Sejak zaman dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Hal ini tercermin dari semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Keberagaman yang ada terdiri atas keragaman suku bangsa, budaya, agama, ras, dan bahasa. Keragaman tersebut juga datang dari jenis olahraga yang ada di setiap daerah di Indonesia. Masing-masing daerah mempunyai keragaman olahraga tradisional yang mereka pahami dan lakukan demi keberlangsungan proses sosialisasi. Banyak ragam suku dan budaya yang mempunyai jalur olahraganya sendiri, namun berbeda dengan "jalur" yang berasal dari Negeri Bertuah tepatnya di Provinsi Riau ini yang adalah perahu kayu. Awalnya adalah sebuah alat transportasi yang di gunakan masyarakat untuk menyeberangi sungai dan kebutuhan perjalanan lainnya melalui jalur air hingga menjadi salah satu olahraga terkenal sampai menjadi kompetisi nasional yang berlangsung setiap tahunnya.

Peta Provinsi Riau dan Letak Kabupaten Kuantan Singingi
Peta Provinsi Riau dan letak Kabupaten Kuantan Singingi © peta-kota.blogspot.co.id

Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi biasa disebut "Kota Jalur" yang menjadi pelopor utama dari keberadaan perahu yang terbuat dari jenis kayu banio, kulim, atau kuyiang dengan panjang sekitar 20-30 meter dan lebar 1,5 meter. Dilihat dari bentuk dan tekstur, kayu ini sangat kokoh dan tahan terhadap air. Terdapat ukiran-ukiran seperti kepala ular, harimau maupun buaya pada bagian haluan dan kemudi. Juga di bagian sisi kiri dan kanan perahu terdapat lukisan dengan motif kaluak paku (pakis), tales (keladi), ular naga, burung layang dan lainnya. Ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Menariknya adalah perahu yang biasa disebut perahu godang ini mampu mengangkut beban hingga mencapai satu ton.

Arena Pusat Pacu Jalur © Brian Malau
Arena Pusat Pacu Jalur © Brian Malau

Pacu Jalur di Kuantan Singingi diadakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Diadakan di sungai Batang Kuantan yang adalah sungai Peserta Pacu Jalur bisa dari mana saja dan tidak menutup kemungkinan daerah diluar kabupaten bahkan Provinsi Riau ikut berpartisipasi dalam perhelatan akbar tahunan ini. Bahkan beberapa kali negara tetangga terdekat seperti Malaysia dan Singapura pun ikut menyumbangkan "jalur" kepada pemuda daerah di Kuantan Singingi.

Pemerintah Daerah dalam Pembukaan Perlombaan Pacu Jalur
Pemerintah Daerah dalam Pembukaan Perlombaan Pacu Jalur © Brian Malau

Perlombaan Pacu Jalur memakai penilaian sistem gugur. Berisikan 45-60 orang pendayung (anak pacu) berlomba mengayuh perahunya sepanjang 1 kilometer hingga mencapai garis akhir sehingga peserta yang kalah tidak boleh turut bermain kembali. Sedangkan para pemenangnya akan diadu kembali untuk mendapatkan pemenang utama.  Terdapat banyak keunikan dair perlombaan ini, yaitu pada setiap Jalur yang ada terlihat anak kecil berumur 12-15 tahun sedang menari dengan pakaian khas lengkap dengan aksesorisnya dan perlombaan meriah ini dimulai dengan tanda yang cukup unik juga, yaitu dengan membunyikan meriam sebanyak tiga kali.

Pada dentuman pertama jalur-jalur yang telah ditentukan urutannya akan berjejer di garis start dengan anggota setiap regu telah berada di dalam jalur. Pada dentuman kedua, mereka akan berada dalam posisi siap (berjaga-jaga) untuk mengayuh dayung. Setelah wasit membunyikan meriam untuk yang ketiga kalinya, maka setiap regu akan bergegas mendayung melalui jalur lintasan yang telah ditentukan. Meriam ini digunakan karena bila memakai peluit, suara peluit tidak akan terdengar oleh peserta lomba. Karena luasnya arena pacu dan riuh penonton yang menyaksikan perlombaan. 

Keindahan Seni dan Budaya Terlukis Pada
Keindahan Seni dan Budaya terlukis pada "Jalur" peserta lomba © Brian Malau

Dapat digambarkan saat hari berlangsungnya Pacu Jalur, "Kota Jalur" bagaikan lautan manusia. Terjadi kemacetan lalu lintas dimana-mana, dan masyarakat yang ada diperantauan akan terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan acara ini. Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari 100 jalur dari berbagai tempat. Selain sebagai acara olahraga yang banyak menyedot perhatian masyarakat, Pacu Jalur juga mempunyai daya tarik magis tersendiri. Festival Pacu Jalur dalam wujudnya memang merupakan hasil budaya dan karya seni khas yang merupakan perpaduan antara unsur olahraga, seni, dan olah batin. Selain perlombaan, dalam pesta rakyat ini juga terdapat rangkaian tontonan lainnya, di antaranya Pekan Raya, pertunjukan sanggar tari, pementasan lagu daerah, randai Kuantan Singingi, dan pementasan kesenian tradisional lainnya dari kabupaten atau kota di Provinsi Riau.

Antusias dari berbagai golongan masyarakat ikut memeriahkan acara Pacu Jalur © Brian Malau
Antusias dari berbagai golongan masyarakat ikut memeriahkan acara Pacu Jalur © Brian Malau

Keragaman yang terdapat di Kota Jalur ini adalah bukti sederhana dari salah satu nilai-nilai budaya yang terdapat pada olahraga daerah yang disebut "pacu jalur". Nilai budaya ini adalah modal daerah dalam pengembangan dan kesatuan masyarakat lokal maupun nasional dan bahkan bisa menggapai dunia internasional. Maka, kita sebagai masyarakat Indonesia yang beragam ini harus siap dan mampu untuk menjaga agar keberagaman itu bukan sebagai perbedaan yang memecahkan tapi sebagai pelengkap kebersamaan.
Sumber :

http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2631/jalur-perahu-tradisional-masyarakat-kuantan-singingi-riau (diakses pada tanggal 30 Januari 2017, Pukul 12.30)

https://id.wikipedia.org/wiki/Pacu_Jalur  (diakses pada tanggal 30 Januari 2017, Pukul 12.30)

Foto : Hasil pengambilan gambar oleh penulis pada Acara Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2016

http://peta-kota.blogspot.co.id/2011/06/peta-provinsi-riau.html (diakses pada tanggal 30 Januari 2017, Pukul13.00)

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu