Gara-gara Cinta Mati Pada Tarian Indonesia

Gara-gara Cinta Mati Pada Tarian Indonesia

©margot lederer for jawa pos

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Betapa bangganya kita sebagai orang Indonesia yang memiliki kekayaan dan keberagaman tarian Indonesia. Terdapat lebih dari 3000 tarian tradisional yang dimiliki suku bangsa di Indonesia membuat budaya kita banyak yang melirik. Keberagaman tarian tradisional Indonesia yang tak habis dimakan zaman ini bahkan terus berkembang dan dicintai tak hanya oleh orang Indonesia saja, namun orang luar negeri banyak yang tertarik untuk belajar tarian Indonesia.

Keberagaman tarian Indonesia lah yang kemudian membuat seorang bule ini jatuh cinta pada Indonesia. Margot Lederer, seorang penari dari Amerika Serikat yang pada 40 tahun silam nekat terbang ke Bandung khusus untuk belajar tarian Indonesia. Siapa sangka berkat itulah dirinya kini telah menguasai 20 tarian tradisional Indonesia, menakjubkan!

Berawal dari sebuah pertunjukan seni dunia yang ia tonton pada 1973 yang kemudian membuat Margot jatuh cinta pertama kali pada seni dan budaya Indonesia. Namanya Berkeley Center for World Music yang diadakan di San Fransisco, Amerika Serikat ini diikuti oleh banyak negara termasuk Indonesia. Waktu itu Margot yang masih muda awalnya ingin belajar tari India, namun dirinya mendadak tertarik setelah melihat tari Bali dan irama dari alat musik tradisional yang dipentaskan oleh Indonesia.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Margot sedang belajar musik Kendang di Bandung pada 2014 ©facebook.com

Keinginannya untuk belajar lebih jauh seni dan budaya Indonesia didapat Margot dari Berkeley Center for World Music yang kala itu tengah membuka kesempatan belajar seni selama sebulan. Lantas hal tersebut kemudian tak disia-siakan Margot untuk belajar instrumen dan tari tradisional Indonesia. Di situlah kecintaannya pada seni tari Indonesia muncul ketika ia secara khusus mempelajari tari tradisional Sunda.

Waktu sebulan dirasa singkat bagi Margot untuk belajar tari Indonesia. Sekembalinya ke AS, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke Indonesia lagi. Keinginannya tersebut sempat tidak disetujui oleh orang tuanya, namun Margot tak habis akal. Untuk menenangkan orang tuanya, ia kemudian menempuh pendidikan intensive course bahasa dan kebudayaan Indonesia di Penang, Malaysia selama tiga bulan.

Kemudian Margot melanjutkan perjalanannya ke Bandung. Di kota pusat seni budaya Sunda tersebut dirinya belajar seni musik dan tari pada Nugraha Sudireja, seorang ahli seni yang menciptakan tari topeng Cirebon dengan sentuhan urban Bandung.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©muhamadasranur

Selain pada Nugraha, Margot juga belajar tari pada Irawati Durban Ardjo, seorang pelopor tari kreasi Sunda. Melalui guru-gurunya tersebutlah ia banyak belajar dan menguasai tari tradisional Indonesia. Tidak seperti warga Amerika lainnya yang lebih memilih tari Bali untuk dipelajari, Margot justru lebih memilih tari Topeng Kelana yang menjadi tarian pertama yang ia pelajari.

Tidak cukup mempelajari tari Topeng Kelana saja, tari Merak, tari Topeng Kencana Wungu dan tari Anjasmara juga ia pelajarinya. Hingga sekarang Margot telah menguasai 20 jenis tari Sunda, namun tari Topeng Kelana lah yang menjadi andalannya.

Perjalanan selama tiga tahun di Bandung kemudian membuat Margot memutuskan melanjutkan studi tarinya ke India selama dua tahun. Baru kemudian pada 1992, selepas ia belajar dari Bandung dan India Margot kerap kali tampil untuk mempertunjukkan tari tradisional Indonesia di tempat tinggalnya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Margot saat tampil bersama dua penari asal Indonesia di AS (©margot lederer for jawa pos

Tidak hanya itu, Margot yang tertarik pada seni musik Indonesia kemudian bergabung dengan grup gamelan dan komunitas budaya Indonesia di Amerika Serikat. Bahkan ketika berada di sana, ia diminta menjadi pengajar tari Sunda di KJRI San Fransisco.

Akhirnya pada 2016, keinginan untuk kembali ke Indonesia terwujud kembali melalui konferensi Planocosmo yang diikutinya di ITB. Lantas setelahnya selama sebulan sekali, Margot pergi ke Bandung menuju Pusat Bina Tari (Pusbitari) milik Irawati Durban Ardjo. Selain itu dirinya juga bergabung dengan lembaga independen United States Agency for International Development (USAID).

Margot yang sering pentas di berbagai kota di Amerika juga merupakan seorang pengajar. Kecintaannya pada kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia lah yang membuat Margot kemudian berniat untuk bisa lebih lama tinggal di Indonesia bersama kedua anak gadisnya.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi8%
Pilih TerpukauTerpukau58%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Eksotisme Pulau Lengkuas Belitung Sebelummnya

Eksotisme Pulau Lengkuas Belitung

Yuk! Kenal Mereka yang Masuk Forbes 30 Under 30 2020 Indonesia (2) Selanjutnya

Yuk! Kenal Mereka yang Masuk Forbes 30 Under 30 2020 Indonesia (2)

Ahda Fariha
@ahda_fariha

Ahda Fariha

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.