Lupa Sandi?

Indonesia Hebat, Hargailah Sejarahnya!

Thurneysen Simanjuntak
Thurneysen Simanjuntak
0 Komentar
Indonesia Hebat, Hargailah Sejarahnya!

Seandainya diberikan kesempatan dilahirkan kembali, saya akan tetap memilih dilahirkan di Indonesia. Betapa tidak? Indonesia itu ternyata memiliki letak yang sangat strategis, hasil alam melimpah ruah, indahnya panorama alam, serta budaya yang beraneka ragam.

Ketika belajar sejarah di bangku sekolah, kita tentunya pernah mendengar bahwa Indonesia itu berada pada posisi silang dunia. Bahkan ketika terjadi hubungan dagang antara dunia Barat dan Timur, kawasan Indonesia menjadi satu bagian penting bagi mereka, baik sekedar untuk transit maupun untuk tinggal menetap.

Demikian halnya dengan perdagangan yang dilakukan oleh India di  nusantara, telah membawa perubahan besar-besaran bagi tatanan kehidupan di nusantara. Mulai dari aspek pemerintahan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Bukti nyata pengaruh tersebut telah melahirkan keragaman budaya di nusantara, baik karena terjadinya penetrasi budaya serta akulturasi budaya, hingga sekarang pun jejak tersebut masih bisa kita saksikan. Diantara hasil budaya itu, misalnya keberadaan Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Mendut, dan yang lainnya.

Kita juga tidak dapat menyangkal, bahwa kehadiran bangsa-bangsa Barat ke Indonesia, awalnya tidak lepas dari kekaguman dan kebutuhan mereka akan hasil alam negeri kita. Salah satu kebutuhan tersebut adalah rempah-rempah. Mereka bermaksud ingin membeli rempah-rempah di negeri kita dan memperdagangkannya kembali. Bahkan kegiatan tersebut pun berujung pada praktik kolonialisme dan imperialisme.

Sejarah mencatat, bahwa Indonesia itu memang hebat! Bangsa asing pun silih berganti datang ke negeri ini, itu karena ada sesuatu yang luar biasa di negeri ini. Masih ragukah kita?

Tidak lupa ingatanku akan cerita guru sejarahku, bahwa ketika Inggris menjajah Indonesia dibawah pemerintahan Gubenur Jenderal Raffles (1811-1816), semasa kekuasaannya ia sempat menulis sejarah Jawa atau yang kita kenal dengan History of Java. Kenapa kira-kira Raffles menulisnya? Itu tentu karena hebatnya budaya kita, sehingga sekelas Raffles pun masih mau peduli dengan hal-hal yang demikian. Bagaimana dengan kita? Lupakah kita akan budaya dan sejarah kita itu?

Bukan itu saja yang kubanggakan dari negeri ini, tetapi saya bangga dengan kehebatan pejuang bangsa. Pejuang bangsa ternyata gagah berani untuk mengusir penjajah, tidak takut dirinya akan korban oleh kekejaman penjajah. Dalam misinya seolah berkata, bahwa bangsa asing harus segera terusir dari negeri ini, kalau tidak anak-cucu mereka serta generasi bangsa ini akan turut menderita di negeri yang hasil alamnya melimpah tapi tak sedikit pun mereka bisa menikmatinya. Untuk itu kuucapkan termikasih untukmu, Sultan Agung, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Hasanuddin, Teuku Umur, Diponegoro, Tjut Nyak Dien, Pattimura, Sultan Baabullah, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Aku bangga juga dengan pemuda-pemuda yang terpelajar, yang telah merubah perjuangan dari perjuangan promordialis menjadi perjuangan yang bersifat nasionalis, yang kemudian berujung apa perjuangan dengan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Kalau bukan karena Sutomo, Wahidin Sudiro Husodo, HOS Tjokroaminoto, Suwardi Suryaningrat, Drs. M.Hatta, Ir. Soekarno, serta pemuda-pemuda lainnya, bagiamanakah keberadaan negara kebangsaan kita?

Saat ini kita hidup bukan di era perjuangan kemerdekaan, kita sudah merdeka bung! Bahkan saat ini sudah di era reformasi, era kebebasan HAM dan demokrasi. Teknologinya super canggih, tidak seperti era dulu. Lupakah kita bahwa dibalik semua itu ada orang-orang hebat? Orang hebat itu adalah para pejuang yang mengorbankan diri mereka untuk ketenangan hidup kita saat ini.

Ir. Soekarno berkata, “Jasmerah”, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Salam.

Sumber :

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THURNEYSEN SIMANJUNTAK

Aku mengajar untuk belajar, aku belajar untuk mengajar. Aku membaca untuk menulis, aku menulis untuk membaca. Aku mengajar, belajar, membaca dan menulis, maka aku bermakna. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata