Lupa Sandi?

Bukan Sekedar Kopi, Ada Silaturahmi di Dalamnya

fadra sirvy
fadra sirvy
0 Komentar
Bukan Sekedar Kopi, Ada Silaturahmi di Dalamnya

Bukan Sekedar Kopi, Ada Silaturahmi di Dalamnya

Bila mendengar kata kopi hal yang terlintas adalah rasa pahitnya, kehangatannya dan penghilang rasa kantuknya. Kopi masih identik dengan pemberi ketenangannya dan dikonsumsi disaat santai. Di benua Amerika terdapat Brazil , di benua Eropa terdapat kolombia, dan untuk benua Asia juga terdapat Indonesia sebagai penghasil kopi. Di Indonesia terdapat Sulawesi sebagai penghasil kopi namun selain di Sulawesi di bagian  ujung barat Indonesia  juga terdapat Aceh sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia. Berbeda dengan Negara penghasil kota  yang lain Aceh memiliki kesan tersendiri terhadap kopi. Kopi bukan hanya dikonsumsi ketika pagi hari sebelum memulai waktu atau disajikan ketika ingin lembur dimalam hari, tetapi kopi dijadikan sajian penyambung silaturahmi.

Aceh dikenal sebagai kota serambi mekkah yang memiliki jumlah masjid yang berjumlah puluhan dimasing-masing kotanya dan sampai saat ini masyarakat juga masih ramai memenuhi masjid-mesjid tersebut untuk melakukan shalat berjamah. Ada keunikan sendiri pada  masyarakat aceh setelah melakukan shalat berjamaah. Masyarakat aceh selesai melakukan shalat berjamaah tidak langsung pulang ke rumah, biasanya mereka akan berkumpul untuk sekedar silaturahmi. Uniknya silaturahmi yang dilakukan bukan di rumah-rumah dengan sajian kue ringan dari tuan rumah melainkan silaturahmi dilakukan di warung-warung kopi sekitaran mesjid. Warung kopi yang dijadikan tempat berkumpul bukanlah warung kopi mahal dengan harga pesanan lebih dari 50.000, dengan tempat dingin ber AC atau dengan sofa yang dijadikan tempat duduk. Tempat yang tersedia yaitu kursi plastik biasa dengan kipas angin pelepas panas dan harga kopi yang berjumlah 7000 rupiah.

Kalangan yang berkumpul berasal dari berbagai kalangan mulai dari pejabat-pejabat pemerintah, direktur perusahaan, pengusaha, sampai dengan pelajar yang masih menempuh pendidikan. Dengan melepaskan segala jabatan yang ada kebiasaan silaturahmi ini sangat menyatuhkan segala segala perbedaan ini. Dengan tema pembicaraan santai dilakukan setelah melakukan ibadah wajib untuk akhirat dengan sajian khas dari tanah sendiri dan melepaskan perbedaan yang ada hal ini yang membuatkan keunikan sendiri dari tanah rencong . Kopi bukan sekedar tanaman biji-bijian sajian santai tapi saksi penyambung pembicaraan berjudul silaturahmi.

Baca Juga

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"


Sumber : 

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FADRA SIRVY

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara