Lupa Sandi?

Anak Pengungsi Itu Kembali untuk Mengabdi

Erlin Sitinjak
Erlin Sitinjak
0 Komentar
Anak Pengungsi Itu Kembali untuk Mengabdi

"Saya lahir dan besar di Dili, Timor Leste. Tapi karena perang saudara pada 1999, saya terpaksa ikut keluarga saya mengungsi ke Atambua, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Usia saya saat itu baru 9 tahun. Namun, saya sudah harus merasakan kerasnya kehidupan sebagai pengungsi.

Saya dan keluarga saya selalu dipandang sebelah mata dan diperlakukan berbeda. Hal itu membuat saya marah. Namun, keluarga saya selalu mengingatkan saya untuk bersabar dan berusaha agar tak lagi dipandang sebelah mata. Sebagai pelampiasan emosi saya, saya semakin giat belajar sampai saya mendapat predikat sebagai siswa terbaik sekabupaten."

Pernyataan di atas adalah kutipan percakapan saya dengan Marselinus Ulu Fahik, seorang pemuda yang baru saja menamatkan pendidikan pascasarjananya dari University of Melbourne, Australia. Berbekal gelar Master of Science in Mathematics, ia kembali ke tanah air untuk mengabdikan ilmu dan pengetahuannya.

Mengawali pengabdiannya, Seluz, begitu ia akrab dipanggil, bergabung dan menjadi fasilitator dalam program Berburu Beasiswa a la FAN (Forum Akademia NTT). Setiap pekan, ia bertemu dengan anak-anak muda yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri dengan bantuan beasiswa dari berbagai institusi.

Baca Juga

Menyadari bahwa sebagian besar anak muda yang ditemuinya mengalami kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, Seluz pun menggagas kelas bahasa Inggris. Let's Talk - begitu ia mengundang mereka dalam percakapan ringan dengan bahasa Inggris sambil menikmati secangkir kopi atau minuman lainnya.

Selain itu, untuk perubahan dalam skala yang lebih luas, Seluz juga aktif sebagai sukarelawan dalam proyek penelitian bersama IRGSC ( Institute of Resource Governance and Social Change).

"Kenapa repot-repot melakukan semua itu? Bukankah dulu kamu pernah marah karena dipandang sebelah mata dan diperlakukan berbeda? Kenapa tak jadikan momen ini untuk balas dendam saja?"

"Ah! Itu masa lalu. Keluarga dan pendidikan yang saya dapat membuat saya mengerti bahwa pada dasarnya mereka adalah orang baik. Mereka bersikap demikian karena pengetahuan mereka yang masih terbatas tak memberi mereka pilihan, kecuali ikut-ikutan orang-orang di sekitar mereka. Itulah sebabnya saya kembali. Saya ingin menjadikan mereka lebih baik," jawab Seluz bijaksana.

Usia Seluz mungkin masih belia. Namun,di usianya yang masih sangat belia, ia sudah menjadi pembawa kabar baik dari dan untuk Indonesia. Dari Indonesia, Seluz sudah membawa citra anak bangsa yang terbukti bisa duduk sejajar dan bertukar pikiran dengan pelajar yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Untuk Indonesia, ia kembali tak hanya dengan membawa gelar, tapi juga peran aktif dan kontribusi positif yang menjadikan komunitasnya lebih baik.

Kabar baik lainnya, Seluz tak seorang diri. Setiap tahunnya, ratusan bahkan mungkin ribuan anak bangsa pergi dan menjadi 'pengungsi' di luar negeri sebelum kembali dan mengabdi pada ibu pertiwi.

Sebut saja Ikatan Alumni Prancis Indonesia, Ikatan Alumni Nederland Indonesia, Ikatan Alumni Mahasiswa Australia, Ikatan Alumni Vietnam Indonesia, Ikatan Alumni Suriah Indonesia, dan ikatan alumni lainnya - semua aktif membangun dan memantau kemajuan Indonesia sembari menjembatani komunikasi dengan negara tempat mereka pernah belajar. Mereka adalah duta bangsa yang membawa harum nama Indonesia dan dampak positif lainnya.

"Bagi saya, pengungsi adalah sekelompok manusia yang karena alasan tertentu, seperti kondisi ekonomi, kebijakan politik dan perang saudara, terpaksa meninggalkan rumah, kampung halaman, daerah, atau negara mereka. Tak ada yang bercita-cita jadi pengungsi. Tak seorang pun. Jadi, kita perlu memahami dan memperlakukan mereka dengan baik," pesan Seluz sederhana saja.

Namun bagi Seluz, pesan sesederhana itu terlalu jauh dari cukup. Baginya, jika benar-benar ingin mengubah paradigma seseorang atau sekelompok orang, ia harus datang menghampiri mereka dan memberi contoh nyata. Bagi Seluz, untuk menjadikan komunitasnya lebih baik, ia harus kembali dan memberi contoh yang juga lebih baik.

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"


Sumber : wawancara khusus dengan Marselinus Ulu Fahik

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang1%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau4%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ERLIN SITINJAK

Perempuan penikmat alunan musik instrumental, film dan buku berkualitas. Suka bertualang dan ingin menghabiskan sisa hidup untuk menulis dan berbagi cerita. Saat ini sedang menempuh pendidikan pascasa ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie