Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Hanya WNI yang Keluar Negeri Saja yang Menyadari Kerennya Indonesia

azzam alkautsar
azzam alkautsar
0 Komentar
Hanya WNI yang Keluar Negeri Saja yang Menyadari Kerennya Indonesia
Keterangan Gambar Utama © Pemilik Gambar

Saya lahir di Indonesia, Ibu saya keturunan Tiong Hoa, Bapak saya cicit dari salah satu bangsawan Tidar, salah satu daerah di Magelang, tapi itu semua tidak menjadikan hidup saya wah , yang jelas saya sangat mencintai Indonesia. Saya layaknya warga Indonesia pada umumnya, hidup di sebuah rumah bersama keluarga yang lengkap dan mempunyai kehidupan yang cukup, bedanya saya adalah salah satu korban dari ambisi sebuah novel, yaitu novel "Laskar Pelangi". Bisa dibilang saya pengikut taklid Andrea Hirata, yang telah disihir dengan ambisi liar nan gila akan keinginannya untuk bisa menyebrangi lautan menuju Sorbonne University. Dan wal hasil, saya bisa mewujudkan ambisi saya belajar di luar negri, yaitu di Mesir, tepatnya di Al-azhar University, setidaknya jarak waktu antara kairo dan paris hanya satu jam haha...

Sudah setahun lebih saya tinggal di Mesir dan saya mengalami banyak keanehan di negeri ini, mulai dari cara bersosial, pola pikir, hingga pendidikan di Mesir. Mesir sendiri bisa dibilang sebagai Negeri Hijrah, alias banyak pendatang dari warga negara yang beraneka ragam asalnya, maka jikalau anda ingin ke tempat multicultural dan low budget maka Mesir lah jawabannya. Saya warga Indonesia disini, dan saya bangga akan identitas saya, saya sering menggunakan batik saat di kampus, dan selalu mengenakan songkok saat sholat jum'at, dan juga sering menggunakan sarung di tiap sholat jama'ah di masjid, bagi warga Mesir sendiri sarung adalah pakaian setelah berhubungan suami istri, maka karena itu banyak WNI yang tidak menggunakannya karena takut dibicarakan yang tidak-tidak oleh masyarakat setempat, tapi bagi saya masa bodoh dengan mereka, ini adalah budaya saya dan cara saya menghargainya adalah mengenakanya, dan banyak hal aneh lainya yang sering terjadi dan kadang bertabrakan dengan adat saya di Indonesia.

Beberapa bulan yang lalu saya memutuskan untuk masuk di salah satu madrasah pendidikan Al-qur'an di Alexandria, hitung-hitung juga bisa mengisi kekosongan saya di Kairo, maka lebih baik saya disana mencari pelajaran tambahan, dan yang membuat saya lebih tertarik, di madrasah ini baru ada dua pelajar Indonesia yang belajar disana, kesempatan bagus untuk menyelam ke pengelaman yang lebih dalam. Dan ternyata sesuai ekspektasi yang ada di dalam benak saya, bahwa murid-murid di madrasah ini terdiri dari berbagai macam warga negara bahkan orang Mesir sendiri sebagai minoritas di madrasah ini, mulai dari Cina, Turki, Uzbekistan, Somalia, Ethiopia, Inggris, Norwegia, Amerika dan lain sebagainya semuanya menyatu disini, bahkan tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa berbicara bahasa arab, disetiap dia berbicara disitu dia membutuhkan penerjemah. Bingung sih, tapi ini yang saya suka.

Minggu demi minggu saya jalani kehidupan di madrasah ini, perkembangan sosial saya disini begitu pesat, mereka semua menyukai saya, mungkin karena badan saya yang kecil dan tampang saya yang seperti anak berumur celana biru tua, tapi intinya bukan karena itu mereka menyukai saya, alasanya karena saya orang Indonesia. "Orang Indonesia itu beda ya, kalian lebih suka diam dari pada berdebat, teriak-teriak, atau bertengkar untuk memperebutkan sesuatu" kata salah satu teman saya asal Kazakistan, memang kami lebih suka diam dan tiba-tiba korupsi hahaha (alhamdulillah saya kuat imannya, jadi tidak melakukan itu, ini jujur :D),begitu juga sering kali kami mempersilahkan yang lainya untuk mendahului antrian saat menunggu pembagian makan, memberikan kasur kami kepada murid baru dan akhirnya kami hanya tidur diatas karpet, atau memberikan deterjen jikalau yang lainya ingin mencuci baju, itu semua bukanya kami takut kepada mereka, tapi kami ingin menghormati pertemanan, dan pada akhirnya mereka pun menyadarinya. Tak jarang juga ketika saya menunjukan foto-foto tentang Indonesia di galeri ponsel saya, selang beberapa waktu teman-teman lainya sudah berkumpul berebut giliran melihat foto itu, dan mereka sangat mengagumi Indonesia, bahkan ada yang menceritakan niatnya untuk pergi ke Indonesia. Sering kali saya di panggil direktur madrasah, hanya sekedar bercerita tentang Indonesia "Ada 250 juta manusia di Indonesia, dan kami terdiri dari banyak suku yang berbeda, negara kami ialah negara kepulauan, pantai-pantai yang indah, gunung-gunung menjulang tinggi, sungai dimana-mana, semua penglihatan hijau penuh dengan tumbuhan, oh iya... yang katanya Nigeria punya banyak bahasa itu tetap kalah dengan Indonesia, Indonesai punya 750-an bahasa!" pungkas saya demikian membuat mereka melongo kagum. Dan sekarang songkok adalah busana paling trendy di madrasah, songkok-songkok yang saya bawa ke madrasah ini ludes terjual, dan yang membuat saya terharu, ialah mereka mengenakannya dengan bangga sambil berkata "lihat! saya orang Indonesia".

Baca Juga

Sebenarnya tak perlu keluar negeri untuk menyadari betapa indahnya Indonesia, tapi anda akan lebih bersyukur jika melihat Indonesia dengan kaca mata luar negeri, banyak orang sadar akan indahnya Indonesia, akan tetapi selalu buang sampah sembarangan, ataupun sadar akan kerennya Indonesia, akan tetapi tidak memikirkan masa depan Indonesia. Maka karena itu mari kita bersyukur, bersyukur itu menyadari Indahnya Indonesia, menikmati indahnya Indonesia, dan menjaga serta meningkatkan keindahan Indonesia.

Indonesia tanah airku, Indonesia baktiku padamu.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga69%
Pilih SedihSedih8%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau3%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AZZAM ALKAUTSAR

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie