Lupa Sandi?

Archandra Tahar: Permata Indonesia yang Tak Lupa akan Kulitnya

Glory Lamria
Glory Lamria
0 Komentar
Archandra Tahar: Permata Indonesia yang Tak Lupa akan Kulitnya

"Pada dasarnya dalam menerima teknologi baru adalah ada kemauan dulu, kemauan untuk menerima kabar baik, teknologi baru yang baik. Kita harus memiliki kesepahaman bahwa kita butuh teknologi baru untuk mengeskplor minyak di laut Indonesia." - Archandra Tahar

19 tahun di luar negeri adalah waktu yang tak singkat bagi Pak Archandra Tahar mengarungi lika-liku dunia Energi. Sepak terjangnya di dunia kemigasan tak perlu diragukan lagi. Dimulai dari bekerja sebagai Asisten Peneliti Offshore Technology Research Center (1997–2001) , melanjutkan studi master di bidang teknik kelautan di Texas A&M University, hingga mencapai pucuk tertinggi sebagai Presiden Direktur Petroneering Houston, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi dan minyak di Texas.

Kiprahnya di luar negeri begitu melesat. Archandra juga tercatat sebagai pemilik tiga hak paten yang berkaitan dengan offshore, salah satunya adalah teknologi McT (Multi Column TLP) Floating Platform yang kini digunakan oleh Pertamina di L-Parigi, Cimalaya, Karawang. Tak hanya memiliki segudang prestasi dan kontribusi di bidang perminyakan, ternyata doktor yang satu ini juga dikenal sebagai sosok muslim yang taat. Ia aktif dalam dunia dakwah dan pendidikan keagamaan. Bahkan, di tengah aktivitasnya yang padat, Archandra masih secara rutin mengajar ngaji. Pemikirannya yang brilian ditambah kepribadianya yang rendah hati membuat Bapak President Jokowi, tertarik untuk memanggilnya kembali pulang, membangun negerinya.

Kini, Archandra kembali ke Indonesia untuk mengemban jabatannya sebagai wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Lepas dari berbagai kontroversi yang menyelimuti kedatangannya ke Indonesia, kedatangannya membawa angin baik terhadap wajah kementerian ESDM, salah satu pos yang paling krusial di kementerian dengan sejumlah kerumitan yang sudah ada.

Baca Juga

Salah satu poin penting yang beliau katakan adalah pengembangan teknologi offshore (teknologi pengambilan minyak dari dasar laut), namun tentunya hal itu menjadi dilema padahal Indonesia masih merupakan negara pengimpor minyak. Ditanya mengenai hal tersebut beliau balik menjawab,

"Pertanyaannya adalah kenapa kita jadi net importer? karena kita tidak bisa memenuhi kebutuhan minyak kita perhari. Dalam sehari kita butuh 1.4 juta barrel/hari, sementara kita hanya bisa produksi sekitar 780.000 barrel/hari. Sisanya itu bagaimana kita mencukupinya? Untuk mendapatkan produksi minyak di Indonesia, sekarang ini lapangan yang ada di darat yang kandungan minyaknya cukup besar sudah hampir tidak ada, tinggal tersisa sedikit saja. Cadangan minyak yang lainnya selain di darat dimana? Adanya dilaut. Jika kita bicara teknologi di laut ada teknologi yang untuk kondisinya tidak bisa pakai teknologi yang biasa untuk mengambil minyak tersebut. Itulah sebabnya kita membutuhkan teknologi yang baru. Dengan teknologi yang baru minyak yang dulunya tidak bisa diambil dengan teknologi biasa karena tidak ekonomis jadi bisa diambil sehingga bisa ekonomis. Teknologi baru yang tadinya 1 platform untuk 1 lapangan menjadi 1 platform untuk 4 lapangan, sehingga tentu bisa lebih ekonomis."

Ditanya terkait patennya Pak Archandra Tahar dengan rendah hati menjawab :

"Jika berbicara tentang paten, semua orang bisa punya paten. Tidak ada yang spesial dengan memiliki paten. Jika ditanya apa bisa paten diaplikasikan disini, jawabannya tentu bisa. Sekarang permasalahannya tergantung semangat kita untuk membangun industri minyak. Apakah kita siap untuk menerima teknologi baru. Teknologi baru yang ada memiliki resiko, jika kita menggunakan teknologi lama resikonya mungkin tidak sebesar teknologi baru, Tapi apakah itu ekonomis. Belum tentu. Sekarang ada harapan teknologi baru, tapi ada resiko, jika gagal tentu risikonya investasi yang ditanamkan akan hilang. Di Eropa maupun Amerika, jika ada teknologi baru, mereka pakai dan mereka hitung resikonya, jadi permasalahan yang ada adalah kita harus menghitung resiko apapun yang kita lakukan, dalam kasus ini teknologi baru untuk offshore. Pada dasarnya dalam menerima teknologi baru adalah ada kemauan dulu, kemauan untuk menerima kabar baik, teknologi baru yang baik. Kita harus memiliki kesepahaman bahwa kita butuh teknologi baru untuk mengeskplor minyak di laut Indonesia."

Beliau juga berpesan, kewajiban untuk setiap orang adalah berusaha. Apakah dengan berusaha belajar di dalam negeri atau di luar negeri berusahalah yang terbaik. Lakukan yang terbaik, kebutuhan masing-masing orang tentu berbeda. Tidak harus mengikuti jejak beliau yang berkiprah di luar negeri. Namun, ketika negara sudah memanggil kita untuk pulang, maka kembalilah untuk negeri ini.

Orang-orang pintar yang sekolah di luar negeri suatu saat semestinya kembali pulang membangun Indonesia. Sikap yang dicontohkan oleh Pak Archandra Tahar selayaknya menjadi contoh bagi setiap putera-puteri Indonesia di manapun berada untuk tidak melupakan tanah airnya, terlebih ketika negara sudah memanggil.

Sumber : Wawancara langsung penulis dengan Bapak Archandra Tahar dalam kunjungannya sebagai dosen tamu untuk topik Teknologi Minyak dan Energi di Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI"

Indonesiaku Keren!

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG GLORY LAMRIA

Seseorang yang menyukai dunia menulis, komunikasi massa, dan engineering ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie