Lupa Sandi?

Sumpah Palapa, Pelecut Semangat Kemerdekaan Indonesia

Radityo Ariestya
Radityo Ariestya
0 Komentar
Sumpah Palapa, Pelecut Semangat Kemerdekaan Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang luasnya membentang dari sabang sampai merauke, di dalamnya terdapat keanekaragaman budaya, flora, serta fauna. Keanekaragaman ini sejatinya sangat sulit untuk dipertemukan, apalagi disatukan . Namun siapa sangka bahwa wilayah Indonesia pada zaman dahulu lebih luas dari yang kita ketahui selama ini. Memang pada saat itu Indonesia masih dalam kekuasaan berbagai kerajaan. Kerajaan, Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya , dan yang paling tersohor adalah Majapahit. Kerajaan majapahit berhasil menaklukan dan memperluas wilayahnya hingga semenanjung Malaya (Singapura dan Malaysia) bahkan hingga kamboja. Melihat lagi pada zaman kerajaan di nusantara, Indonesia adalah negara yang kaya dan maju, dari sisi perdagangan dan militerpun Indonesia kuat.

Namun saat itu kekayaan dan dan kekuatan militer nusantara hanya bersifat kedaerahan. Kurangnya rasa persatuan menjadi penyebab mudahnya para penjajah masuk ke negeri kita, Selama 350 tahun negeri kita dijajah oleh Belanda , ditambah 3,5 tahun dijajah oleh jepang, situasi belum kondusif hinggah proklamasi kemerdekaan kita dikumandangkan oleh presiden pertama Indonesia , Ir. Soekarno. Apa yang membuat penjajah menyerah dan mengangkat kaki dari tanah kita? apa yang membuat para pahlawan kita memiliki semangat juang yang sangat tinggi? salah satu alasanya adalah para pejuang mau menengok kejayaan negeri kita di masa lalu. Salah satunya adalah kejayaan kerajaan Majapahit.

Saat kita bicara tentang kerajaan Majapahit pasti kita juga tidak asing dengan yang namanya “Sumpah Palapa“ dan juga patih kerajaan yang sangat terkenal yaitu Gajah Mada. Sumpah Palapa adalah sumpah yang dikemukakan oleh sang patih Gajah Mada. Sumpah ini dikemukakan oleh sang patih pada saat pengangkatan jabatanya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit pada tahun 1336 sm. Sumpah Palapa tersebut berisi tentang sumpah sang patih yang tak akan menikmati Palapa (diartikan sebagai nikmat duniawi) sebelum berhasil menaklukan dan mempersatukan nusantara, nusantara adalah cikal bakal terbentuknya negara kepulauan Indonesia.

Petilasan Patih Gajah Mada
Petilasan Patih Gajah Mada

Baca Juga

Dalam kitab Pararaton dijelaskan bahwa isi sumpah Palapa sebagai berikut : “Sira Gajah Mada Pepatih Amangkubhumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada : lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, Ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”. Sumpah tersebut artinya “Gajah Mada sang Maha Patih tak akan menikmati Palapa, Gajah Mada berkata : Selama aku belum meyatukan nusantara aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik , aku tak akan menikmati palapa.

Selain itu adalah kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” yang berasal dari kitab sutasoma yang dibuat oleh mpu Tantular pada zaman kerajaan Majapahit. Bhimmeka Tunggal Ika memiliki arti berbeda beda tetapi tetap satu. Bahkan slogan Bhinneka Tunggal Ika juga menjadi bagian dalam lambing negara kita hingga saat ini.

Sumpah palapa dan rasa Bhinneka Tunggal Ika itulah yang menjadi pelecut semangat yang merasuk kedalam jiwa dan raga para pejuang kita di masa lalu, merangkul seluruh suku, ras dan agama untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara dengan penuh keberanian, semangat nasionalisme yang membara, dan juga rasa rela berkorban untuk nusa dan bangsa.

Lambang Garuda Pancasila
Lambang Garuda Pancasila

Apakah mungkin negara kita bersatu tanpa adanya para pahlawan negeri kita yang mengabaikan segala bentuk perbedaan demi kesatuan?

Mari kita jaga Bhinneka Tunggal Ika dengan saling menghargai dan bertoleransi, jangan mudah terpancing dengan segala betuk isu SARA sehingga kita menjadi terpecah belah. Karena segala budaya, agama, etnis dan suku membuat kita bersatu. Indonesiaku keren karena persatuan dalam keberagamannya, dan Indonesiaku kaya akan sejarah yang hebat .


"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RADITYO ARIESTYA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas