Lupa Sandi?

Masyarakat Hebat di Balik Pesona Teluk Ijo

hanif suryoo
hanif suryoo
0 Komentar
Masyarakat Hebat di Balik  Pesona Teluk Ijo

Tidak dapat dipungkiri kunjungan para wisatawan domestik maupun mancanegara ke Teluk Ijo meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Warna hijaunya air laut, putihnya pasir pantai, dan rimbunnya pepohonan disekitarnya sering muncul di berbagai blog ataupun gambar di berbagai sosial media membuat banyak wisatawan penasaran untuk berkunjung. Alhasil, perekonomian para nelayan pun turut terangkat seiring dengan ramainya wisatawan.

Biasa, itulah kesan pertama saat sampai di wilayah yang katanya Teluk Ijo. Bagaimana tidak, pantai yang kami lihat saat pertama sampai hanyalah pantai yang seperti umumnya kami lihat di daerah asli kami, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekilas terlintas dibenak, ya ternyata hanya seperti pantai Parangtritis atau Depok yang sering kami kunjungi. Namun ternyata bukan Teluk ijo, melainkan Pantai Rajegwesi. Lantas dimana letak Teluk Ijo yang tersohor itu?

Tanya semakin menggantung dibenak, melihat sekitar Pantai Rajegwesi pun tidak nampak sama sekali keindahan Teluk Ijo nan tersehor di berbagai media sosial yang kami sering gunakan. Namun tanya kami terjawab, untuk sampai ke Teluk Ijo butuh sedikit perjuangan, yaitu ditempuh melalui jalur laut dan juga bisa ditempuh berjalan kaki. “Ya kalau naik perahu sih sekitar 20 menit saja, kalau jalan kaki 30 menit. 30 menit untuk kami masyarakat sekitar karena sudah hafal dengan medan yang akan ditempuh, kalau untuk yang belum pernah ya bisa lebih dari itu,” ujar Wardi, salah seorang nelayan yang biasa mengantarkan wisatawan ke Teluk Ijo dengan perahu miliknya.

Mendengar pernyataan tersebut, sebagian rombongan pun ciut nyali. Tidak ingin lelah, intinya. Ada juga yang menganggap hal tersebut hanya bagian dari strategi nelayan agar para wisatawan memilih untuk naik perahu. Entahlah, lalu sebagian besar rombongan memilih untuk naik perahu dan sebagian lainnya nekat untuk berjalan kaki walaupun tak ada jaminan untuk sampai dengan cepat karena tak ada pemandu yang menemani perjalanan.

Takjub, mungkin itulah yang kami rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki sesampainya di Teluk Ijo. Rasanya postingan gambar dan video yang banyak di sosial media jauh kalah indah apabila langsung merasakan keindahan tersebut secara langsung. Tidak ada satupun sampah yang mengotori putihnya pasir dan hijaunya air laut. Pertanyaan kembali muncul, siapa yang menjaga tempat ini hingga tetap bersih dan asri walaupun ribuan wisatawan datang dan pergi?

Peran Serta Semua Pihak

Dibalik keindahan Pantai Teluk Ijo ternyata ada andil besar dari para nelayan beserta warga sekitar yang tergabung dalam kelompok KATAMER yang merupakan singkatan dari Karang Taruna Masyarakat Ekowisata Rajegwesi. KATAMER merupakan inisiatif para masyarakat disekitar Pantai Rajegwesi dalam mengelola ekowisata disekitar Rajegwesi dan Teluk Ijo. “KATAMER ini berdiri seiring dengan berkembangnya pariwisata yang ada di daerah ini, kegiatannya ya meliputi aktifitas untuk menjaga, mengelola, dan mengembangkan potensi wisata yang ada,” tutur Hadi, nelayan yang mengantarkan kami menyebrang menuju Teluk Ijo.

Nelayan masyarakat di sekitar Teluk Ijo bergotong royong mendorong kapal untuk keperluan penyebrangan. Masyarakat Teluk Ijo saat ini mulai menggarap kawasan tersebut menjadi tempat wisata yang menarik bagi wisatawan.
Nelayan masyarakat di sekitar Teluk Ijo bergotong royong mendorong kapal untuk keperluan penyebrangan. Masyarakat Teluk Ijo saat ini mulai menggarap kawasan tersebut menjadi tempat wisata yang menarik bagi wisatawan.

 

Peran kelompok KATAMER tidak hanya sebatas pengelolaan ekowisata saja, namun juga ada peran sosial didalamnya. Seperti yang diungkapkan Hadi, menurutnya meningkatnya potensi pariwisata di Rajegwesi dan Teluk Ijo memang sangat dirasakan oleh para nelayan sepertinya. Pria yang memulai profesi nelayan sejak tahun 2006 ini juga merasakan hal tersebut, bagaimana tidak apabila musim liburan tiba, dalam sehari dirinya bisa meraup untung hingga 1,5 juta dalam sehari saja.

Mayoritas masyarakatnya memang bergantung pada hasil pariwisata baik nelayan wisata, maupun membuka warung disekitar Pantai. Namun ada juga masyarakat yang tidak merasakan hasil dari meningkatnya kunjungan wisata di Rajegwesi dan Teluk Ijo. Untuk itulah peran KATAMER sangat berguna bagi masyarakat sekitar Rajegwesi. Tujuan didirikan KATAMER juga sederhana, yaitu untuk menolong masyarakat sekitar. Dana diperoleh dari potongan penghasilan para nelayan yang disetor langsung kepada bendahara kelompok. Selanjutnya akan dilaporkan secara transparan dana yang masuk setiap bulannya dalam rapat bulanan kelompok. “Kalau untuk menyebrang satu orang dikenai biaya 35 ribu pulang pergi, saya Cuma ambil 28 ribu saja. Sisanya saya setor kepada kelompok untuk dikelola dan masyarakat semua bisa merasakan berkah dari meningkatnya wisata disini, ujar Hadi.

Bayangkan saja, dengan penghasilan yang tidak tentu saja nelayan seperti Bapak Hadi masih memikirkan untuk bisa berbagi dengan sesama. Menurut Hadi, sedikit apapun rejeki yang dimiliki akan lebih berkah apabila bisa bermanfaat bagi orang lain. “Sebenarnya sederhana saja kok, tidak semua orang disekitar kita kondisi ekonominya baik. Dengan peran dari KATAMER semoga bisa membantu para janda dan masyarakat yang kurang mampu,” ujar pria yang belum genap satu tahun menikah ini.

Dana tiap bulan yang diperoleh dari masyarakat yang tergabung dalam KATAMER dirasakan langsung oleh Mutmainah, wanita 68 tahun. Mutmainah merupakan seorang janda, warga sekitar Pantai Rajegwesi. Untuk melanjutkan hidup, Muthmainah hanya bergantung pada penghasilan putranya yang bekerja di Jombang. Usianya yang tidak lagi muda jelas menjadi kendala baginya untuk bekerja. “Cuma bergantung sama uang pensiunan suami saya yang tidak banyak. Namun bantuan dari KATAMER juga sangat membantu saya,” tutur Mutmainah.

Dana yang terkumpul di kelompok KATAMER setidaknya telah membantu janda dan masyarakat yang kurang mampu disekitar Pantai Rajegwesi. Setidaknya semua masyarakat turut merasakan berkah dari kekayaan alam Pantai Rajegwesi dan Teluk Ijo. Sebuah potret indah di sudut Pulau Jawa, gotong royong dan rasa peduli sangat lekat tertanam. Sementara negeri ini masih sibuk dengan penegakan hukum dan tawa riuh para koruptor.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG HANIF SURYOO

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas