Aktivitas tektonik seolah tak lepas dari Indonesia. Memiliki wilayah jalur yang dilalui cincin api yaitu gugusan gunung berapi di kawasan Pasifik, yang artinya jalur yang dilaluinya ini menjadi rawan gempa dan letusan vulkanik. Tahukah kawan GNFI di balik ancaman gempa ini, Indonesia memiliki teknologi warisan nenek moyang yang sangat bernilai?

Inilah rumah tahan gempa, bangunan yang ternyata sudah ada di Indonesia sejak zaman dahulu. Rumah tahan gempa ini dapat dijumpai pada konstruksi bangunan-bangunan adat yang umumnya berbentuk rumah panggung yang mampu menahan guncangan gempa bumi.

Bangunan sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni bangunan tradisioal meliputi balai adat, tempat ibadah, dan rumah vernakular. Rumah vernakular merupakan bangunan khas dan unik yang diturunkan dari tradisi kuno, memiliki kemampuan bertahan terhadap lingkungan fisik seperti iklim, gempa dan angin.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Gempa Fakultas Teknik UKI Pinondang Simanjuntak, struktur rancangan pada rumah adat seharusnya berbentuk simetris dan memiliki tingkat kekakuan yang cukup sehingga sambungannya tidak longgar, seperti dilansir dalam kompas.com.

Penggunaan bahan material yang ringan seperti kayu dan bambu memungkinkan bangunan adat tidak mudah roboh karena memiliki kelenteran terhadap gempa. Selain itu struktur bangunan yang dikaitkan satu sama lain menggunakan pasak bisa lebih dinamis dan kokoh sehingga tahan terhadap guncangan gempa.

Masing-masing daerah di Indonesia memiliki satu atau lebih tipe rumah vernakular yang dibangun berdasarkan tradisi daerah tertentu yang menunjukkan keanekaragaman dan kearifan lokalnya. Bahkan kearifan lokal itu juga diadopsi oleh sejumlah negara seperti Jepang yang hampir semua rumah di sana menggunakan bahan dasar yang ringan.

Di Indonesia sendiri ada beberapa bentuk bangunan adat tradisional yang dapat diandalkan untuk menahan guncangan gempa bumi, ini dia diantaranya

Rumah Gadang

Pasti sudah banyak yang mengenal bangunan adat yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat ini. Yang paling dikenal, rumah Gadang memiliki konstruksi atap berbahan ijuk yang melengkung ke dalam. Pada 2009 lalu saat terjadi gempa, rumah Gadang ini banyak yang tetap kokoh bertahan kala itu.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©lihat.co.id

Rumah Tua Bali Utara

Rumah-rumah yang berada di kawasan Bali Utara ini dianggap tahan akan gempa, karena memiliki konstruksi yang memanfaatkan saka atau tiang kayu dan lambang serta sineb sebagai balok. Hal ini bertujuan untuk melindungi penghuninya dari reruntuhan bangunan akibat gempa.

Arsitektur lokal sejak peradaban Bali Kuno sudah melakukan ujicoba yang panjang untuk membangun rumah tahan gempa yang dapat diwariskan ke generasi selanjutnya. Bangunan adat di Bali Utara ini menkadi salah satu temuan penting dalam kesejarahan gempa di Indonesia.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©ideaonline.co.id

Rumah Woloan

Bangunan adat dari Tomohon, Sulawesi Utara ini sudah sejak dulu dikenal sebagai rumah yang tahan guncangan gempa. Namanya kian dikenal hingga mancanegara, bahkan rumah yang dibuat dari kayu cempaka dan besi ini pernah diimpor oleh negara Argentina dan Venezuela lho.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©kekunaan

Rumah Omo Hada

Kehebatan konstruksi bangunan adat Nias ini terlihat pada 2010 silam, saat itu Nias dilanda gempa berskala cukup besar. Bangunan adat ini masih kokoh berdiri dan posisinya hanya sedikit bergeser.

Konstruksi rumah Omo Hada menggunakan pasak dari kayu untuk menyatukan antarbagian, tidak memiliki jendela namun diganti dengan semacam model teralis untuk ventilasi dan memiliki atap yang oval.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©sisteminformasipulaunias

Uniknya bangunan adat ini memiliki tiang-tiang penyangga yang tidak beraturan arahnya. Ada yang ke atas, ke samping maupun ke bawah. Konon hal itulah yang menjadikan bangunan ini tahan gempa. Rumah adat Omo Hada ini banyak dijumpai di desa Tumori dan desa Bawomataulo.

Rumah Laheik

Hampir sama dengan rumah Omo Hada, bangunan adat yang berasal dari Kerinci, Riau ini juga tersusun dari kayu yang saling disatukan dengan menggunakan pasak kayu dan ikatan tambang yang terbuat dari ijuk. Rumah Laheik biasanya ditinggali oleh beberapa keluarga.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
©hafifulhadi

Keanekaragaman bangunan adat di Nusantara mencerminkan kearifan lokal bangsa Indonesia merupakan warisan budaya leluhur yang harus terus kita jaga dan lestarikan. Bangga dengan Indonesia.

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu