Lupa Sandi?
Java Jazz Single

BUMDesa, Gerakan Ekonomi Indonesia yang Revolusioner

Gusti Norsatyo Malik
Gusti Norsatyo Malik
0 Komentar
BUMDesa, Gerakan Ekonomi Indonesia yang Revolusioner
Contoh Unit Usaha © Rian Farisa gastronomy-aficionado.com

"Tanpa teori yang revolusioner, tidak akan ada gerakan yang revousioner."

- V. I. Lenin

Teori yang revolusioner akan menghasilkan gerakan yang revolusioner pula. Kira - kira seperti itulah negasi dari perkataan pemimpin kaum Bolshevik terkemuka, V. I. Lenin. Sekilas kalimat di atas terlihat sangat akademik dan sangat serius, tetapi kalimat ini sebenarnya mempunyai makna yang dalam yang bisa diterapkan di berbagai aspek kehidupan. Kalimat Lenin di atas pula sangat menggambarkan salah satu gerakan ekonomi Indonesia yang revolusioner pada saat ini dan salah satu alasan mengapa Indonesiaku keren, gerakan itu adalah BUMDesa.

Pernah mendengar akronim BUMN? BUMD? tetapi bagaimana dengan BUMDesa? Mungkin untuk orang yang melihat sekilas tentang BUMDesa akan berkata, "Ah, paling BUMDesa sama aja dengan BUMD, gitu - gitu aja". Inilah poin yang harus diluruskan, walaupun secara konsep ada beberapa irisan antara ketiga badan tersebut, tetapi BUMDesa lebih revolusioner di antara lainnya.

Baca Juga
Musyawarah masyarakat
Ilustrasi Musyawarah masyarakat

BUMDesa dalam perspektif regulasi

BUMDesa adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian modal dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar - besarnya untuk kesejahteraan masyarakat Desa. BUMDesa seperti wadah yang besar, menaungi berbagai unit usaha yang muncul di Desa sesuai kemampuan dan potensi desa tersebut. Berdasarkan data dari Kementrian Dalam Negeri, Indonesia mempunyai 74.910 Desa atau wilayah dengan tingkat administrasi desa. 74.910 Desa, setiap desa diharapkan mempunyai BUMDesa yang sesuai karakteristik Desa masing - masing.

BUMDesa sangat menggambarkan ciri khas dari Indonesia, bagaimana tidak? dalam UU No. 6 Tahun 2014 dijelaskan bahwa, BUMDesa didirikan melalui Musyawarah yang dinamakan Musyawarah Desa. Ya, BUMDesa didirikan dengan sangat adil dan bijaksana, dengan musyawarah diharapkan BUMDesa bisa mendatangkan kebaikan yang besar bagi masyarakat. BUMDes ditetapkan dengan Peraturan Desa. Selain nilai musyawarah, nilai gotong royong pun diterapkan dalam pendirian BUMDesa. Desa bisa bekerja sama dengan desa lain dalam membentuk BUMDesa agar bisa bersaing di pasar ekonomi.

BUMDesa yang revolusioner!

BUMDesa bukanlah hal yang biasa dari pemerintah, BUMDesa adalah gebrakan revolusioner. Penulis merumuskan ada empat alasan mengapa BUMDesa adalah gerakan yang revolusioner dalam bidang ekonomi.

Pertama, keuntungan sebesar - besarnya untuk kesejahteraan masyarakat Desa. BUMDesa mempunyai tujuan memberikan keuntungan sebesar - besarnya untuk kesejahteraan masyarakat Desa, apabila dicacah kalimat diatas, BUMDesa bukan bertujuan untuk memberikan 'semua' keuntungan tetapi 'sebesar - besarnya' berarti Desa bisa menggunakan keuntungan tersebut kepada hal lain seperti pengembangan usaha, dan lain - lain. Apabila setiap BUMDesa disusun sesuai karakteristik Desa tersebut, maka hasilnya BUMDesa akan beragam dan Indonesia akan berwarna.

Kedua, semangat kekeluargaan dan kegotong - royongan. BUMDesa dalam pendirian sampai ke pengelolaan banyak menyisipkan nilai kekeluargaan dan kegotong - royongan. Mulai dari kegiatan bermusyawarah sebelum mendirikan BUMDesa atau sebelum mengambil keputusan sampai dengan bekerja sama dengan Desa yang lain untuk meningkatkan daya saing, BUMDesa menjadi wadah untuk menumbuhkan nilai bangsa yang sudah mulai pudar.

Ketiga, meningkatkan ekonomi dan kekreatifitas masyarakat Desa. Desa selalu dianggap sebagai daerah yang mempunyai ekonomi rendah oleh imajinasi pemerintah dan perusahaan, dan oleh masyarakat urban masyarakat desa diberikan stigma sebagai 'masyarakat udik'. BUMDesa bisa menjadi wadah untuk menghapus cap diatas, dengan produk dan unit usaha yang ditawarkan desa diharapkan bisa meningkatkan ekonomi Desa tersebut. Nilai Kreatifitas muncul disaat berhubungan dengan marketing dan produk didalam unit usaha yang diwadahi oleh BUMDesa, karena bersaing dengan banyak BUMDesa lainnya dan perusahaan, masyarakat Desa didesak untuk kreatif dalam menjajakan keunggulan desa mereka untuk bisa meraih kesuksesan.

Keempat, jalan alternatif dari ekonomi gaya kaum kapitalis. Menurut Hendra dalam bukunya "Mitos Tambang untuk Kesejahteraan: Pertarungan Wacana Kesejahteraan dalam Kebijakan Pertambangan" bahwa sebenarnya yang terjadi saat ini adalah perang imajinasi, imaji terhadap kata 'kesejahteraan' hal ini terjadi sampai pada level desa. Kaum kapitalis mempunyai gambaran bahwa 'sejahtera' itu mempunyai pabrik, bekerja di pabrik, banyak dagangan, infrastruktur semua dibuat, sejalan dengan teori developmentalism. Tetapi ada perbedaan, kaum wong cilik yang tertindas (Marhaen) menganggap bahwa 'kesejahteraan' lebih seperti hidup secukupnya, harta secukupnya, dan hidup harmoni dengan alam. Kedua hal ini sangat bertentangan satu sama lain, disinilah muncul BUMDesa sebagai penengah.

BUMDesa menjadi penengah karena disatu sisi menjadi penggerak ekonomi Desa, dan sisi lainnya tetap menjaga kehidupan pedesaan sesuai karakteristik desa tersebut. Unit - unit usaha yang dibawahi oleh BUMDesa akan meningkatkan tingkat ekonomi Desa tersebut sampai diharapkan ketingkat yang memuaskan. BUMDesa juga tidak akan lepas dari karakteristik Desa tersebut, karena BUMDesa bertumpu pada musyawarah, yang musyawarah itu didatangi oleh masyarakat desa, maka arah dari BUMDesa ini tidak akan melenceng dari kemauan masyarakat, maka BUMDesa tidak akan melenceng dari imaji masyarakat tentang kata 'sejahtera'.

Kesimpulan

BUMDesa adalah gerakan / kebijakan ekonomi Indonesia yang revolusioner. BUMDesa bergerak pada tingkat terbawah dan tingkat dengan jumlah yang sangat banyak yaitu Desa. BUMDesa sangat berorientasi terhadap kesejahteraan masyarakat Desa, dan perekonomian Indonesia. Apabila setiap Desa mempunyai spirit yang tinggi dalam menjalankan BUMDesa, dan masyarakat Indonesia memandang BUMDesa dengan serius, maka percayalah Indonesia mempunyai harapan untuk Berdikari dalam sisi ekonomi!

"Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta,

Indonesia baru akan bercahaya karena lilin - lilin kecil di desa"

- Mohammad Hatta.

MERDEKA!


Sumber :

Mitos Tambang untuk Kesejahteraan: Pertarungan Wacana Kesejahteraan dalam Kebijakan Pertambangan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2015 Tentang Kode dan Data
Wilayah Administrasi Pemerintahan

Undang - Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga86%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau7%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG GUSTI NORSATYO MALIK

Pegiat sastra dan filsafat. Tertarik dengan yang indah, suka memikirkan etika. Doyan ngutip dan membaca buku yang bisa dikutip. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie