Lupa Sandi?

Mengenal Sosok Petruk dalam Pewayangan Jawa : Si Jenaka Pembawa Petuah

Irfantoni Listiyawan
Irfantoni Listiyawan
0 Komentar
Mengenal Sosok Petruk dalam Pewayangan Jawa : Si Jenaka Pembawa Petuah

Ben Anderson dalam bukunya ‘Mitologi dan Toleransi Orang Jawa’ menyebutkan bahwa masyarakat Jawa memiliki nilai-nilai adhiluhung dalam memaknai hidup. Nilai tersebut tercermin dalam dunia pewayangan yang menjadi pedoman hidup bagi orang Jawa. Salah satu tokoh pewayangan yang dikenal luas adalah Petruk, tokoh Punakawan. Menurut legenda, Petruk dan Punakawan digubah oleh para Wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa atau disebut Wali Sanga. Dan merupakan asimilasi budaya Hindu dengan budaya Islam.

Berdasarkan pandangan tersebut, Petruk berasal dari kata Fatruk berasal dari makna tasawuf ‘Fat-rukkulla maa siwallahi’. Yang artinya, tinggalkan semuanya kecuali Allah (Tuhan). Karena lidah orang Jawa susah mengucapkannya, maka muncullah kata Petruk. Namun tidak mengurangi makna filosofis keberadaan sang tokoh. Kemunculan sosok Petruk pun tersohor di berbagai kalangan masyarakat Jawa, mulai dari para pejabat hingga orang biasa (kawula). Karena kemunculannya yang ditunggu sebagai pembawa petuah dan syiar agama bagi masyarakat kala itu.

Petruk dan Wayang Jawa

Petruk merupakan salah satu tokoh fiksi dalam dunia pewayangan Jawa. Bersama tokoh lainnya, Gareng, Bagong dan Semar, Petruk disebut dengan Punakawan. Punakawan sendiri berasal dari kata Puna yang berarti ‘paham’ dan Kawan yang berarti teman. Dalam dunia perwayangan, Punakawan diidentikkan dengan sosok abdi atau suruhan dari seorang raja. Punakawan tidak hanya sekedar menjadi abdi atau suruhan raja semata, namun juga menjadi kelompok penebar humor, mencairkan suasana hingga memahami apa yang sedang menimpa majikan atau raja mereka. Bahkan punkawan juga dapat menjadi penasehat raja dan ksatria saat lupa diri.

Baca Juga

Layaknya dua kutub dalam kehidupan yakni baik dan buruk, punkawan pun demikian. Ada punkawan kanan yang disebut Prepat (Gareng, Petruk, Bagong, dan Semar) berugas membimbing raja mereka kearah yang baik. Punakawan kiri atau Kiwa adalah Punakawan berawatak angkara murka yang menebar kebencian seperti Togog dan Bilung. Kedua kelompok Punakawan membuat strategi mereka dalam mempengaruhi seorang raja atau majikan mereka.

Hal yang lumrah dalam dunia nyata, selalu ada kelompok ‘pembisik’. Akan selalu ada orang yang berwatak licik guna kepentingan sendiri dan kelompoknya. Namun, disisi lain ada pula kelompok dengan perawakan jenaka, kurang memiliki prejengan  atau tampang menjadi pemimpin menjadi penasihat dengan membawa hal baik bagi kepentingan bersama, kepentingan rakyat atau istilah Jawanya yang dipakai dalam dunia pewayangan adalah sikap ‘Memayu Hayuning Bawono’.

Petruk dan Punakawan (Sumber : picssr.com)
Petruk dan Punakawan (Sumber : picssr.com)

Dibalik atribusinya sebagai tokoh jenaka dalam dunia pewayangan, Petruk bersama tokoh Punkawan Prepat lain (Gareng, Semar, dan Bagong) dikenal pula sebagai tokoh yang tak dapat disangka-sangka pemikirannya. Orang menganggap Petruk sebagai seorang abdi yang bodoh dan tak tahu apa-apa. Petruk seringkali memberikan petuah bijak, terutama dalam hal kepemimpinan politik saat negeri kahyangan mengalami gara-gara (kekacauan).

Petruk memang tokoh fiksi, namun Petruk sebagai refleksi dalam ranah kebudayaan tergolong dalam Cultural Morphology sebagaimana dikemukakan Johan Huizinga yang dikutip oleh Kuntowijoyo. Cultural Morphology, adalah suatu usaha melukiskan pola kehidupan, kesenian, dan pikiran secara keseluruhan. Dan  Petruk adalah sebuah gambaran tersebut.

Petuah Ki Petruk Bagi Para Pemimpin

Petruk lahir dari negeri antahberantah dunia pewayangan, bahkan dalam lakon wayang sendiri kelahirannya tidak dijelaskan secara detail. Petruk menuliskannya lewat lelakon fiksi melalui dunia pewayangan. Banyak petuah yang ia berikan mulai dari bertingkah polah seorang pemimpin terhadap rakyatnya hingga urusan remeh-temeh pun Petruk memahaminya.

Baginya, ‘Kawula Iku Tanpa Wates, Ratu Kuwi Anane Mung Winates’ (Rakyat itu tanpa batas, sedangkan raja itu ada secara terbatas). Disini Petruk pun melihat bagaimana hubungan antara rakyat dan penguasa saling mempengaruhi, pemimpin tidak akan tercipta tanpa adanya rakyat. Petruk juga mengingatkan adanya pembatasan kekuasaan agar layaknya konstitusi dalam negara demokrasi. Raja juga harus mendapatkan pengakuan dari rakyatnya (kawula) dan sebisa mungkin menciptakan susana harmonis guna menciptakan ‘Sabaya Mati Sabaya Mukti’ yakni sinergi antara rakyat dan pemimpin.

Hal tersebut perlu dilakukan agar raja atau pemimpin tidak ‘Koncatan Wahyu’ atau ditinggalkan rakyatnya, istilah politisnya adalah kehilangan legitimasi. Hal ini cukup beralasan, karena legitimasi merupakan faktor yang penting dalam menjalankan sebuah kekuasaan. Tanpa adanya legitimasi maka jalannya pemerintahan tersebut dapat kita katakan tidak sah karena tidak didukung oleh masyarakat mayoritas.

Dalam lakon ‘Petruk Dadi Ratu’ terdapat scene dimana Petruk kehilangan Pethel (Kapak Kecil), alat yang digunakannya untuk memotong kayu sebagai wong cilik. Pethel tersebut merupakan citra dan identitas diri Petruk. Hilangnya pethel  Petruk membuat dirinya menjadi seolah kehilangan sesuatu yang amat penting baginya, ia tidak bisa bebruat banyak tanpanya.

Sebenarnya, scene tersebut merupakan sebuah kritik bagi sebuah entitas bangsa yang sedang mengalami kehilangan citra dan identitas diri. Bangsa yang kehilangan citra diri dan identitasnya akan kesulitan menghadapi segala bentuk tantangan kebangsaan kedepan. Oleh karena itu penting kiranya untuk selalu menjaga citra dan identitas diri menjadi sebuah bangsa yang ‘Memayu Hayuning Bawono’, terutama bagi negeri kita yang bergerak menuju arah yang lebih baik.

Untuk menjadi seorang pemimpin terutama pemimpin politik, Petruk mencontohkannya dengan daun kates (pepaya). Kenapa daun pepaya? bagi sebagian orang daun pepaya memang pahit, namun daun kates berfungsi sebagai obat penyembuh penyakit. Begitupula  kehidupan dan politik, walaupun kadang hidup itu pahit tak jarang pula terkadang menghasilkan sebuah kemajuan dan obat bagi bangsa yang sedang sakit jika dijalankan secara benar dan sinergi antara rakyat dan pemimpin yang bagi Petruk disebut ‘Manunggal Kawula Gusti’.

Untuk itu, bagi seorang pemimpin dan seorang manusia diperlukan lima “M” sikap ala Petruk sebagai berikut :

  1. Manembah,  selalu ingat kepada Sang Pencipta dalam setiap tindakannya
  2. Marambah,  mampu berada di depan memberi kebaikan.
  3. Murakabi,  bermanfaat bagi orang banyak.
  4. Mapan,  memiliki ketahanan fisik dan mental yang tangguh.
  5. Mituhu,  memiliki loyalitas  tinggi pada konstitusi  dan  norma yang berlaku di masyarakat.

Petruk Sang Pembawa Kabar Baik

Dari refleksi diatas, setidaknya kita dapat belajar bagaimana menjalani kehidupan dan menjadi seorang pemimpin ala ajaran Ki Petruk atau Prabu Belgeduwelbeh di negeri Karang Kedhempel, negeri fiksi pewayangan Jawa. Intinya, paling tidak ada dua makna besar sebagaimana digambarkan dalam petuah Petruk. Yakni bagaimana kita hidup untuk saling bersinergi antar sesama. Kedua adalah bagaimana kita untuk menciptakan suatu tatanan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan.

Petruk adalah tokoh penebar rasa perdamaian bagi sesama. Dalam petuahnya, dia juga pernah menyebutkan bahwa ‘Urip Iku Ojo Duwe Mungsuh’ yakni dalam hidup hendaknya kita janganlah mencari musuh dan selalu menjaga kerukunan terhadap sesama.  Semoga ulasan kecil ini dapat menambah khazanah pengetahuan kita untuk manusia dalam memimpin secara bijak untuk membangun bangsa serta dapat menyebarkan kabar baik bagi sesama.)*


Sumber Rujukan :

  • Endraswara, Suwardi. 2014. Petruk Dadi Ratu : Polah-Tingkah Penguasa yang Tidak Mampu. Yogyakarta : Narasi.
  • Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah (Edisi Kedua). Yogyakarta : Tiara Wacana

*Tulisan penulis dengan tema hampir serupa juga dipublikasikan dalam Kalatida.com dengan judul ‘Petuah Politik Petruk’. Di laman ini tulisan yang ada terdapat perubahan dan penyesuaian dengan tema yang ada. 

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi56%
Pilih TerpukauTerpukau13%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG IRFANTONI LISTIYAWAN

Content Writer, Pegiat Sepeda Tua Komunitas Sepeda Lawas (KOMPAS) Jember - Jawa Timur, Penikmat Kajian Budaya & Sejarah ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata