Lupa Sandi?

Indonesia dengan sejuta "dilema"

Miftahul Haq Syawal
Miftahul Haq Syawal
0 Komentar
Indonesia dengan sejuta

Indonesia dengan sejuta dilema, itulah yang sebagian orang ketahui tentang Indonesia. Berangkat dari persepsi tersebut, hal itu merupakan sesuatu yang nyata yang terjadi di negeri merah putih ini. Mulai dari masalah pribadi, kelompok, sampai pemerintahan, bahkan dilema hati yang tidak kunjung tuntas dalam memilih. Orang Indonesia menolak persepsi tersebut, beberapa orang mungkin ada yang berkata “siapa bilang? Indonesia keren kok, dilema apanya, semua itu hanyalah isu, buktinya kita baik-baik saja” kurang lebih seperti itu.

Penolakan dari berbagai pihak banyak sekali terdengar, tapi ada juga beberapa orang di Indonesia yang setuju dengan hal itu, contohnya para jomblo. Bukanlah hal yang jarang, dilema tersebut merupakan salah satu dari dilema yang terjadi di Indonesia. Beralih dari masalah “jomblo” adalagi dilema lain, seperti yang telah tertera di atas, itu baru permulaan, artinya bahwa masih ada 999.999 dilema. Betulkah adanya dilema tersebut? Mungkin saja betul, tapi disini itu hanya kiasan, karena tidak akan mungkin bisa tertuangkan dalam seluruh kertas kosong ini, oleh karenanya hanya beberapa saja yang mampu tertuangkan.

Beralih dari dilema yang awal, kini dilema yang berasal dari pemerintahan, mulai dari tuntutan rakyat yang sangat banyak, minta untuk dibuat taman bagi para jomblo misalnya, seperti halnya di kota bandung, minta untuk memperbanyak lapangan kerja, meminta untuk menurunkan harga BBM, dan bahkan utang yang sangat banyak di luar negeri, padahal kata orang Indonesia Negara yang kaya, mengapa bisa memilki utang? Sejenak pemerintah pasti dilema dalam memilih apa yang harus diprioritaskan, nyatanya meskipun itu merupakan prioritas bagi pemerintah, bukan berarti itu merupakan prioritas bagi masyarakat terutama para jomblo yang minta untuk dibuatkan taman jomblo dengan tujuan bisa mendapatkan pasangan di sana, dilema yang menyulitkan.

Selanjutnya masyarakat, ini merupakan sumber dari banyaknya dilema di Indonesia, termasuk mereka yang tidak memiliki pasangan (Jomblo). Mulai dari dilema dalam memilih gubernur yang pantas bagi DKI Jakarta, 1,2 atau 3, mungkin saja sebagian orang golput karena tidak berpikir semua kandidat bagus, atau mungkin saja karena masih banyak pikiran tentang hal lain seperti halnya Jomblo yang masih memikirkan jodohnya, mungkin saja. Lalu dilema yang terjadi akibat isu SARA dan Aksi Bela Islam, banyak orang yang menganggap keduanya baik, dan banyak juga yang berpikiran “ah buang-buang waktu memikirkan hal seperti itu”, dan mungkin saja memilih salah satunya. Atau mungkin dilema dalam belanja, sangat lumrah terjadi dikalangan ibu-ibu, terutama ibu-ibu yang berkedok anak kecil dan polos.

Baca Juga

Adalagi dilema dalam memilih wisata ketika liburan, baik itu liburan ke mall, wahana hiburan, atau mungkin menjelajahi alam, dalam hal ini, 1/3 dari orang-orang yang ingin berlibur mungkin memilih ke mall, mungkin untuk ke bioskop bersama pasangan atau keluara, tapi ini tidak berlaku bagi para jomblo, atau mungkin berbelanja dan berburu diskon khusus bagi ibu-ibu dan mahasiswi, tidak menutup kemungkinan mahasiswa (pria) juga ikut serta. 1/3 selanjutnya memilih untuk berjalan-jalan ke wahana hiburan, mungkinkah itu ke taman bianglala atau tempat dengan wahana permainan yang ekstrim atau menenangkan, mungkin saja. 1/3 yang terakhir mencakup orang-orang yang lebih suka untuk mendedikasikan waktu liburnya dengan melihat pemandangan alam Indonesia yang katanya merupakan salah satu dari beberapa surga dunia.

Menurut pandangan beberapa orang berjalan-jalan untuk menikmati keindahan alam yang luar biasa merupakan hal yang sangat mengagumkan, banyak cara yang bisa digunakan, seperti halnya berkemah, memancing, menyelam di lautan yang penuh terumbu karang, mendaki gunung, atau bahkan berselancar. Beberapa orang lebih tertarik terhadap hal itu, mungkin ada yang berkata seperti ini

“saya lebih suka berjalan melihat keindahan alam dibandingkan dengan ke taman hiburan atau ke mall untuk sekedar menonton, karaoke, atau yang lainnya. Menurut saya dengan melihat keindahan alam dengan penuh perjuangan lebih memuaskan batin saya”

Mungkin saja ada yang berpikiran seperti itu.

Masih banyak dilema lain yang terjadi di Indonesia tetapi tidak mampu untuk dituangkan dalam secarik kertas kecil ini, mungkin saja bisa menjadi sebuah buku yang paling tebal dan mendapatkan rekor muri dalam GUINNES BOOK OF RECORD, itu sangat mungkin.

Kenyataanya bahwa semua dilema itu terjadi di Indonesia tanpa memandang siapapun dan terhadap apapun semua itu terjadi secara tidak sengaja atau bahkan juga tidak sengaja, seperti halnya para jomblo yang secara tidak sengaja seperti itu. Melihat dilema yang terjadi di atas, apakah semuanya merupakan keburukan? Ternyata itu Indonesia dilema yang membuatnya merdeka sampai saat ini dan menjadi negeri yang berkembang sangat pesat. Mulai dari dilema para jomblo, melihat dari sudut pandang kritis, apabila kehadiran jomblo di INDONESIA ini tidak ada, apakah orang-orang yang memiliki pasangan bisa berperilaku sombong ataupun empati ? tentu saja tidak, apakah jomblo lainnya tidak memiliki peluang untuk memiliki pasangan? Tentu saja tidak, bahkan hal ini merupakan cobaan berat, tetapi malah menjadikan mereka menjadi lebih kuat dan lebih pantas hingga waktunya tiba mereka memilki pasangan, masalahnya hanya, apakah mereka akan punya pasangan sebelum meninggal? Semoga saja hal itu tidak permanen.

Dilema yang selanjutnya dari pemerintah, mungkin dilema yang mereka hadapi sangat berat dibandingkan yang lainnya, dengan anggota yang mungkin hanya mencapai 10% dari penduduk Indonesia, sedangkan mereka harus mengurus ratusan juta orang, apakah itu buruk? Ternyata tidak, dengan adanya hal tersebut, pemerintah lebih berhati-hati dalam memprioritaskan sebuah kebijakan dan memilah yang baik untuk dilaksanakan untuk negeri tercinta yakni Indonesia dan untuk rakyat itu sendiri.

Beralih dari dilema pemerintah yang sangat rumit , kita dihadapkan dengan dilema yang banyak dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam urusan pribadi seperti dilema para jomblo. Mulai dari isu SARA dilema masyarakat dalam melihat, menanggapi, memahami, setiap sisi dari isu tersebut, melihat apa yang terjadi setelah isu menyebar, orang-orang lebih berhati-hati dalam berkata, orang-orang menjadi lebih empati, nilai-nilai pancasila yang tertuang dalam satu aksi bela islam, dan nilai-nilai patiriotisme (mencintai tanah air dengan tindakan) yang membara secara tidak langsung, seperti halnya yang dilansir dalam (http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38178840)

Di Banda Aceh, aksi diikuti puluhan peserta dan selain selain menuntut penangkapan Ahok, mereka juga menuntut pemerintah Indonesia mendesak pemerintah Myanmar menghentikan pembantaian etnis Rohingya, seperti dilaporkan wartawan di sana, Junaidi Hanafiah.

Aksi demo tidak sampai di Sulawesi Utara, kata wartawan di Manado, Evangline Aruperes namun anggota Dewan Perwakilan Daerah setempat, Billy Lombok, aksi kali ini bisa memberikan pesan damai yang harus terus disuarakan.

"Yang terjadi tadi perlu dipahami sebagai jalan Indonesia menjalani demokrasi...Cara pemerintah dalam menyambut proses tadi perlu diapresiasi, dan kita semua bersyukur ada elemen masyarakat yang sudah menyalurkan aspirasinya," kata Lombok.

Ini hanya salah satunya, tetapi mungkin saja di luar sana lebih banyak hal semacamnya. Selanjutnya, saat masyarakat memiliki dilema dalam memilih tempat liburan yang asyik, menyenangkan, beberapa orang memilih untuk liburan ke mall, atau ke taman hiburan, dan bahkan menjelajahi alam. Ternyata ada satu hal yang menjadikan liburan itu menjadi sebuah hal yang luar biasa, item itu adalah sesuatu yang “tak terlupakan”, esensi liburan yang sedikit dimiliki orang. Tetapi, lain halnya dengan orang yang berlibur untuk menikmati indahnya alam Indonesia. Ketika musim liburan tiba, secara otomatis para penikmat alam tersebut gencar untuk bersikap kreatif dalam menangani masalah yang akan timbul dalam perjalanan mereka, kreatif itu merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam liburan, mereka rela berdesak-desakan, macet, kepanasan, kehujanan, lelah, letih, lesu, lapar, mengantuk, atau yang paling mengerikan rela mati demi melihat pesona alam tersebut, apa ada orang yang seperti itu? Mungkin saja ada.

Setelah diterkam dengan berbagai masalah di atas, mereka sekejap akan melupakan hal yang telah terjadi karena melihat keindahan alam Indonesia yang tak ternilai harganya, tidak percaya? Semua hal yang dikorbankan akan membuahkan hasil yang luar biasa, tidak ada kepastian bahwa alam yang akan kita datangi indah atau tidak, tapi kegigihan tersebut, merupakan awal dari keindahannya, dan percaya atau tidak kegigihan itu terbalas saat melihat keindahan, keeksotisan, kemegahan, kekayaan alam Indonesia.

Sebagai contoh saya adalah salah satu yang rela merasakan hal itu untuk melihat keindahan alam tersebut. Hanya di Indonesia “Indonesia Punya Sejuta Dilema” itu kata orang, maka Indonesia dengan ikhlas menerima dilema itu, karena ini Indonesia, keindahan dan keistimewaan yang hadir dan tumbuh dari dilema yang berbagai rupa. Bhinneka tunggal ika itu semboyannya.

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"


Sumber : Pribadi , http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38178840 ,

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang60%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau40%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MIFTAHUL HAQ SYAWAL

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie