bulan - Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. Selain satu kerucut besar di tengah, tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang.
  • Tumpeng Pungkur - digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi.
  • Tumpeng Putih - warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. Digunakkan untuk acara sakral.
  • Tumpeng Nasi Kuning - warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira, seperti kelahiran, pernikahan, tunangan, dan sebagainya.
  • Tumpeng Nasi Uduk - Disebut juga tumpeng tasyakuran. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi.

 

Pilih BanggaBangga57%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau29%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata