Lupa Sandi?
Java Jazz Single

GPS Sialan, Eksotisme Pangandaran dan Hakikat Keramahan Orang Kita

Muhamad Wildan
Muhamad Wildan
0 Komentar
GPS Sialan, Eksotisme Pangandaran dan Hakikat Keramahan Orang Kita
Keterangan Gambar Utama © Pemilik Gambar

Saat itu 2013. tanggal dan bulan pastinya saya tidak begitu hafal, yang jelas itu adalah momen libur lebaran. Saya dan delapan anggota keluarga lain bermaksud plesir ke salah satu surga dunia di selatan Jawa Barat. Pangandaran. Betul, Kabupaten paling anyar di Provinsi yang beribukotakan Bandung ini sudah tidak diragukan lagi keeksotisanya. Masyarakat dari segala penjuru Jabar sebagian Jateng dan pastinya ibukota sudah menjadi langganan wisatawan tetap Kabupaten tempat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti itu dilahirkan.

Sayangnya kabar buruk dari perjalanan kami kala itu adalah tidak satupun dari kesembilan manusia yang ikut dalam perjalanan tahu jalan menuju Pangandaran. Alhasil karena keinginan berlibur yang sudah teramat ngebet membuat kami mempercayai kepada aplikasi Global Positioning System (GPS) yang sudah otomatis tertancap di ponsel kami masing-masing. Tanpa menyadari bahwa sebetulnya GPS lebih banyak ngawur ketimbang benarnya.

Perjalanan dimulai dari Cirebon pukul 09.30. Saat itu hari Jum’at dan membuat tiga orang laki-laki dimobil tersebut harus menunaikan ibadah shalat Jum’at. Sampai di Masjid tempat kami sembahyang, GPS masih oke. Saat itu kami sudah sampai Ciamis. Menurut tukang tahu yang berjualan didepan masjid. Untuk sampai Pangandaran dibutuhkan waktu sekitar dua jam lagi. Akan tetapi yang terjadi setelah itu adalah ke-ngawur-an GPS yang menjadi satu-satunya panduan perjalanan kami. Ketika itu GPS menganjurkan kami untuk masuk keluar pelosok desa. Melewati jalan-jalan sempit. Jalanan Amburadul sampai pinggiran sawah. Tanpa bertemu jalur utama lintas selatan jawa sama sekali.

Baru ketika pukul 17 lebih, Pantai Pangandaran yang melegenda itu benar-benar kami pijaki. perjalanan melelahkan gara-gara GPS sialan terbayar sudah dengan panorama cantik sunset yang menggambarkan matahari terbenam di laut yang berujung pada samudra hindia tersebut. Niatan kami yang cuma ingin melakoni perjalanan pulang-pergi tak mungkin dilakukan. Mau tak mau kami mesti menginap. Tapi dimana? ini kan libur lebaran, mana ada penginapan yang kosong?

Baca Juga

Singkat cerita kami mendapat penginapan. Ya, walaupun seadanya yang penting, hak tubuh kami untuk beristirahat telah kami tunaikan. Pagipun menjelang. Awalnya kami bergegas untuk pulang, tapi seorang penjaga penginapan berujar jika pangandaran punya surga tersembunyi yang sayang jika dilewatkan. Apa itu? “grin kanyon kang” kata dia dengan logat sundanya yang kental. salah satu dari kami bergegas browsing mencoba mencari tahu seberapa indah green canyon seperti yang si akang bilang tadi. Setelah mencari referensi disitus-situs yang disuguhkan Google. Kami bersepakat untuk bertualang di green canyon. yaiyalah kapan lagi ke Pangandaran. sudah jauh-jauh kesini, kesasar terus tidak dipuaskan dengan pemandangan-pemandangan ciamiknya gitu? walaupun setelah itu kami lupa jika kami tidak bawa baju gantikami

Mobil dipacu kencang. kami sempat melewati pantai batu hiu. pantai yang namanya diabadikan doel sumbang disalah satu lagunya. Tapi, bukan itu tujuan kami. Green Canyon. ya cukup itu. Sampai d tempat kami sudah disuguhkan dengan sungai dan tebing-tebing tinggi yang memukau. warna hijau menjadi dominan disana. cantik sekali. kami sudah kagum padahal belum masuk ke bagian inti green canyon. Untuk mencapai titik yang betul-betul disebut green canyon kita mesti menaiki perahu bermotor. ya kira-kira 15 menit waktu perjalanan.  Dan benar saja, keindahan luar biasa yang diertunujan alam kepada kami. tebing tebing batu yang menjulang, berhias lumut-lumut hijau dengan suara merdunya deburan air terjun. Keren banget!

Pihak pengelola menyiapkan pelampung untuk kami semua bermain air. Membiarkan kami dan tentunya belasan pengunjung lain berpuas-puas diri dengan alam yang memukau itu. ada yang berenang. ada yang loncat dari atas tebing batu. Ada juga yang sengaja mengambangkan diri diatas air yang mengalir. membiarkan dirinya hanyut untuk kemudian menemui gemercik air yang turun dari sela-sela batu. Ah nikmat tuhan yang mana yang kami dustakan?

Pengantar kami meniup peluit. pertanda waktu bermain kami sudah habis. Dan mesti bergantian dengan para pengunjung lain.  ya, matahari juga sudah lengser kami mesti bergegas pulang. Kami berganti baju dengan pakaian yang mendadak kami beli di dpan lokasi wisata. Kami sudah siap untuk pulang sekarang. Tapi, seperti waktu berangkat. Kami benar-benar buta jalan. GPS berdamailah. Berikan kami jalan yang benar. Harap kami waktu itu

Tapi harapan tinggal harapan. Kami justru tersesat. GPS membawa kami kedalam sebuah bukit. Alih-alih memberi jalan pintas, kami malah ditunjukan jalanan yang rusak parah dan berliku. Kalau tidak salah nama daerahnya ‘Langkap Lancar;. ya, kadang nama bisa tidak sesuai dengan keadaan. kami sama sekali tidak menemui kelancaran disana. Bahkan beberapa kali kami mesti turun dari mobil supaya mobil dapat berjalan menanjak dengan baik.

Kami sudah berjalanan tiga jam. dan masih terjebak di daerah asing. Petunjuk GPS ternyata lebih parah dari ketika kami berangkat. Jalanan berbatuan, kiri sawah dan kanan tebing yang sepertinya rawan longsor. rumah pendudukpun jarang kami temui. Hingga akhirnya kami berjumpa dengan pemukiman. disana ada mushola dan kami putuskan untuk rehat sembari melangsungkan shalat Ashar. Ketika selesai mengadu pada yang maha kuasa. Keberuntungan menghampiri kami. Seseorang yang saat itu ikut shalat berjamaah dimushola tadi, sepertinya menangkap sinyal kesusahan yang tampak di raut wajah kami. Ternyata iya paham kalau kami tengah tersesat. dia yang belakangan diketahuia berprofesi sebagai tukang ojek itupun bermurah hati untuk mengantarkan kami ke muka jalan utama. Alhamdulillah

Dari mushola sampai muka jalan utama. kami menghabiskan waktu sekamir satu setengah jam! waktu tersebut ditempuh bersama pemandu, bayangkan jika tidak ada pemandu? Bisa sampai shalat subuh kami disana. Belum lagi sepanjang jalan yang kami temui adalah kondisi jalan yang kurang baik ketika itu. Ditambah jalanan yang sempit. Jadi, ketika dari aeah berlawanan ada mobil lain, maka salah satu mobil harus mengalah untuk menepi.

Ketika sampai dimuka jalan.Kami bersepakat untuk memberi uang pada si bapak yang menghantarkan kami. Tapi dia menolak. Setelah perjalanan satu jam setengah dengan sulitnya kondisi jalan dia justru tak mau terima pemberian dari kami. Alasanya penolakanya sangat mengejutkan

“insya allah Idul Adha nanti saya berangkat haji. doakan saya saja supaya  disana tidak tersesat dan dimudahkan” sontak mendengar pernyataan dia barusan. bulu kuduk kami merinding. Seorang yang tinggal dipelosok, berprofesi sebagai pengemudi ojek memiliki hati semulia itu dan hendak menunaikan rukun islam yang ke lima.

Sungguh tutur bahasa yang lembut dan penuh senyum sejak pertemuan denganya di awal jumpa tadi membuat kita paham betul, dia orang yang baik lagipula ramah. Seperti hakikat orang-orang Indonesia lain yang memang sudah masyur akan keramahanya. Bahkan negeri ini dilabeli sebagai negeri paling murah senyum didunia. Salah satu wartawan Jermanketika berkunjung ke Indonesia bahkan pernah menulis jika manusia-manusia Indonesia adalah manusia yang mudah bergaul. Keramahan dan kesupelanya menjadi senjata. Bahkan ketika bertemu orang yang baru diriya temui. Keramahan itu telah mendarah daging. Menjadi warisan dari generasi kegenerasi hingga menjadi ciri khas negeri kita

Akhirnya kami dapat menemui jalanan yang lancar. Mulus dan ramai. Kami meluncur dengan kecepatan yang cukup kencang. mengingat ketika itu hari sudah larut hingga akhirnya kami tiba di Cirebon pukul 23.00. Itu artinya perjalanan Pangandaran-Cirebon kami tempuh sekitar 10 jam. Melelahkan? sudah pasti. Menyenangkan? Sudah jelas. seribu kali ke Pangandaran seribukali juga akan jatuh cinta. Dan yang jelas setelah perjalanan itu kami belajar tentang keramahan yang harus di tanamkan sebagai jati diri.


Sumber : Pengalaman Pribadi

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MUHAMAD WILDAN

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata