Lupa Sandi?

Bahurup! Bertukar Hasil Usaha Senilai Rupiah

Pius Apri Hantoro
Pius Apri Hantoro
0 Komentar
Bahurup! Bertukar Hasil Usaha Senilai Rupiah

Bahurup merupakan kosakata asli suku Banjar yang bermakna menukar barang yang berbeda namun memiliki nilai yang setara.

Pada aktivitas pasar terapung di Lokbaintan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan terdapat sebuah keunikan yakni penggunaan sistem barter atau bertukar barang. Ya, bukan dibeli dengan uang, tapi di antara para pihak yang terlibat dalam aktivitas pasar terapung ini telah memiliki sejumlah barang hasil bumi yang telah siap mereka tukarkan dengan barang lainnya yang menurut kesepakatan bersama memiliki nilai yang setara. Contohnya satu buah pepaya ditukar dengan 5 buah jeruk.

Pada kesempatan lainnya seperti pada hari libur dan acara festival, pasar yang telah menjadi tujuan pariwisata domestik maupun mancanegara ini pun melayani mekanisme pembelian dengan uang oleh para pembeli yang merupakan wisatawan. Namun, pada kesehariannya aktivitas pasar ini lebih condong kepada mekanisme barter. Barang yang bernilai Rupiah pun rela mereka pertukarkan dengan barang lainnya yang dalam kesepakatannya memiliki nilai yang sama. Dengan demikian, tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Mekanisme barter atau bahurup ini tetap mereka pertahankan karena telah menjadi tradisi yang mengakar kuat dan terpenuhinya kebutuhan hidup serta demi terjaganya keharmonisan kehidupan sosial di antara pihak yang terlibat dalam aktivitas pasar terapung ini.

"Artikel ini diikutkan dalam kompetisi menulis kabar baik GNFI #2"

Sumber : Dokumentasi dan keterangan pihak yang terlibat dalam aktivitas pasar terapung.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG PIUS APRI HANTORO

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara