Lupa Sandi?

Menyambangi Rumah Hobbit di Indonesia

prilli suatan
prilli suatan
0 Komentar
Menyambangi Rumah Hobbit di Indonesia

Tidak ada rencana untuk berwisata dalam daftar pekerjaan hari ini, tapi karena semua selesai dengan baik dan cepat maka memanjakan diri sejenak adalah pilihan tepat. Memanjakan diri kali ini adalah dengan mengunjungi kawan lama, si mungil yang asli Flores. Untuk ‘bertamu’ butuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan mobil dari pusat Kota Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tanggara Timur. Udara dingin mengigit, awan kelabu menggantung dan jalan yang rusak menemani perjalanan kami. Sebuah gapura selamat datang adalah tanda bahwa kami telah memasuki kawasan Liang Bua, rumah ‘Flo’ si hobbit. Tidak sulit menemukan pintu gua, mulut guanya yang lebar berada di pinggir jalan. Sebagian ruangan gua dapat terlihat dari luar karena banyaknya sinar matahari yang masuk.

Liang Bua adalah gua yang sangat terkenal, harta karun di dalamnya menjawab berbagai pertanyaan, identitas dan sejarah masyarakat Flores. Penemuan Homo Floresiensis didalam gua ini pada tahun 2003 menjadi perbincangan di dunia arkeologi. Hingga tahun 2015, rumah ‘Flo’ masih menjadi laboratorium para arkeolog. Pintu masuk gua-nya dipasangi pagar kawat memanjang untuk menghalangi sembarang orang masuk. Pengunjung pun harus didampingi pemegang kunci pintu untuk dapat masuk dan mengisi buku tamu dikantor. Sebidang tanah di dekat pintu masuk dipasangi pagar bambu mengelilingi tanah yang telah digali sedalam 5 meter itu, menandakan belum tuntasnya pekerjaan para peneliti. Sedangkan kehidupan gua-nya sendiri hampir tak ada. Hanya ada satu stalagtit yang masih meneteskan air, berusaha tumbuh. Kelelawar? Serangga gua? Entah bertrasmigrasi kemana mereka.

Mengunjungi gua bersejarah selalu membawa saya kedalam perenungan. Pikiran melayang mencoba memunculkan ilustrasi kisah masa lampau, menempatkan diri seolah saya adalah mereka yang hidup di dalam gua ini dimasa lampau. Menjadi bagian dari ‘Flo’ dan keluarganya yang tumbuh dan merawat gua ini, menjaganya untuk tetap tumbuh. Sedangkan mereka manusia masa itu, pada akhirnya harus kalah oleh waktu. Mereka meninggalkan gua ini dalam sunyi misteri, terkubur bersama kegelapan berselimut debu. Menjadi teka-teki bagi kami sekarang, generasi masa kini.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetensi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Baca Juga
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG PRILLI SUATAN

Anggota dari Mahasiswa Parahyangan Pecinta Alam. Tim Eksplorasi Penelusuran Gua Pegunungan Mengkuris, Desa Batu Lepoq, Kalimantan Timur Mahitala 2012. Bekerja di lembaga sosial untuk anak-anak di Kabu ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas