Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Dibalik Nama Salatiga, Kota Paling Toleran Di Indonesia

adli hazmi
adli hazmi
0 Komentar
Dibalik Nama Salatiga, Kota Paling Toleran Di Indonesia
Patung Jenderal Besar Sudirman di tengah kota Salatiga (Sumber : Andika Zulfa & Radityo Kuswihatmo)

Mendengar nama sebuah kota, kita pasti akan memproyeksikan nama tersebut secara harfiah berdasarkan nama yang kita dengar. Sebuah kota kecil yang berada di pertengahan antara kota Solo dan Semarang ini memiliki nama yang unik, yaitu Salatiga.

Beberapa orang yang besar dan tinggal di Salatiga kemudian pergi ke kota lain pasti akan menemui kata seperti “dari Salatiga? Benar tujuh dong?”. Ya, hal ini cukup sering dialami oleh orang asal Salatiga yang merantau ke kota lain. Namun sebenarnya tidak banyak orang yang tahu akan sejarah nama Salatiga ini meski tinggal di Salatiga.

Penamaan nama Salatiga memiliki sejarah yang mana ini karena kesalahan dari tiga orang. Terdapat dua cerita yang berbeda tentang asal-usul penamaan nama kota Salatiga ini. Cerita pertama menceritakan tentang pada jaman dahulu terdapat sebuah pemimpin di Kota Semarang bernama Ki Ageng Pandanarang yang memiliki istri bernama Nyai Pandanarang.

Adipati Pandanarang dikenal dengan pemimpin yang yang jujur namun memiliki sisi buruk, yaitu menyukai harta benda yang berlimpah. Kabar tentang sisi buruk Ki Ageng Pandanarang ini kemudian didengar oleh Sunan Kalijaga, seorang wali islam yang arif dan bijaksana. Sunan kemudian ingin menasehati pemimpin ini dengan caranya sendiri. Sunan kemudian menyamar sebagai tukang rumput dan menjual rumput untuk halaman Kabupaten dengan harga yang murah.

Baca Juga

Penjual rumput ini kemudian setuju untuk meletakan rumputnya di kandang kabupaten, amun sebelum ia menyelipkan uang lima sen diantara rerumputan. Uang tersebut kemudian ditemukan oleh abdi dalem yang segera melapor kepada Ki Ageng. Mendengar hal ini, ia heran akan perbuatan si tukang rumput dan menanyakan kepada tukang rumput itu sendiri. Si tukang rumput ini kemudian menjawab bahwa dirinya tidak membutuhkan benda-benda duniawi karena semuanya tidak abadi. Ia berkata bahwa ada emas permata yang tertanam di dalam halaman Istana.

Pemandangan Kota Salatiga Dibawah Gunung Merbabu (Sumber : Maestro Bali DMC)
Pemandangan Kota Salatiga Dibawah Gunung Merbabu (Sumber : Maestro Bali DMC)

Mendengar hal ini Ki Ageng merasa sudah dihina oleh si tukang rumput sehingga ia menyuruh si tukang rumput ini membuktika ucapannya dan ternyata pernyataan tukang rumput ini benar. Setelah ia mencangkulkan cangkul ke tanah, terdapat ada emas permata didalamnya.

Si tukang rumput ini kemudian membongkar penyamarannya. Pandanarang pun kaget dan segera meminta maaf kepada Sunan Kalijaga. Sunan pun meminta pandanarang untuk melepaskan kegemarannya atas harta. Pandanarang kemudian ingin belajar dan ikut Sunan Kalijaga, namun sang istri, nyai Pandanarang pun juga ingin ikut dengan suaminya berguru pada Suan Kalijaga.

Namun Nyai Pandangaran tidak ingin melepaskan hartanya sehingga ia meminta suaminya pergi duluan bersama Sunan, dan ia akan mengikutinya di belakang. Naas bagi Nyai Pandangaran yang tidak mendengarkan Sunan Kalijaga, Nyai pandangaran yang waktu itu menyimpan emas dan permata didalam tongkatnya yang terbuat dari bambu telah mengalami perampokan oleh tiga orang penyamun.

Setelah bertemu dengan sang suami dan juga Sunan Kalijaga, Nyai menceritakan kejadian yang dia alami. Sunan kalijaga kemudian berkata kesalahan ini adalah akibat tiga orang yakni Nyai, sang suami dan juga para penyamun itu. Untuk mengingat kejadian tersebut maka Sunan Kalijaga kemudian menamakan daerah itu dengan nama Salah Tiga yang seiring dengan waktu bergeser menjadi Salatiga.

Cerita lainnya bercerita tentang perjalanan Ki Ageng Pandanarang II yang kala itu Bupati Semarang yang meninggalkan kehidupannya yang berlimpah harta dari jabatannya sebagai Bupati karena nasehat dari Sunan Kalijaga. Ia meninggalkan jabatannya dan berama istri dan hendak berguru pada Sunan Kalijaga.

Di tengah perjalanannya mereka dihadang oleh tiga orang perampok yang hendak merampok bawaan istri Ki Ageng Pandanarang. Namun ketiga perampok tersebut dapat dikalahkan oleh Ki Ageng Pandanarang. Kemudian Ki Ageng menamai daerah tersebut dengan nama Salatiga yang berasal dari salah dan tiga. Ketiga perampok tersebut kemudian masuk Islam dan ikut Ki Ageng Pandanarang

Predikat Salatiga Sebagai Kota Paling Toleran

Festival Drumblek Salatiga (Sumber : patainews.com)
Festival Drumblek Salatiga (Sumber : patainews.com)

Mengenai Salatiga, banyak yang beranggapan bahwa Kota Salatiga adalah salah satu kota paling toleran di Indonesia. Hal ini dikarenakan hampir tidak ada konflik beragama yang pecah disana. Orang dengan berbagai macam latar belakang agama yang tinggal di Salatiga telah hidup rukun dari lama.

Pernyataan mengenai predikat kota Salatiga ini pun didukung oleh hasil respondensi dari Setara Institute pada tahun 2015. Setara Institute adalah sebuah institute yang didirikan pada 14 Oktober 2005 yang bertujuan mempromosikan pluralisme, kemanusiaan, demokrasi dan Hak Asasi Manusia.

Setara Institute pada tahun 2015 melakukan penelitian terhadap 94 dari 98 kota di Indonesia, menggunakan data dari regulasi pemerintah, rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) peraturan daerah dan data himpunan Komnas Perempuan. Dari data tersebut Salatiga mendapat predikat kota paling toleran nomor dua setelah Pematang Siantar, diikuti dengan kota Singkawang, Manado, Tual, Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak dan Palangkaraya.

Sumber : Disadur Dari Berbagai Sumber

Pilih BanggaBangga85%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi2%
Pilih TerpukauTerpukau5%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADLI HAZMI

Coffee addict, travel and sport enthusiast. a person who really likes international politics. Follow my Instagram @adli_hazmi ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata