Lupa Sandi?

Kenapa Anda Harus ke Flores

boy torkis simarmata
boy torkis simarmata
0 Komentar
Kenapa Anda Harus ke Flores

Sebagai orang Indonesia yang bangga dengan tanah airnya, tentu kita tidak lagi asing mendengar segala pujian tentang tanah air tercinta, bagaimana tidak, tanah air kita dilimpahi tanah yang luas dan subur, sinar matahari yang cukup, curah hujan tinggi yang berarti hutan hujan tropis yang luas, hasil bumi yang kaya, pertanian subur dan melimpah. Kita juga dianugerahi laut yang luas dengan segala kekayaan hasilnya, Indonesia juga negara kepulauan terbesar di dunia  yang membuat kita tidak hanya memiliki kekayan alam tapi juga budaya yang sangat beragam dan unik di dalamnya yang membuat iri bangsa-bangsa lain.

Salah satu pulau di Indonesia yang sarat dengan segala kekayaan alam dan keunikan budayanya adalah Pulau Flores. Sebuah pulau indah nan menawan yang berada di tenggara Indonesia. Pulau Flores sendiri termasuk dalam kawasan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Awalnya Pulau ini bernama Nusa Nipa, nama Flores berasal dari kata Cabo de Flores yang berarti Tanjung Bunga, nama yang disematkan oleh seorang Portugis bernama S. M. Cabot yang terkagum dengan dengan keindahan bunga yang ia dapati di bagian timur pulau ini. Nama Pulau Flores resmi dipakai sejak tahun 1936 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Inilah asalnya kenapa hingga sekarang pulau ini disebut sebagai Pulau Flores.

Membahas semua kekayaan alam, kekayaan budaya serta potensi wisata yang ada di Pulau Flores sama artinya dengan menulis sebuah buku, akan menghabiskan berjam-jam untuk membacanya, karenanya saya akan mencoba menarik minat anda untuk berkunjung ke hamparan harta Indonesia yang sangat bernilai ini lewat visualisasi saya terhadap lima kota terbesar di Pulau Flores yang pernah saya tinggali atau sekedar kunjungi. Apabila anda menyukai fotografi alam seperti saya, maka pulau Flores akan memberikan warna baru pada portfolio anda. Apabila anda menyukai setiap moment traveling, menyaksikan keindahan alam pemberian Tuhan, menikmati beraneka ragam keunikan budaya warisan leluhur dan menjadikannya memori dan pengalaman hidup, maka pulau Flores tidak akan mengecewakan anda. Keramahan dari masyarakat di kota-kota di Pulau Flores terhadap pendatang juga menambah daya tarik para pengunjung.

1. Maumere

Baca Juga

Maumere yang merupakan ibukota dari Kabupaten Sikka adalah kota perdagangan, kota pelabuhan dan yang pasti kota wisata yang terdapat di sebelah timur Pulau Flores, mungkin belakangan anda sering mendengar lagu berjudul Gemufamire yang liriknya kurang lebih -“Maumere taga di Kota Ende… lalu …putar ke kiri e, nona manis putarlah ke kiri ke kiri…”- benar, ini adalah kota yang sama dengan isi lagu tersebut, kota yang sangat indah dan diisi oleh pantai-pantai dengan pasir putih, serta sunset dan sunrise yang luar biasa indah. Maumere masih memiliki banyak pantai yang indah dan belum terjamah tangan investor sehingga memungkinkan anda mengeksplor keindahan pantai dengan leluasa serta resort-resort yang sangat tepat untuk anda kunjungi untuk sesekali melepas penat dari hingar-bingar kota besar dan menikmati hidup.

Sunrise di Pantai Paris Maumere © Boy Torkis Simarmata
Sunrise di Pantai Paris Maumere © Boy Torkis Simarmata

Beberapa pantai di Maumere berada di sebelah utara yang memungkinkan anda untuk menangkap sunrise dan sunset dari spot yang sama. Keindahan kota ini juga dipadu dengan akses yang mudah dan terjangkau dengan pesawat langsung dari Ibukota Provinsi NTT, Kota Kupang juga menjadi nilai lebih dari kota Maumere.

Sunset di Pantai Wailiti Maumere © Boy Torkis Simarmata
Sunset di Pantai Wailiti Maumere © Boy Torkis Simarmata

2. Ende

Menempuh 4 jam perjalanan darat ke arah barat akan mengantarkan anda ke Kota Ende, ibukota dari Kabupaten Ende. Ende boleh dibilang sebagai kota yang lebih dulu punya nama dibandingkan kota-kota lain di Pulau Flores. Hal ini dikarenakan kota Ende merupakan kota yang pernah menjadi tempat pengasingan Bapak Proklamator RI dan Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Di kota Ende inilah Soekarno merenungkan ide Pancasila yang hingga sekarang menjadi dasar kehidupan bernegara di Indonesia.

Kota Ende juga merupakan "pintu masuk" bagi wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung keajaiban Danau Kelimutu, danau vulkanik dengan segala mitos dan kepercayaan tentang asal-usulnya. Danau Kelimutu merupakan salah satu kekayaan alam yang paling dikenal di Pulau Flores, mungkin karena dulu pernah muncul di uang kertas pecahan lima ribu rupiah, mungkin karena pemandangan sunrise-nya yang menawan atau mungkin pula karena keunikan danau ini mengalami perubahan warna sepanjang tahun.

Danau Kelimutu © Boy Torkis Simarmata
Danau Kelimutu  © Boy Torkis Simarmata

Namun tidak hanya sejarah tentang pengasingan Mantan Preseiden Soekarno dan Danau Kelimutu, Ende juga memiliki pantai yang menawan karena keindahan sunset-nyaPantai Ria di Ende adalah tempat wisata dimana anda bisa bersantai menikmati santapan lezat yang disajikan oleh kafe-kafe dan restoran di tepi pantai sambil memandangi dan mengabadikan sunset di balik gunung dan lalu ada Bukit Cinta yang hijau dan tenang dimana anda bisa menyaksikan sunrise. Bukit Cinta Ende bisa anda tempuh dalam 30-45 menit perjalanan darat dari pusat Kota Ende, sungguh pengalaman yang menyenangkan.

Sunset di Pantai Ria Ende  © Boy Torkis Simarmata
Sunset di Pantai Ria Ende © Boy Torkis Simarmata
Pagi di Bukit Cinta Ende  © Boy Torkis Simarmata
Pagi di Bukit Cinta Ende © Boy Torkis Simarmata

3. Bajawa

Bajawa adalah kota di dataran tinggi Flores yang dikelilingi oleh pegunungan yang megah dan menawan. Bajawa yang merupakan ibukota dari Kabupaten Ngada pun berjarak sekira 4 jam perjalanan darat dari kota Ende ke arah barat. Seperti umumnya kota yang berada di dataran tinggi, suhu di kota ini sangat dingin, suhu dingin dan tanah yang subur adalah dua dari banyak faktor yang menjadikan Bajawa kota penghasil biji kopi Arabika dan Robusta yang terkenal tidak hanya di Indonesia tapi juga hingga mancanegara yang mana belakangan lebih dikenal dengan nama Kopi Flores.

Objek wisata yang paling terkenal dari Bajawa adalah Kampung Adat Bena dan Pemandian Air Panas Alami Soa. Kampung Adat Bena dapat anda ditempuh dengan mobil ataupun sepeda motor dalam 30-40 menit dari kota Bajawa. Kampung Adat Bena ini sangat menarik untuk diabadikan dan akan menambah koleksi foto landscape anda. Dan ya, Keindahan dari Danau Kelimutu dan Kampung Adat Bena ini menjadi inspirasi Sariayu trend warna 2012, sebuah trend warna kosmetik dari Martha Tilaar Group, salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia. Suasana kampung adat yang tenang dan penduduk asli yang ramah terhadap pendatang juga menambah kenyamanan anda untuk bersantai dan menghabiskan waktu di sana.

Kampung Adat Bena Bajawa  © Boy Torkis Simarmata
Kampung Adat Bena Bajawa © Boy Torkis Simarmata

Pemandian air panas Soa adalah pemandian air panas alami yang berjarak sekitar satu jam dari pusat kota Bajawa. kondisi pemandian air panas yang sangat rindang dikelilingi pepohonan hijau dan lebat. Ketika air hangat menyentuh tubuh anda yang kedinginan karena suhu kota Bajawa. Menikmati sensasi berendam air panas sendiri atau bersama keluarga terlebih bila anda telah sebelumnya menyiapkan minuman hangat dan menikmatinya sembari bersandar berendam di tepi kolam air hangat, anda bisa membayangkan sendiri sensasi yang akan anda dapat.

Pemandian Air Panas Soa Bajawa  © Boy Torkis Simarmata
Pemandian Air Panas Soa Bajawa © Boy Torkis Simarmata

 4. Ruteng

Mari kita lanjutkan perjalanan dari Kota Bajawa ke arah timur. Dalam waktu kurang lebih 4 jam kita akan tiba di Kota Ruteng yang merupakan ibukota dari Kabupaten Manggarai, seperti halnya Bajawa, Ruteng juga merupakan kota dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan indah dan juga penghasil kopi Flores serta hasil-hasil bumi lainnya seperti cengkeh, kacang mente, kakao, kemiri dan tanahnya yang subur juga menjadikannya kota yang dikelilingi persawahan yang subur nan luas.

Sunrise di Persawahan Karot Ruteng  © Boy Torkis Simarmata
Sunrise di Persawahan Karot Ruteng © Boy Torkis Simarmata

Dari Ruteng anda bisa memperoleh akses ke dua objek wisata yang tidak hanya indah namun juga bernilai historis karena merupakan peninggalan dari budaya dari orang-orang yang jauh lebih awal tinggal di Pulau Flores. Wae Rebo dan Lingko Meler adalah dua kekayaan alam sekaligus peninggalan sejarah budaya yang sangat mengagumkan dan sangat sayang untuk dilewatkan.

Wae Rebo adalah sebuah kampung adat yang berada jauh di tengah hutan dan masih terjaga nilai etnisnya. Untuk mencapai Wae Rebo pertama anda harus menempuh perjalanan darat dengan kendaraan dari kota pusat kota Ruteng selama 2-3 jam menuju Desa Denge, selanjutnya anda berjalan kaki sekitar 7 km melewati hutan, gunung dan lembah, sebuah perjalanan yang sangat menantang dan melelahkan namun di sanalah letak kenikmatannya. Tetapi sesampainya di Kampung Wae Rebo, anda akan merasakan kepuasan yang luar biasa, kampung yg indah, desain rumah ada yg sangat unik serta sambutan masyarakat asli yang sangat ramah, anda pun disediakan tempat beristirahat melepas lelah dan makan siang yang sederhana namun lezat serta tidak lupa secangkir kopi flores hangat yang merupakan hasil kebun penduduk setempat. Setiap bulan November, di Wae Rebo biasanya diadakan upacara syukuran atas panen hasil bumi bernama Upacara Penti. Upacara Penti diisi dengan ritual adat dan tari caci, tarian perang khas masyarakat Suku Manggarai.

Kampung Adat Wae Rebo  © Boy Torkis Simarmata
Kampung Adat Wae Rebo © Boy Torkis Simarmata
Tari Caci  © Boy Torkis Simarmata
Tari Caci © Boy Torkis Simarmata

Lingko Meler adalah sawah yang pembagian tanahnya dibuat secara melingkar oleh penduduk suku Manggarai zaman dahulu dan tetap dipertahan hingga sekarang, sebuah pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan, dan lebih menakjubkan mengetahui fakta bahwa sawah ini dibuat ratusan tahun lalu dengan segala keterbatasan teknologi. Untuk mencapai Lingko Meler yang biasa disebut Lodok oleh penduduk setempat atau Spiderweb Ricefield  oleh para wisatawan asing dapat ditempuh dengan perjalanan darat dengan mobil atau sepeda motor selama 45-60 menit lalu berjalan kaki ke atas bukit sekitar 10 menit. Bersantai memandang Lingko Meler di pagi hari dengan udara yang sangat sejuk saat padi masih hijau adalah sebuah pengalaman hidup yang memanjakan mata dan pikiran. 

Lingko Meler (Sawah Jaring Laba-Laba)  © Boy Torkis Simarmata
Lingko Meler (Sawah Jaring Laba-Laba) © Boy Torkis Simarmata

5. Labuan Bajo

Pulau Kecil Tampak dari Labuan Bajo  © Boy Torkis Simarmata
Pulau Kecil Tampak dari Labuan Bajo © Boy Torkis Simarmata

Setelah menikmati hawa sejuk di dataran tinggi Bajawa dan Ruteng, mari kita turun ke pesisir pantai. Setelah 4 jam perjalanan dari Ruteng, kita sampai di ibukota dari Kabupaten Manggarai Barat yaitu Labuan Bajo, kota yang berisi sebuah kecamatan dan bandar udara bernama Komodo, ya benar, nama Komodo disematkan karena memang Labuan Bajo adalah akses utama menuju Pulau Komodo dan Pulau Rintja, dua pulau yang merupakan habitat asli hewan endemik Komodo, binatang purba ini merupakan salah satu kebanggaan Indonesia yang telah dinobatkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Selain Pulau Komodo dan Pulau Rintja, juga ada banyak pulau-pulau kecil dengan pantai pasir putih yang sangat menawan dan juga air laut yang jernih dan dangkal yang memungkinkan kita untuk snorkeling dan melihat ikan-ikan kecil di tepian pantai. Termasuk Pink Beach (Pantai Merah Muda) yang memiliki pasir berwarna merah muda. Selain itu, Labuan Bajo sendiri memiliki pantai dangan pemandangan dan suasana sunset yang sangat menakjubkan. Sungguh sebuah pengalaman travelling yang tidak ingin anda lewatkan.

Sunset di Dermaga Putih Labuan Bajo  © Boy Torkis Simarmata
Sunset di Dermaga Putih Labuan Bajo © Boy Torkis Simarmata
Pink Beach (Pantai Merah Muda)  © Boy Torkis Simarmata
Pink Beach (Pantai Merah Muda) © Boy Torkis Simarmata

Pada tahun 2016, Provinsi Nusa Tenggara Timur ditetapkan sebagai Juara Pertama Anugerah Pesona Indonesia yang diselenggarahkan oleh Kementrian Pariwisata dan Pulau Flores dengan segala kekayaan alam dan budayanya memberikan sumbangsih positif terhadap pencapaian ini. Sebagai pendatang yang terlahir di Pulau Samosir, Pulau di tengah Danau Toba di Sumatera Utara yang letaknya sangat jauh dari Pulau Pulau Flores, saya bersyukur dan merasa sangat beruntung pernah tinggal di Pulau Flores nan indah. Memang Flores masih membutuhkan pengembangan, pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat seperti halnya daerah-daerah berkembang lainnya. Namun kekayaan alam pemberian Tuhan yang ada di tanah Flores adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang patut kita syukuri dan banggakan.  

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

 

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga82%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi2%
Pilih TerpukauTerpukau11%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BOY TORKIS SIMARMATA

Boy Torkis adalah seorang banker yang mencintai fotografi alam (nature photography) entah itu landscape, macro maupun wildlife, kegemarannya terhadap travelling juga diawali dari kecintaannya terhadap ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas