Lupa Sandi?

Eksotisme Kawah Ijen di Ujung Jawa

Gerri Mulyawandry
Gerri Mulyawandry
0 Komentar
Eksotisme Kawah Ijen di Ujung Jawa

Bila dulu orang-orang menilai Banyuwangi itu dikonotasikan klenik,
Kini berbeda, sebab Banyuwangi yang sekarang sangatlah menarik.
Saya temasuk salah satu dari sekian banyak orang yang beruntung bisa mengunjungi Kabupaten Banyuwangi serta mendatangi berbagai tempat yang menarik. Perjalanan diawali dari Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng) menuju Bandara Juanda (Surabaya) dengan waktu tempuh + 1 jam.  Tiba di
Surabaya saya melanjutkan melalui perjalanan darat menuju Banyuwangi yang ditempuh selama + 8 jam. Meski sama-sama berada di Provinsi Jawa Timur dengan Surabaya, jarak keduanya hampir mencapai + 300 km. Banyuwangi merupakan daerah yang pertama kali terkena sinar matahari di Pulau Jawa,
mengingat letak geografisnya yang berada di paling ujung jawa. Itu sebabnya Banyuwangi mendapat julukan The Sunrise of Java.

Suasana matahari terbit
Suasana matahari terbit


Setibanya di Banyuwangi, saya melihat suasana kota yang bersih dan rapih. Jalur pedestrian serta taman kota yang tertata apik. Kali pertama menginjakkan kaki saya langsung check-in di hotel ternama berbintang empat. Saya sempat terkejut, Sebab dengan notabene daerah kecil tingkat kabupaten, berdiri megah sebuah hotel yang memiliki segmen menengah ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa Banyuwangi siap untuk melayani para wisatawan dan serius membangun bidang pariwisata dengan hadirnya para investor.

Jelang makan malam saya pun mencari tempat kuliner seputaran Banyuwangi yang wajib dikunjungi. Akhirnya saya berlabuh di Rumah Makan Bik Ati yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani, untuk menyantap Rawon yang menurut penduduk setempat juaranya soal rasa. Selepas itu saya melanjuti
kembali kuliner dengan mendatangi Rumah Makan Ikan Bakar Pesona yang terletak di Jalan Yos Sudarso, dengan menu andalannya yakni ragam makanan seafood. Setelah perut terisi saya bergegas ke kamar hotel untuk beristirahat dan menyiapkan fisik untuk melakukan tracking ke puncak Kawah Ijen tengah malam nanti.

RM Ikan Bakar Pesona
RM Ikan Bakar Pesona

Waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB, saya beserta rombongan lainnya berkumpul di area parkir hotel dan membagi beberapa kelompok untuk naik sejumlah kendaraan Jeep/Trooper. Kendaraan tersebut akan dipakai para rombongan kelompok menuju Paltuding dengan berkonvoi, yang mana Paltuding merupakan akses pintu masuk ke Kawah Ijen. Perjalanan kami tempuh + 1 jam dengan jarak + 30 km dengan kondisi lancar dan laju yang cepat. Selepas dari area kota, kami memasuki jalur yang sempit dan berkelok-kelok, yang dikedua sisinya berupa semak belukar dan area perkebunan.

Kendaraan yang dipakai menuju Paltuding
Kendaraan yang dipakai menuju Paltuding


Tibalah saya di Paltuding dan segera briefing dengan masing-masing kelompok beserta para pemandu. Paltuding merupakan tempat titik kumpul untuk memulai perjalanan menuju Kawah Ijen. Disini terdapat area parkir yang luas, toilet, mushola, home stay dan beberapa warung penjaja makanan. Mengingat perjalanan menuju kawah begitu gelap serta dingin dan aroma belerang yang kuat, sangat dianjurkan membawa masker dan pakaian atau atribut yang melindungi dari hawa dingin serta senter untuk menerangi perjalanan saat tracking. Bila memang tidak membawa perlengkapan tersebut, tak perlu khawatir sebab disana ada beberapa pedagang yang menjual atribut seperti shall, masker, sarung tangan, penutup kepala serta pernak-pernik lainnya yang buka 24 jam.

Baca Juga
Suasana paltuding pagi hari
Suasana paltuding pagi hari


Saat itu waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB, saya beserta kelompok yang lain memulai perjalanan tracking menuju Kawah Ijen di ketinggian 2.386 mdpl yang mendapat predikat kawah terbesar di Pulau Jawa. Meski jarak Paltuding hingga ke Kawah Ijen hanya 3 km, namun mengingat karakter jalur tracking yang menanjak dan tanah berpasir serta batu halus, perjalanan bisa memakan waktu antara 2 sampai 3 jam.

Sepanjang perjalanan saya menjumpai para penambang belerang tradisional yang ikut naik ke atas maupun turun. Mereka mendapatkan belerang dengan menyusuri jalan setapak ke dasar kawah di tebing kaldera yang jaraknya + 3 km. Biasanya mereka membawa hasil tambangnya dengan berat 80 kg - 100 kg dengan cara dipikul. Sebagai penambah sumber penghasilannya, para penambang juga memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya mendaki Kawah Ijen sebagai pemandu ataupun menerima jasa trasnportasi untuk mengantar pulang ke arah pos masuk.

Penambang tradisional belerang
Penambang tradisional belerang


Akhirnya saya pun berhasil mencapai puncak Kawah Ijen sebelum memasuki waktu subuh, kira-kira pada saat itu waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB. Saya pun melepas lelah disana dan menikmati panorama Kawah Ijen, meski masih gelap namun sangat terasa aroma belerang yang kuat hingga membuat mata pedih. Tak lama matahari pun menunjukkan sinarnya perlahan-lahan dan rasa lelah saat tracking terobati dengan keindahan alam yang ada disana. Sayang untuk dilewatkan begitu saja, kami mengadabadikan momen-momen selama disana, berbagi kebahagiaan dengan orang lain karena telah mencapai puncak.

Puncak Kawah Ijen
Puncak Kawah Ijen
Berswafoto dengan yang lain di Pucak Kawah Ijen
Berswafoto dengan yang lain di Pucak Kawah Ijen

Matahari sudah makin tinggi, sehingga saya memutuskan untuk turun menuju Paltuding kembali selagi cuaca belum panas saat tracking turun. Selama perjalanan pulang akhirnya saya menyadari bahwa jalur yang dilalui ketika tracking naik begitu indah saat pagi hari. Mengingat saat itu perjalanan dini hari yang gelap sehingga saya hanya bisa melihat setapak jalan yang berpasir saja. Nampak terlihat beberapa orang yang turun, memakai jasa angkut gerobak si penambang. Mungkin karena sudah tidak sanggup dan ingin cepat sampai di Paltuding, akhirnya mereka memakai jasa tersebut.

Jasa gerobak
Jasa gerobak
Bukit sekitar Kawah
Bukit sekitar Kawah
Para pengunjung yang sedang tracking
Para pengunjung yang sedang tracking

Sungguh pengalaman yang begitu berharga, selain bisa menikmati eksotisme Kawah Ijen saya pun bisa melihat sisi lain, yakni kehidupan para penambang yang menggantungkan hidupnya dari sumber daya alam yang ada disana. Bila anda merencanakan perjalanan ke Banyuwangi, tak ada salahnya mengunjungi Kawah Ijen. Disana juga terdapat Bandar Udara lho, yang berlokasi di Desa Blimbingan - Rogojampi. Sudah ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani penerbangan dari dan menuju bandar Udara Blimbingan. lagi-lagi disini Banyuwangi sudah mempersiapkan betul sarana dan prasarana bagi para wisatawan.

Bandar Udara Blimbingan
Bandar Udara Blimbingan

Yuk, masukkan ke dalam agenda perjalanan anda selanjutnya...


Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Pilih BanggaBangga83%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi17%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG GERRI MULYAWANDRY

Pustakawan ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata