Lupa Sandi?

Bahkan suhu -7°c di Ranukumbolo tak mampu membekukan kekaguman kami terhadap alam Indonesia

Agnes Sintya
Agnes Sintya
0 Komentar
Bahkan suhu -7°c di Ranukumbolo tak mampu membekukan kekaguman kami terhadap alam Indonesia
Bismillah
Bismillah

Pengalaman perjalanan ini kami tempuh kurang lebih satu tahun lalu dengan destinasi gunung yang memiliki puncak tertinggi di Jawa Timur.

Bisa dibilang aku tertarik ikut teman-teman karena terbawa rasa penasaran efek nonton film perjalanan sekelompok kawan yang mempunyai tujuan mengeksplor indahnya gunung yang terletak di Malang-Lumajang tersebut, Gunung Semeru.

Pun bisa dibilang aku ini pendaki dadakan korban film, pendaki alay, tapi abaikan saja nada-nada sumbang, karena meskipun aku belum pernah ada pengalaman mendaki sebelumnya, tujuanku mengunjungi semeru bukanlah untuk merusak alamnya, aku ingin menyaksikan keindahan yang sebelumnya hanya aku saksikan di layar kaca, terpampang nyata di hadapan mata.

Perjalanan menuju G. Semeru kami tempuh naik kereta api, tiba di stasiun kota malang kami rental motor di daerah sana untuk 3 hari. Perjalanan kami taklukan berlima orang. Sarana prasarana mendaki dengan mudah didapatkan dikota malang, kami sewa perlengkapan mendaki disana.

Baca Juga

Malang kota menuju desa tumpang kami tempuh kurang lebih 3 jam menggunakan sepeda motor. Tiba di pos ranupani, perasaan dag dig dug ditambah takjub mampu meruntuhkan keraguan yang sempat muncul "bisakah aku menginjakkan kaki sampai atas sana, walau sekedar menyaksikan indahnya ranukumbolo dihadapan mata".

Sebagai warga negara yang baik, dimanapun dan apapun yang kita lakukan, tetaplah patuhi peraturan yang tertata. Kami berlima mendaftar sebagai persyaratan pendakian dan melewati jalur resmi untuk menimalisir kejadian yang tak diinginkan.  Kami berlima mengikuti briefing pendakian dengan takzim bersama rombongan pendaki lain dari berbagai daerah. Selesai briefing kami mengumpulkan semangat dan tekad untuk segera melangkahkan kaki, meninggalkan ranu pani.

Dan, wuhhh adrenalinku teruji. Maklumlah sebelumnya belum pernah punya pengalaman jalan kaki jauh bahkan menanjak, belum ada seperempat perjalanan napas mulai ngos-ngosan, Tapi aku harus ingat tujuan awal. Sepanjang jalan kami berlima lantang teriakkan yel-yel penyemangat sebagai pemacu semangat kami. Dan benarlah, setelah beberapa kilometer perjalanan, kami disambut gerbang bertuliskan "selamat datang para pendaki Gunung Semeru", waaahh aku langsung excited, betapa baiknya aku disambut dan disebut dengan "pendaki" *nyengirkudahahaha*.

Disambut dengan baik....hehehe
Disambut dengan baik....hehehe

Selesai mengabadikan foto di gerbang yang baik tersebut, kami kumpulkan lagi semangat untuk memulai perjalanan sebenarnya. Pendakian yang melelahkan dibayar seimbang dengan begitu banyaknya pemandangan yang menakjubkan di kiri kanan perjalanan. Pendakian banyak menyita waktu disebabkan, aku paling gampang lelah, berulang kali kram kaki, tapi tetaplah aku tak mau begitu saja menyerah apalagi melihat semangat teman-teman akupun jadi terpacu, apalagi kalau dipikir-pikir aku membawa beban paling ringan *beruntung juga aku paling mungil disitu*.

Kurang lebih 8 jam pendakian yang luar biasa dahsyatnya, setelah melewati jalur yang lumayan curam, karena jalur yang biasanya tidak bisa dilewati, akhirnya sedikit mulai terlihat surganya Gunung semeru. Euphoria tak tertahankan meletup-letup begitu saja, "ranukumbolo aku datang" teriak sebagian teman. Dalam hatiku "ranukumbolo, demi kamu kakiku kram berulang-ulang, tapi penampilanmu mampu membuatku lupa sakitnya kram".

Karena hari mulai gelap kami berjalan merayap memanfaatkan headlamp, tak sabar ingin segera berdiri diantara para pendaki yang sudah menancapkan tenda di pinggiran ranu. 

Tiba di lokasi pendirian tenda kami menggigil bahagia, meskipun terasa bagai di dalam freezer raksasa. Dilain itu kami disambut pendaki lain yang sudah mendirikan tenda bahkan sudah masak sebagai hidangan makan malam, kami di ajak makan bersama. Luar biasa, ini yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya, bertemu dengan banyak orang, yang walaupun kami belum pernah kenal satu sama lain sebelumnya, tapi mereka saling anggap sebagai saudara. Pun demikian yang aku dapatkan sepanjang perjalanan, bertemu dengan banyak orang ramah, saling memberi semangat untuk sampai ke tempat yang dituju, tidak pandang usia, gender, bahkan status sosial maupun ekonomi, semua sama, semua saudara.

Semakin malam Gemerutuk gigi saling bersahutan,, tapi kami masih betah berlama-lama memandang ribuan formasi bintang yang kami tak pernah dapat saksikan di dataran rendah. Adapula yang berkumpul di sekitar api unggun yang dibuat khusus oleh pengelola lokasi untuk menghangatkan badan.

Sayang blur, nampak asli sumpah keren banget
Sayang blur, nampak asli sumpah keren banget

Pengalaman tak terlupakan ketika tengah malam, salah seorang teman yang, yahh bisa dikatakan dia punya badan paling bongsor, tapi menggigil sempurna tak dapat ditahan. Dia hipotermi, segera kami larikan ke pusat api unggun. (Dia tertawa paling lebar kalau ingat kejadian ini).

Dia malu-malu muncul dihadapanku
Dia malu-malu muncul dihadapanku

 Pagi di ranu kumbolo adalah view maha dahsyat, sunrise yang menyembul malu-malu ke atas permukaan sudut segitiga terbalik ranukumbolo, tiada tandingannya. Ditambah dengan pemandangan ciamik yang belum pernah aku saksikan, segala macam peralatan masak dan makan di sebelah tenda, tak luput diselimuti embun membeku *tambah excited mirip salju*. Pengelola kawasan mengatakan suhu lokasi saat itu berada di titik -7°c, wauu luar biasa.

Salju di ranu kumbolo
Salju di ranu kumbolo

Hampir naik matahari teman-teman melanjutkan perjalanan menuju ke oro-oro ombo melalui tanjakan cinta, tanjakan yang konon katanya kalau kita sanggup naik ke atas dan menyebutkan dalam hati orang yang kita cinta, niscaya dia akan jadi jodoh kita, mitos lho ya mitos. Karena fisik sudah lelah, hayati jadi pasrah, sudahlah tak apa tak melewati tanjakkan cinta, nanti kalau sudah waktunya jodoh pasti datang juga *hiburku dalam hati hoho*.

Perhatian!!! Dilarang nengok
Perhatian!!! Dilarang nengok

 Selesai menunaikan kegiatan menikmati alam ranu kumbolo kami bersiap merapikan kembali tenda dan mengumpulkan sampah-sampah yang kami buat selama camp. Kami walaupun bukan pendaki sebenarnya, tapi kami sayang juga sama alam, kami tak mau merusaknya, kami tak mau meninggalkan jejak yang buruk, jadi kami pantang pulang kalau tak membawa sampah dari ranu kumbolo.

Kami cukup puas sampai di ranukumbolo karena fisik para wanita sudah lelah ditambah kami akan lanjut perjalanan menikmati alam bromo. 

Jalur pulang kami berbeda, kami agak nakal sedikit, seharusnya melewati jalur berangkat, tapi kami nekat ambil jalur pintas yang biasa dilewati pendaki lokal. Kami nekat bukan berarti tidak taat, kami berani ambil jalur itu karena pendaki lokal sendiri sudah meyakinkan kami kalau jalur itu aman dan hanya ada satu jalur.

Jalur ayak-ayak
Jalur ayak-ayak

Tapiiiiiiii,,,,, alih-alih mendapatkan jalur supaya lebih cepat sampai, jalurnya malah mengerikan, jalur ayak-ayak namanya. Benar lintasan lebih pendek tapi menanjak lebih tinggi, kami pendaki amatiran sudah pasti ngos-ngosan. 

Sialnya lagi ditengah jalan persediaan air amblas, habis, Pasrahlah kita. Ada tapiii lagi, kita mendengar sayup-sayup suara orang, berarti yayy bantuan datang. Muncul dua orang dan Alhamdulillah mereka dengan baik hati berbagi persediaan air minum dengan kami.

Di puncak jalur ayak-ayak
Di puncak jalur ayak-ayak

 Tapak demi setapak perjalanan yang tak dapat dilupakan, kami berhasil turun dan sampai di pos ranu pani dengan sehat dan selamat. Tak usah ditanya bagaimana lelahnya perjalanan kami disana, karena yang tersimpan sebagai kenangan di memori kami adalah betapa luar biasa ciptaanNya. Indonesiaku Kereeennnn!!!!

Lelahpun kami tertawa
Lelahpun kami tertawa

Masih begitu banyak alam indah di Indonesia Keren kita. Semoga kita semua senantiasa dilimpahi jiwa dan raga yang sehat, supaya kita dapat menyaksikan dan menjaga alam ciptaanNya yang begitu luar biasa. Aamiin....

Bagaimana sanggup aku mengeluh lelah, apabila sepanjang Kaki melangkah yang kutemui pemandangan alam yang begitu indah
Bagaimana sanggup aku mengeluh lelah, apabila sepanjang Kaki melangkah yang kutemui pemandangan alam yang begitu indah

 Dan buat kamu, yang entah masih siapa dan dimana, semoga suatu hari nanti bisa menyaksikan  indonesia keren bersama yaaa...uhukkk

Kapan-kapan....aamiin
Kapan-kapan....aamiin

 

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"
Sumber :

Pilih BanggaBangga17%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli17%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AGNES SINTYA

pecinta terbit dan terbenamnya mentari ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata